RSS

Arsip Harian: 4 April 2014

Outbound Management Training

Latar Belakang

Organisasi merupakan satu wadah untuk mencapai tujuan bersama. Melalui organisasi tujuan bersama akan lebih mudah tercapai. Dewasa ini tidak ada lembaga bersama yang bisa keluar dari proses manajemen organisasi, contoh nyata adalah perusahaan. Perusahaan baik skala kecil, menengah maupun tinggi termasuk dalam bentuk organisasi, oleh karena itu proses manajemen perusahaan tidak jauh berbeda dengan proses manajemen suatu organisasi, karena pada dasarnya perusahaan itu sendiri merupakan satu organisasi.

Untuk mampu mencapai tujuan organisasi, pihak manajemen harus mampu memberdayakan semua sumber daya yang dimiliki oleh organisasi. Sumber daya organisasi atau perusahaan bisa terdiri dari sumber daya alam, materil, maupun biaya. Namun dari sekian sumber daya yang dimiliki oleh organisasi, manusia merupakan sumber daya yang paling berharga dan aset yang tak ternilai harganya. Manusia menjadi aset utama organisasi dikarenakan manusia merupakan pemeran utama organisasi. Tanpa adanya manusia, organisasi tidak akan berjalan lancar. Manusia merupakan perencana, pelaksana, sekaligus penilai kinerja utama organisasi. Sehingga keberadaan manusia dalam organisasi harus mendapatkan poin utama dalam organisasi.

Melihat peran manusia yang sangat penting dalam organisasi, pengelolaan sumber daya manusia yang efektif dan efisien sangat dibutuhkan dalam organisasi. Manajemen sumber daya manusia (MSDM) dewasa ini menjadi sentral dalam satu perusahaan, bahkan perusahaan selalu memiliki divisi tersendiri untuk menangani sumber daya manusia. Divisi Human Resources Develeopment (HRD) atau bagian kepegawaian merupakan bagian penting dalam organisasi. Proses MSDM sendiri meliputi perencanaan kebutuhan pegawai, perekrutan dan penerimaan pegawai baru, penempatan pegawai, pembinaan pegawai, pemberian upah atau kompensasai, sampai pada pemberhentian pegawai merupakan serangkaian kegiatan maanjemen sumber daya manusia yang tidak bisa terlepaskan dari satu organisasi atau perusahaan. Seluruh rangkaian MSDM ini bertujuan untuk tercapainya tujuan organisasi secara efektif dan efisien, untuk perusahaan bisa tercapainya produktivitas perusahaan dengan optimal.

Salah satu tahapan penting dalam manajemen sumber daya manusia adalah pembinaan SDM. Pembinaan SDM merupakan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki organisasi untuk meningkatkan kinerja yang akan berpengaruh terhadap produktivitas organisasi. Proses pembinaan SDM bisa berbeda antara satu organisasi dengan organisasi lainnya. Hal ini tentunya berdasarkan pada jenis organisasi dan tujuan organisasi yang bersangkutan. Namun pada initinya setiap perusahaan mengadakan pembinaan terhadap SDM bertujuan untuk meningkatkan kompetensi SDM yang dimiliki.

Pembinaan SDM yang sering dan pasti dilakukan oleh perusahaan adalah pendidikan dan pelatihan. Bentuk pembinaan ini rutin dilakukan oleh perusahaan. Hal ini dikarenakan melalui pendidikan dan pelatihan, perusahaan mampu mentransfer apa yang diinginkan. Sebagai contoh nyata perusahaan selalu mengadakan pelatihan untuk pegawai baru dalam rangka pengenalan perusahaan dan kompetensi utama yang harus dimiliki oleh pegawai barunya. Pendidikan dan pelatihan juga bisa dilaksanakan sebagai media sosialisasi kebijakan baru atau tata kerja baru. Bahkan bagi perusahaan tertentu keikutsertaan pegawai dalam diklat menjadi salah satu syarat bagi seseorang untuk naik pangkat atau dipromosikan.

Menurut Sudjana (2003:9) ada beberapa faktor yang mendorong perkembangan pelatihan diantaranya adalah pertama, keharusan pengembangan sumber daya manusia amat erta kaitannya dengan penyelenggaraan pelatihan. Kedua, pelatihan yang merupakan satuan pendidikan nonformal dalam sistem pendidikan nasional menjadi wahana penting dalam upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk membina serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ketiga, lahirnya peraturan perundang-undangan bagi lembaga-lembaga pemerintah untuk menyelenggarakan pelatihan. Oleh karena itu, program pelatihan bagi suatu organisasi itu sangat penting.

Melihat pentingnya posisi diklat dalam satu organisasi, maka diklat harus dikelola secara profesional dan juga teratur. Hal ini akan berpengaruh terhadap hasil diklat itu sendiri. Pihak perusahaan banyak berfikir tentang design diklat yang bagus, dan efektif, bahkan saat ini tidak sedikit perusahaan yang melirik model diklat yang menyenangkan bagi pesertanya. Oleh karena itu, diklat dalam perusahaan terkadang dilaksanakan didalam ruangan, terkadang juga dilaksanakan di luar ruanganbahkan diluar lingkungan perusahaan seperti mengadakan tour atau gathering karyawan. Baik pelatihan indoor maupun outdoor, keduanya bertujuan untuk meningkatkan kinerja pegawai.

 Salah satu bentuk pelatihan outdoor adalah outbound. Kegiatan ini menjadi pilihan menarik bagi perusahaan dikarenakan model ini menyenangkan peserta diklat dan peserta tidak akan jenuh dengan kegiatan-kegiatan yang diikuti. Kegiatan ini biasanya dipilih organisasi dalam rangkaian acara diluar lingkungan perusahaan. Kegiatan outbound selain memberikan pemahaman tentang kerja sama, keuletan, saling percaya, toleransi, diharapkan akan memberikan pengaruh yang positif dalam pelaksanaan pekerjaan. Sehingga kegiatan outbound menjadi trend tersendiri dalam proses pelatihan SDM organisasi.

Namun kondisi saat ini kegiatan outbound bukan saja ditujukan sebagai alat pengembangan kompetensi pegawai atau anggota organisasi, kegiatan outbound, fun game, ice breaking sudah menjadi bagian dari wisata keluarga atau individu. Sehingga yang berkembang di masyarakat satu permaianan yang menggunakan alat keselamatan atau permaianan yang mengasah konsentrasi saja bisa dikatakan outbound. Flying fox, jembatan elfis, jaring laba-laba, permaiann ini sudah identik dengan kegiatan outbound, sehingga salah satu permainan saja yang diikuti masyarakat sudah mengatakannya sebagai kegiatan outbound. Pemahaman masyarakat ini memang keliru, karena pada dasarnya kegiatan outbound bukan saja permainan semata, tapi juga mengandung makna yang harus tersampaikan kepada peserta.

Kesalahpahaman masyarakat ini disebabkan oleh semakin maraknya penyelenggara kegiatan atau permaianan yang mengatasnamakan kegiatan outbound. Sebagai contoh disetiap acara hiburan masyarakat atau acara mingguan ada yang menyelenggarakan flying fox atau salah satu alat permaianan outbound, maka masayarakat mengetahui dan memahami outbound itu hanya sekedar permainan. Oleh karena itu, perusahaan atau event organizer yang menyelenggarakan outbound harus benar-benar memahami makna dari outbound sehingga bisa memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat.

Model pelatihan outbound memerlukan keterampilan tersendiri dalam pengelolaannya. Manajemen pelatihan harus benar-benar diterapkan dalam kegiatan outbound, sehingga tujuan dari pelatihan outbound yang sesunguhnya bisa tercapai secra efektif dan efisien. Para pengelola kegiatan outbound harus mampu menerapkan konsep manajemen pelatihan dalam kegiatan outbound sehingga peserta pelatihan bisa benar-benar merasakan manfaat dari kegiatan yang diselenggarakan dan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan tidak menjadi sia-sia. Perlu adanya pemahaaman yang benar tentang model pelatihan outbound dalam masyarakat, sehingga outbound tidak dipandang sebagai kegiatan permaianan saja, namun juga syarat dengan makna yang harus tersampaikan kepada peserta.

Penyusun melihat realita diatas, pentingnya kegiatan outbound dan juga terjadinya pemahaman yang kurang tepat dari masyarakat tentang outbound, kami bermaksud untuk menyusun sebuah makalah yang mengupas tentang manajemen pelatihan outbound. Sehingga melalui tulisan ini sedikitnya memberikan gambaran tentang kegiatan outbound dan juga pengelolaannya supaya tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami kegiatan outbound.

Konsep Dasar Outbond

Dirunut dari sejarahnya, outbound yang dilaksanakan di alam terbuka dapat membuat peserta melupakan kepenatan dan ketegangan dari aktivitas dan rutinitas keseharianya, sehingga setelah melaksanakan outbound training peserta dapat lebih segar kembali dalam aktivitasnya. Pelatihan outbound pun dapat meningkatkan rasa kebersamaan dalam lingkup team outbound training maupun masyarakat. Dan juga mampu  menggali potensi peserta agar dapat mengembangkan kemampuan pribadinya melalui tantangan-tantangan mental dan fisik saat outbound, sehingga selalu lebih siap untuk menghadapi  tantangan pekerjaan atau karir.

Kata Outbound (di Indonesia) awalnya berasal dari Negara Inggris yang merupakan nama sebuah program, “Outward Bound School”. Outward Bound adalah ide pendidikan inovatif yang dikreasikan oleh Kurt Hahn yang telah bertahan dan berkembang selama lebih dari enam puluh tahun. Fakta Ini dapat dikatakan luar biasa karena begitu banyak metode pendidikan yang muncul dan tenggelam selama periode ini.

Penemu metode outward bound atau lebih dikenal outbound training adalah Kurt Hahn telah meninggal pada tahun 1974 tetapi pengaruhnya dalam Outward Bound dan inisiatif pendidikan lainnya masih hidup hingga saat ini. Beliau lebih menekankan tercapainya tujuan daripada melatih fokus, dengan menggunakan cara yg sangat fleksibel, beragam dan sangat adaptatif. Begitu pula dengan metode Outbound Training, dengan programnya yang boleh dikatakan “tidak lazim”.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal sesuai tujuan outbound, berikut beberapa materi wajib yang selayaknya ada dalam setiap kegiatan outbound.

  1. Ice Breaking

Saat pertamakali acara dimulai, bisa dipastikan hampir seluruh peserta dalam keadaan tegang. Oleh karena itu perlu sebuah tahapan untuk memecahkan suasana yang kaku, sesi ini dilakukan dengan saling sapa dan berkenalan satu dengan yang lain sehingga peserta bisa lebih akrab.

  1. Komunikasi

Pada materi ini peserta dikondisikan dalam sesi permainan yang menarik dan tidak membosankan. Sehingga komunikasi antar anggota team bisa terbentuk dan tercipta rasa saling percaya terhadap rekannya.

  1. Team Buliding

Materi outbound ini mengkondisikan peserta dalam permainan team. Sehingga akan tercipta saling mendukung dan kerjasama. Pentingnya komunikasi dan membangun suatu tim yang kompak adalah tujuan dari materi ini.

  1. Penyelesaian Masalah

Peserta training outbound mampu mengenali masalah yang ada serta cara penyelesaiannya, peserta disuguhi materi tentang memilih informasi yang relevan dan membuat analisis serta keputusan untuk menemukan sebab timbulnya persoalan secara lebih terarah.

  1. Game Kompetisi

Pada materi ini peserta diharap mengatur strategi dan mengoptimalkan segala kemampuan baik individu maupun kemampuan kelompok.

Dewasa ini, tidak hanya perusahaan atau organisasi kecil saja yang melakukan kegiatan outbound Training. Perusahaan yang sangat maju pun sangat memerlukan kegiatan outbound. Hal ini mengidentifikasikan bahwa outbound training sangat dibutuhkan untuk dilakukan dengan beberapa program dan tujuan tertentu. Sehingga outbound training sangat cocok untuk dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja.

Kebutuhan masyarakat kita terhadap outbound training sangat luar biasa. Hal ini bisa kita lihat dengan banyaknya pamphlet, reklame, atau beberapa website yang disebarkan oleh beberapa lembaga atau instansi yang menawarkan jasa  outbound training. Disamping itu, kita juga dapat melihat media-media yang menyiarkan kegiatan outbound training.  Hal ini telah menjadikan tesis, betapa outbound training itu telah diminati oleh banyak kalangan. Oleh karena itu, kegiatan outbound training sangat kita butuhkan untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri kita.

Hal penting yang paling menarik adalah permainan pembelajaran outbound training selalu ditampilkan dalam bentuk permainan yang penuh makna. Dalam permainan skills, individu tidak hanya ditantang berfikir cerdas, namun juga harus memiliki kepekaan social.  Dalam kegiatan outbound training, individu dituntut mengembangkan kemampuan ESQ (emotional Spiritual Qoutient) nya dibanding  IQ (Intellegent Qoutient) nya. Metode outbound training memungkinkan peserta bersentuhan fisik dengan latar alam terbuka sebagai medianya. Dari sini, diharapkan, lahirlah kemampuan dan watak serta visi kepemimpinannya yang mengandung nilai-nilai kejujuran, keterbukaan, kepekaan, toleransi, kecerdasan, serta rasa kebersamaan dalam membangun hubungan antar manusia yang serasi dan dinamis.  Jika kita tertarik untuk mendapatkan itu semua, tentu penyelenggaraan outbound sangat lah kita butuhkan.

Outbound akan selalu melahirkan pengalaman baru yang akan membentuk perkembangan kita dari tatanan yang biasa menuju tatanan yang luar biasa dahsyat. Bagi perusahaan yang baru berdiri, atau mereka yang baru membentuk team work, kebutuhan akan outbound training sangat vital adanya. Kehadiran outbound diharapkan bisa memberikan pelajaran bagi mereka yang baru menggeluti dunia baru.

Perencanaan Pelatihan Outbound

Program pelatihan dan pengembangan yang dilakukan di luar ruangan atau biasa disebut outbound, hanya akan efektif apabila dilaksanakan dengan baik. Outdoor training bisa menjadi bahan yang ampuh untuk pengembangan SDM, asalkan dikerjakan dengan benar, yakni berisi rangkaian program-program yang bagus.

Kompetisi seseorang bisa ditingkatkan melalui pengembangan pengetahuan, skill, dan sikap/karakter yang bersangkutan. Outbound training bertujuan menggali dan meningkatkan skill dan karakter individu. Untuk hasil yang maksimal, kegiatan outbound idealnya dilaksanakan minimal 3 hari, fasilitas outbound harus memadai dan dipandu oleh instruktur yang berpengalaman. Dan yang terpenting, program outbound harus focus pada hasil, bukan pada aktivitasnya itu sendiri.

Untuk itu, sebelum melakukan kegiatan outbound, terlebih dahulu harus dirancang dan dipersiapkan dengan baik segala macam hal yang dapat menunjang keberhasilan tersebut.  Secara umum ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk menuju kegiatan outbound yang efektif sesuai dengan yang diharapkan.

1)      Menetapkan target/tujuan

Untuk apa kegiatan outbound dilaksanakan? Setiap kegiatan pasti memiliki tujuan dan target yang ingin dicapai. Untuk mengasah kebersamaan (team building)? Memompa semangat berprestasi (achievment motivation)? Kepemimpinan (leadership)? Atau untuk tujuan yang lain?

Penetapan tujuan dan target ini penting untuk mendesain setting  kegiatan yang akan dilaksanakan, meliputi pemilihan lokasi, merumuskan materi, dan jenis-jenis materi yang dilaksanakan dalam outbound tersebut.

2)      Menentukan lokasi kegiatan.

Setelah tujuan atau target kegiatan telah ditentukan, maka setelah itu adalah menentukan tempat/lokasi kegiatan outbound. Adakalanya kegiatan outbound dilakukan hanya sebagai pelengkap atau variasi dari kegiatan dalam ruangan (indoor). Bila itu yang terjadi, maka pilihlah gedung atau aula yang memiliki halaman yang luas, atau dekat tanah lapang yang bisa dijadikan arena outbound atau permainan games.

3)      Menyiapkan alat yang diperlukan.

Agar kegiatan outbound berjalan dengan baik, segala keperluan menyangkut peralatan yang dibutuhkan harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Untuk kegiatan fun outbound biasanya tidak memerlukan peralatan-peralatan yang rumit.

4)      Menyiapkan tim instruktur.

Tim instruktur bisa jadi merupakan kunci keberhasilan kegiatan outbound training.  Entah itu real outbound (high maupun middle impact) maupun hanya bersifat fun games. Instruktur harus orang yang berpengalaman di bidangnya, terutama outbound yang beresiko tinggi, sehingga outbound bisa menjadi aman dan nyaman.

Seorang fasilitator dan instruktur outbound  yang professional setidaknya harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  • Memiliki kompeten dalam bidang ilmu manajemen, ilmu psikologi dan dinamika kelompok.

Tanpa memiliki kompetensi yang memadai seringkali kegiatan outbound hanya menjadi penderitaan fisik karena tidak jelas hubungan antara aktivitas fisik dengan ilmu manajemen dan perilaku yang harus dimiliki dalam kegiatan bisnis dalam era perubahan yang sangat cepat.

  • Memahami rancangan permainan untuk mengungkap prilaku manajemen

Kegiatan dalam outbound training manajemen baru akan bermakna bagi pembentukan perilaku yang menunjang sukses bisnis bila kegiatan dirancang untuk mensimulasi perilaku organisasi yang sebenarnya. Oleh karena itu, seorang fasilitator harus terlibat dalam perancangan kegiatan pelatihan outbound training. Dia harus mengetahui permainan outbound apa yang akan dimainkan, dan apa makna manajemen dari permainan tersebut.

  • Memiliki kemampuan observasi dan kemampuan komunikasi yang baik

Observasi adalah bagian penting dari kegiatan outbound training. Kemampuan mengamati perilaku yang produktif dan prilaku yang tidak produktif mutlak harus dimiliki seorang fasilitator outbound training. Selain itu, dia juga harus memiliki kemampuan komunikasi yang jelas dan memproses perilaku yang muncul tanpa membuat peserta outbound  yang memunculkan prilaku tersebut tersinggung.

  • Menarik dan berwibawa (pendidikan yang memadai, kepribadian yang menarik dan memiliki sense of humor yang baik)

Suasana pelatihan outbound training hendaknya harus penuh rasa gembira. Belajar dalam hati yang gembira akan sangat membantu efektifitas belajar. Oleh karena itu seorang fasilitator outbound harus mampu membuat suasana yang hangat dan gembira dengan humor-humor yang sehat tanpa menyinggung perasaan peserta outbound.

  • Menguasai masalah teknis pelatihan termasuk masalah safety

Pelatihan di alam terbuka sangat terkait dengan kemungkinan untuk terkena cedera. Oleh karena itu kemampuan teknis dibidang keselamatan permainan sangat penting dimiliki, walaupun di dalam outbound traning ada tim medis, keselamatan pelatihan berada di tangan fasilitator/instruktur outbound training.

Selain hal diatas, dalam tahap perencanaan outbound ada beberapa yang harus diperhatikan agar kegiatan outbound training  yang dilaksanakan dapat menghasilkan hasil yang optimal, diantaranya adalah..

  • Interview. Ini perlu dilakukan untuk mendapatkan gambaran profil dari peserta outbound. Jangan sampai nantinya permainan super keras diterapkan kepada orang yang punya penyakit tertentu, Selain itu juga agar instruktur tidak terkaget-kaget di lapangan manakala karakter asli dari peserta muncul, sedangkan karakter itu belum tentu disenangi oleh sang instruktur, Jadi sudah ada semacam defend terlebih dahulu agar tidak terkaget-kaget (termasuk solusi bagaimana menanganinya).
  • Variasi permainan. Ini penting dan mesti disesuaikan dengan kondisi dan budget. Semakin pandai seorang instruktur merancang suatu permainan, yang dapat mensimulasikan kerjasama antar anggota tim, semakin besar kemungkinan keberhasilan dari kegiatan outbound training tersebut.
  • Keseriusan dan kesiapan peserta. Bila segala-galanya sudah bagus namun pesertanya tidak serius atau tidak siap, yang ada bisa-bisa hanya akan buang-buang waktu dan tenaga saja. Jadi apa gunanya kegiatan outbound training dilaksanakan.
  • Komunikasi. Saat kegiatan outbound training berlangsung, harapannya karakter yang biasa digunakan para peserta selama di tempat kerja, karakter itulah yang digunakan. Nantinya bisa jadi akan timbul konflik dan bisa jadi masalah dalam komunikasi.

Pelaksanaan Pelatihan Outbound

Pelaksanaan pelatihan Outbound harus berdasarkan pada proses perncanaan dan informasi yang didapatkan tentang kondisi peserta baik dari interview atau data dari perusahaan atau organisasi yang melaksanakan kegiatan. Ada beberapa jenis pelaksanaan kegiatan outbound diantaranya :

  1. Games

Game adalah suatu latihan dimana pesertanya terlibat dalam sebuah kontes dengan peserta lain (atau sekelompok orang) dengan dikenai sejumlah peraturan. Biasanya games meliputi beberapa tipe pembayaran. Sebagian besar games pelatihan sekarang lebih diarahkan pada kompetisi trainee secara individual terhadap dirinya sendiri dari pada berkompetisi dengan sesama trainee. Hal ini menghindari situasi adanya yang menang dan yang kalah.

  1. Simulasi

Simulasi adalah contoh situasi aktual atau imajiner. Simulasi umumnya digunakan untuk melatih operator masa depan dimana akan sangat tidak praktis atau terlalu brbahaya bagi trainee untuk menggunakan peralatan atau lokasi sesungguhnya. Simulasi biasanya dirancang serealistis mungkin supaya treinee dapat belajar dari tindakan mereka tanpa khwatir harus memperbaiki atau mengganti peralatan yang rusak. Contoh simulasi meliputi simulator penerbangan, simulator mengamudi, dan perang-perangan.

  1. Asah Otak

Asah otak berada di kelasnya tersendiri. Bukan merupakan games atau simulasi murni melainkan teka-teki yang dapat menyibukkan pikiran peserta atau menunjukkan titik kuncinya. Asah otak umumnya tidak memiliki peraturan, tapi trainer boleh merancang peraturan mereka sendiri untuk menyesuaikannya dengan sesi pelatihan individual. Asah otak tertentu meliputi latihan-latihan seperti menggabungkan titik dan paling banyak merupakan latihan persepsi.

  1. Bermain Peran

Bermain peran digunakan dalam pelatihan untuk melihat bagaimana peserta bereaksi dalam situasi tertentu sebelum dan sebuah sesi pelatihan. Bermain peran sangat bermanfaat untuk memberikan kesempatan peserta mempraktekkan bagaimana berhubungan dengan orang lain sesuai skenario yang diberikan. Bahkan meski peserta keliru melakukannya, mereka tetap dapat mengambil suatu pelajaran.

  1. Studi Kasus

Definisi studi kasus sama persis dengan yang ditunjukkan namanya. Sebuah kasus (basanya berasal dari daerah kerja peserta) dipelajari oleh kelompok atau oleh individu. Studi mendalam dari hal sesungguhnya atau skenario yang disimulasikan dimaksudkan untuk mengilustrasikan hasil-hasil tertentu. Apabila sebuah kelompok atau individu memiliki jawaban terhadap masalah atau situasi tertentu, maka jawaban tersebut dapat dibandingkan dengan hal yang sesungguhnya terjadi dan hasil-hasil yang muncul dalam peristiwa tersebut.

Kesuksesan sebuah kegiatan pelatihan outbound training di alam terbuka sangat tergantung pada urutan penyajian kegiatannya. Urutan penyajian kegiatan ini sangat terkait dengan kesiapan fisik dan suasana emosi peserta dan keterangsangan emosi peserta pelatihan outbound. Bila urutan kegiatan outbound tidak berhasil membuat suasana gembira yang terus meningkat, maka pelatihan akan sangat membosankan dan tidak menarik. Selain itu penyusunan kegiatan outbound harus pula mampu menumbuhkan perasaan memperoleh tantangan yang semakin meningkat. Kalau kegiatan pelatihan outbound dimulai dengan kegiatan (exercise) yang sangat menantang dan penuh kegembiraan, kemudian pada kegiatan berikutnya kualitas tantangan dan kegembiraan menurun, maka pelatihan outboundnya kurang sukses.

Berikut contoh urutan kegiatan outbound (pelatihan alam terbuka) yang baik.

1)      Do`a bersama (memohon keselamatan kepada pencipta alam semesta)

2)  Stretching/peregangan otot-otot, dimulai dengan lari-lari kecil, senam ringan dan pendinginan/cooling down. Kegiatan olahraga ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh agar otot menjadi lentur , dan tidak terjadi kejang otot ataupun cedera.

3)      Ice-breaking/permainan pemecah kebekuan. Aktivitas pemecah kebekuan dalam kegiatan outbound tujuannya untuk melakukan penghangatan (warming up) para peserta agar terbentuk rasa persahabatan dan terbentuk suasana yang menyenangkan (rapport)

4)      Team building/membangun tim. Setelah pemecah kebekuan dilakukan barulah dilakukan games-games outbound yang berupa team building

5)      Perenungan/refleksi, dilakukan untuk memproses pengalaman dari kegiatan yang telah dilakukan

6)      Penutupan.

Ada banyak cara provider outbound training melakukan kegiatan outboundnya. Metode yang biasa digunakan dalam pelatihan outbound training adalah :

  • Permainan kelompok

Dalam suatu kegiatan outbound training, banyak sekali permainan-permainan yang dilakukan secara berkelompok, baik yang sifatnya fun game maupun bersifat middle game. Beberapa permainan outbound yang biasa dilakukan secara berkelompok diantaranya : Human ladder, Ring berpindah, Hunter my name, Mutiara dalam kerang, hollahop/webbing berantai, all stand up, frantic ballon, train ballon, ball tossing, dan lain-lain

  • Kerja kelompok

Dalam suatu kegiatan outbound training, kerja kelompok  biasa dikerjakan untuk mensimulasikan kehidupan yang nyata dalam permainan-permainan sederhana dalam kegiatan outbound. Beberapa kegiatan outbound yang mensimulasikan kegiatan ini diantaranya: human ladder, time boom, pipa bocor, pulau terkecil, escsape from the island, pulau terkecil, crocodille river, dll.

  • Petualangan individual

Petualan individual perlu dilakukan dalam kegiatan outbound training untuk memberikan pengalaman baru pada para peserta outbound, menambah keberanian, cepat mengambil keputusan dan menambah rasa kemanusiaan. Game dalam petualangan individu biasa ada dalam permaianan high rope maupun permainan outbound lainnya. Diantaranya: flying fox, two line bridge, jembatan elvis, solo camp, repeling, paralayang, airsoftgun, paint ball, dll

  • Ceramah (keterkaitan antara kegiatan simulasi dengan prinsip manajemen)

Ceramah biasa dilakukan dalam kegiatan outbound training di malam hari.

  • Diskusi

Dalam suatu kegiatan outbound traning, diskusi diperlukan untuk memecahkan masalah yang ada, sehingga tujuan/goal dari outbound training yang dilakukan bisa tercapai.

Evaluasi Pelatihan Outbound

Kata Outbound (di Indonesia) awalnya berasal dari Negara Inggris yang merupakan nama sebuah program, “Outward Bound School”. Evaluasi ketercapaian outbond dapat dicermati dari prinsip skenario outbound yang efektif:

  1. Jika outbound bertujuan  mengembangkan kerjasama kelompok, artinya hasil utama yang hendak dicapai adalah peserta mendapatkan pengalaman yang memberi inspirasi untuk makin dapat menyelesaikan misi/ tantangan/ tugas melalui kerjasama yang efektif. Gambaran permainan yang cocok adalah permainan yang hanya bisa berhasil jika dilaksanakan seluruh anggota kelompok secara kerjasama
  2. Jika outbound bertujuan  sebagai simulasi penyelesaian masalah, artinya hasil utama yang hendak dicapai adalah peserta memperoleh pengalaman  yang bisa memberi inspirasi dalam pemecahan suatu masalah secara efektif. Gambaran permainan yang cocok adalah permainan yang membutuhkan analisis dalam pemecahannya. Sifat dinamika bisa individu maupun kelompok
  3. Jika outbound bertujuan  melatih ketahanan mental, artinya hasil utama yang hendak dicapai adalah pengalaman peserta yang dapat menyelesaikan tantangan/ masalah dalam kondisi penuh tekanan (mental). Gambaran permainan yang cocok adalah tantangan/ permainan yang bersifat menguji keberanian/nyali peserta, terutama secara mental
  4. Jika outbound “hanya” bertujuan untuk menjalin  keakraban/ hiburan, artinya hasil utama yang hendak dicapai adalah ketika menyelesaikan kegiatan, peserta bergembira, dan antar mereka makin saling mengenal dan akrab. Gambaran permainan yang cocok adalah permainan yang tidak terlalu berat/ beresiko, bersifat menghibur, dan mengakrabkan suasana.

Kesimpulan

Pelatihan Outbound dikreasikan oleh Kurt Hahn dengan ide pendidikan inovatif yaitu Outward Bound. Pelatihan outbond adalah pelatihan yang dilaksanakan di alam terbuka dengan tujuan utama membuat peserta melupakan kepenatan dan ketegangan dari aktivitas dan rutinitas keseharianya, sehingga setelah melaksanakan outbound training peserta dapat lebih segar kembali dalam aktivitasnya. Pelatihan outbound memiliki materi ice breaking, komunikasi, team building, penyelesaian masalah, dan game kompetisi. Secara umum manajemen pelatihan outbound terdiri dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

1. Perencanaan pelatihan outbound terdiri dari :

  • Menetapkan target/tujuan,
  • menemtukan lokasi kegiatan,
  • menyiapkan alat yang diperlukan,
  • menyiapkan tim instruktur

2. Pelaksanaan pelatihan outbound terdiri dari :

  • Jenis kegiatan pelatihan : Games, Simulasi, Asah otak, Bermain peran, dan Studi kasus
  • Urutan kegiatan pelatihan: Do`a bersama, Stretching/peregangan otot-otot, Ice-breaking/permainan pemecah kebekuan, Team building/membangun tim, Perenungan/refleksi, Penutupan.
  • Metode pelatihan : Permainan kelompok, Kerja kelompok, Petualangan individual, Ceramah, dan Diskusi

3. Evaluasi ketercapaian pelatihan outbound

  • Mengembangkan kerjasama kelompok: peserta mendapatkan pengalaman yang memberi inspirasi untuk makin dapat menyelesaikan tantangan melalui kerjasama yang efektif.
  • Simulasi penyelesaian masalah: peserta memperoleh pengalaman  yang bisa memberi inspirasi dalam pemecahan suatu masalah secara efektif
  • Melatih ketahanan mental: pengalaman peserta yang dapat menyelesaikan tantangan/ masalah dalam kondisi penuh tekanan (mental).
  • Menjalin  keakraban/ hiburan: ketika menyelesaikan kegiatan, peserta bergembira, dan antar mereka makin saling mengenal dan akrab.

Referensi :

Arina, abu. (2007). Excecutive Outbound. (online). tersedia:http://outboundmalang.com/. (17 Mei 2012)

Pusdiklat Pegawai Depdiknas. (2003) Modul Diklat Management of Trainers. Jakarta:Depdiknas

Sudjana. (2007). Sistem dan Manajemen Pelatihan, Teori dan Aplikasi. Bandung: Falah Production

Soenarno, Adi. (2007). Ice Breaker Don’t be Tegang. Yogyakarta: Penerbit Andi

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 April 2014 in Education

 

Tag: , , , ,

Pendidikan dan Pelatihan Pimpinan III

Latar Belakang

Pemerintah mempunyai peranan yang menentukan keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik, yang dilakukan bersama dengan unsur-unsur (stakeholders) lainnya yakni dunia usaha (private sectors) dan masyarakat (civil society). Untuk memainkan peranan tersebut, diperlukan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang memiliki standar kompetensi yang dipersyaratkan oleh jabatannya masing-masing yang terindikasi dari pengetahuan, wawasannya yang luas dan selalu mengikuti perkembangan terbaru d bidang tugasnya, serta dari nilai, sikap, dan perilakunya yang penuh dengan kesetiaan dan ketaatan kepada negara, bermoral dan bermental baik, netral, sadar akan tanggung jawabnya sebagai pelayan publik, dan mampu menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa.

Untuk dapat membentuk sosok PNS seperti tersebut di atas, perlu dilaksanakan pembinaan melalui jalur Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) bagi seluruh jajaran PNS, terutama terhadap PNS dalam jabatan struktural karena berperan sebagai pengelola dan pelaksana kebijakan publik dan atau keputusan politik. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil dan Surat Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 541/XIII/10/6/2001, 10 Agustus 2001 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat III. PNS harus mempunyai kompetensi yang diidentifikasikan sikap dan perilaku yang penuh dengan kesetiaan dan ketaatan sebagai pelayan publik, serta mampu menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk dapat membentuk PNS yang memenuhi kriteria di atas, perlu dilaksanakan pembinaan melalui jalur pendidikan dan pelatihan (diklat) yang mengarah kepada upaya peningkatan:

  1. Sikap dan semangat pengabdian yang berorientasi pada kepentingan masyarakat, bangsa, negara, dan tanah air
  2. Kompetensi teknis, manajerial, dan/atau kepemimpinannya
  3. Efisiensi, efektifitas, dan kualitas pelaksanaan tugas yang dilakukan dengan semangat kerja sama dan tanggung jawab sesuai dengan lingkungan kerja dan organisasinya.

Dalam rangka mencapai tujuan di atas, maka perlu diselenggarakan Diklatpim Tk. III harus dipersiapkan atau direncanakan diklat secara sungguh-sungguh agar pelaksanaan dapat dijalankan secara profesional, efektif dan efisien, dengan menggunakan tata kelola yang akuntabel.

Pengertian Diklatpim Tingkat III

Pendidikan dan pelatihan merupakan proses penyelenggaraan belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan Pegawai Negeri Sipil. Diklat bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan sikap untuk dapat melaksanakan tugas jabatan secara profesional dengan dilandasi kepribadian dan etika PNS sesuai dengan kebutuhan instansi.

Dasar Hukum

  • Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999;
  • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil;
  • Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 193/XIII/10/6/2001 tentang Pedoman Umum Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil;

Jenis Diklat

1. Diklat Prajabatan

Diklat prajabatan merupakan syarat pengangkatan CPNS menjadi PNS. Diklat Prajabatan terdiri dari:

  • Diklat Prajabatan Golongan I untuk menjadi PNS Golongan I;
  • Diklat Prajabatan Golongan II untuk menjadi PNS Golongan II;
  • Diklat Prajabatan Golongan III untuk menjadi PNS Golongan III;

2. Diklat dalam Jabatan

Diklat dalam Jabatan dilaksanakan untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap PNS agar dapat melaksanakaan tugas-tugas pemerintahan, dan pembangunan dengan sebaik-baiknya.

Diklat dalam Jabatan terdiri dari :

a. Diklat Kepemimpinan

Diklatpim dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi yang diperlukan dan merupakan syarat bagi PNS yang akan atau telah menduduki jabatan struktural. Diklatpim terdiri atas:

  • Diklatpim Tingkat I adalah Diklatpim untuk Jabatan Struktural Eselon I;
  • Diklatpim Tingkat II adalah Diklatpim untuk Jabatan Struktural Eselon II;
  • Diklatpim Tingkat III adalah Diklatpim untuk Jabatan Struktural Eselon III;
  • Diklatpim Tingkat IV adalah Diklatpim untuk Jabatan Struktural Eselon IV.

b. Diklat Fungsional, dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi yang sesuai dengan jenis dan jenjang Jabatan Fungsional masing-masing.

c. Diklat Teknis, dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi teknis yang diperlukan untuk melaksanakan tugas PNS.

Pelaksanaan Diklat

Sesuai dengan Surat Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor, 541/XIII/10/6/2001, tanggal 10 Agustus 2001 tentang Pedoman penyelenggaraan Diklatpim Tk. III dilaksanakan di Badiklat Prov. Jabar selama 49 hari dengan alokasi waktu 360 jam sajian. Untuk kegiatan Observasi Lapangan dilakukan dengan mengadakan kunjungan ke Instansi Pemerintah di mana sasaran itu ditetapkan sesuai dengan topik/tema Diklat. Sedangkan proses pembelajarannya, adalah meliputi :

  1. Jadwal : perlu dibuatkan jadwal waktu pembelajaran dari awal kegiatan hingga akhir kegiatan
  2. Proses kegiatan pembelajaran : dalam proses kegiatan pembelajaran akan saling ada interaksi/komunikasi antara widyaiswara, peserta, pengamat dan petugas sekretariat
  3. Setting tempat pembelajaran, meliputi : setting ruang belajar, ruang sekretariat dan sarana /fasilitas pembelajaran ( laptop, LCD dan sebagainya)
  4. Proses belajar : dalam proses belajar itu terdiri dari SAP (satuan acara pembelajaran), bahan belajar, modul, bahan sajian.

Untitleds

 

Alir Kerja

Apabila digambarkan ke dalam bentuk alir kerja dari proses persiapan sampai pelaporan penyelenggaraan Diklatpim Tk. III, maka dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Alir kerja ini menggambarkan alir kerja penyelenggaraan Diklatpim Tk. III di lingkungan Kemendiknas melingkupi Input, Proses, Output, dan Outcome dengan menekankan pada proses PDCA. Sehingga dengan pendekatan SMM ISO 9001:2008, diklat yang diselenggarakan dapat dilihat terukur tingkat keberhasilannya. Di bawah ini melalui gambar Alir kerja penyelenggaraan Diklatpim Tk. III.

Untitleds

Persyaratan Peserta Dan Widyaiswara

1. Persyaratan Peserta

a. Persyaratan Peserta

Peserta Diklatpim Tingkat III adalah PNS yang telah atau akan menduduki jabatan struktural eselon III yang memiliki persyaratan berikut:

1)      Sikap, Perilaku dan Potensi yang meliputi:

  • moral yang baik;
  • dedikasi dan loyalitas terhadap tugas dan organisasi;
  • kemampuan menjaga reputasi diri dan instansinya;
  • jasmani dan rohani yang sehat;
  • motivasi yang tinggi untuk meningkatkan kompetensi; serta
  • prestasi yang baik dalam melaksanakan tugas.

2)      Usia maksimal 54 tahun untuk eselon III dan 50 tahun untuk eselon IV

3)      Pangkat minimal Penata ( III/c).

4)      Pendidikan serendah-rendahnya sarjana muda bagi pejabat eselon III dan strata satu (S1) untuk pejabat eselon IV, atau yang memiliki kompetensi setara dengan yang penyetaraannya ditetapkan oleh Baperjakat instansi yang bersangkutan.

5)      Menguasai Bahasa Inggris minimal pasif dan memiliki skor TOEFL minimal 350 atau yang setara.

6)      Lulus test yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Kemendiknas.

b. Kelengkapan dan persyaratan yang harus dibawa :

Untuk dapat mengikuti Diklatpim Tk. III peserta dapat memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Adapun persyaratan-persyaratan tersebut adalah sebagai berikut:

a)      Surat tugas dari pimpinan unit kerja pengirim

b)      Fotocopy surat keputusan terakhir, dan atau telah menduduki jabatan eselon III

c)      Surat keterangan dokter (lampiran surat keterangan kesehatan).

d)     Pas photo terbaru (berwarna dengan dasar merah) pakaian sipil lengkap (PSL), wanita pakaian nasional, ukuran 4 x 6 = 2 lembar, dan ukuran 3 x 4 = 2 lembar.

e)      Membawa pakaian secukupnya dengan ketentuan:

  • Baju lengan panjang dan dasi bagi pria ( wanita tanpa dasi) untuk selama kegiatan perkuliahan.
  • PSL bagi pria (wanita menyesuaikan) untuk acara pembukaan dan penutupan
  • Seperangkat pakaian olahraga untuk kegiatan senam pagi.

f)       Fotocopy DP3.

 

2. Persyaratan Widyaiswara

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan widyaiswara adalah sebagai berikut.

  1. Memiliki kompetensi sesuai bidangnya atau materi yang akan disajikan
  2. Menguasai materi sajian
  3. Menggunakan pendekatan belajar orang dewasa (andragogi)
  4. Menggunakan media pembelajaran yang relevan dengan TIU dan TIK.
  5. Mampu mengajar dalam tim.
  6. Mampu mengidentifikasi topik mata sajian.
  7. Menyerahkan jurnal mengajar
  8. Berperilaku luwes atau fleksibel dan komunikatif
  9. Menyerahkan matrik kompetensi widyaiswara ke penyelenggara

 

Tata Tertib Peserta

  1. Peserta dinyatakan sah mengikuti diklat apabila telah terdaftar sebelumnya dan setelah diperiksa memenuhi persyaratan.
  2. Peserta yang datang terlambat lebih dari dua hari akan dikembalikan ke instansi yang bersangkutan tanpa penggantian biaya perjalanan.
  3. Selama mengikuti program, peserta diwajibkan berpakaian rapi dan berdasi. Peserta wanita berpakaian bebas, rapi, dan sopan.
  4. Peserta wajib mengenakan tanda pengenal selama mengikuti program diklat.
  5. Peserta harus berpakaian rapi dan sopan ketika berada di ruang makan, ruang tamu, dan selama mengikuti program. Peserta tidak boleh menggunakan sandal dan atau celana pendek  di ruang makan atau di ruang tamu.
  6. Di luar kegiatan perkuliahan dan obsevasi lapangan atau kegiatan resmi lainnya, peserta  oleh berpakaian tanpa dasi.
  7. Peserta tidak diperkenankan menerima tamu pada jam-jam kegiatan, kecuali bila ada hal-hal yang sangat penting dan mendesak.
  8. Kecuali atas izin panitia dan untuk hal-hal yang sangat mendesak, peserta tidak diperkenankan meninggalkan salah satu kegiatan yang telah dijadwalkan.
  9. Peserta tidak diperkenankan menggunakan handphone dalam kegiatan perkuliahan, ceramah, atau diskusi kelompok.
  10. Peserta menyediakan sendiri perlengkapan pribadi selam mengikuti program.
  11. Peserta harus mengikuti seluruh kegiatan yang diprogramkan dan menandatangani daftar hadir yang disediakan.
  12. Peserta dilarang merokok selama berlangsungnya kegiatan dan di tempat-tempat yang terdapat tanda larangan merokok.
  13. Peserta harus senantiasa menjaga kebersihan serta menjaga norma-norma etika dan susila selama mengikuti kegiatan diklat. Peserta yang diketahui melakukan perbuatan asusila akan dikembalikan ke instansinya.
  14. Peserta berpartisipasi aktif dalam mengikuti kegiatan, baik pada waktu perkuliahan, observasi lapangan, senam kesegaran jasmani, dan kegiatan lain yang diprogramkan.
  15. Jadwal makan diatur sebagai berikut :
    1. Makan pagi : pukul 06.30 – 07.00
    2. Makan siang : pukul 13.00 – 14.00
    3. makan malam : pukul 18.00 – 19.00
    4. makanan kecil dan minuman disesuaikan dengan kegiatan.

 

Metode Pembelajaran

Metode Pembelajaran yang digunakan dalam program Diklatpim Tk. III Kemendiknas perlu mencakupkan penggunaan metode berikut.

  1. Ceramah dan tanya jawab.

Kegiatan ceramah pada sesi perkuliahan merupakan kegiatan belajar mengajar penyampaian materi yang mencakup semua mata ajar, seperti yang tercantum dalam struktur program. Di dalam ceramah diikuti tanya jawab sebagai penjelasan atau kelengkapan baik dari widyaiswara dan peserta, sehingga sajian menjadi lebih dinamis dan menarik, tidak membosankan

  1. Diskusi

Diskusi merupakan bagian dari program pembelajaran yang melibatkan seluruh peserta yang dilaksanakan oleh masing-masing widyaiswara, sebagai bagian dari teknik/metode dalam proses pembelajaran dalam mengungkapkan aspirasi atau pemikiran tentang permasalahan yang didiskusikan, sehingga dapat mempertajam dan melandasi dalam proses sajian tersebut.

  1. Simulasi dan permainan peran

Pada tahap simulasi ini, peserta diajak dan dilibatkan dalam suatu kasus tertentu yang berkaitan dengan sajian yang diberikan, agar seakan-akan peserta merasakan dan mengalami apa yang diperankan atau disimulasikan pada materi yang disajikan. Dalam simulasi atau permainan peran ini menjadikan bukti awal dan sebagai pengalaman nyata yang dirasakan oleh peserta

  1. Praktik

Kegiatan praktik dirancang agar setiap peserta memperoleh kesempatan menerapkan teknik atau prosedur yang dipelajari. Ini dilakukan berkenaan dengan materi yang disajikan baik secara kelompok atau indIIIidu untuk agar peserta dapat melakukan dan membandingkan antara teori dan kenyataan di lapangan (dikerjakan)

  1. Analisis Kasus

Metode pembelajaran ini dirancang agar setiap peserta dapat mengalami atau merasakan dalam menghadapi kasus, untuk dibahas dari materi yang disajikan. Hal ini dilakukan untuk melihat sejauh mana tingkat kesungguhan peserta dalam melakukan analisis terhadap kasus-kasus yang diberikan dan dapat menyusun langkah-langkah untuk mengambil keputusan dari hasil dianalisis oleh peserta dari kasus tersebut.

Pada lingkup ini peran fasilitator atau widyaiswara sangat penting dan dapat dan bahkan diharapkan memperkaya proses pembelajaran dengan menggunakan metode lain. Fasilitator tidak diperkenankan menggunakan metode tertentu yang tidak terkait benar dengan upaya mencapai tujuan pembelajaran. Fasilitator juga dilarang keras hanya menggunakan satu metode pembelajaran seperti ceramah.

EVALUASI KEGIATAN DIKLAT

Evaluasi adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan informasi yang valid dan reliabel untuk membuat keputusan tentang penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. Sedangkan evaluasi terhadap penyelenggaraan Diklatpim Tk. III dilakukan melalui, penilaian terhadap : peserta, kinerja penyelenggaraan, dan Widyaiswara.

A. Evaluasi Terhadap Peserta

Penilaian terhadap peserta diklat meliputi dua aspek, yaitu aspek sikap dan perilaku kepemimpinan dengan bobot 45 %, dan aspek akademis/penguasaan materi dengan bobot 55 %. Nilai terendah 0 (nol) dan nilai tertinggi adalah 100.

1. Penilaian Aspek Sikap dan Perilaku Kepemimpinan

Unsur yang dinilai dalam aspek ini dan bobotnya masing-masing adalah disiplin (10%), kerjasama (10%), Prakarsa (10%), dan kepemimpinan (15%). Pengumpulan informasi penilaian sikap dan perilaku kepemimpinan dilakukan oleh fasilitator (widyaiswara), penyelenggara (pengamat), atau tenaga lain yang ditugaskan. Pengamatan aspek sikap dan perilaku ini dilakukan dalam:

  • kegiatan belajar dikelas
  • kegiatan harian di asrama
  • kegiatan diskusi dan penyusunan kertas kerja/tugas-tugas dan seminar
  • kegiatan olah raga dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya
  • kegiatan out bound, dan
  • kegiatan observasi lapangan.

Indikator yang dinilai dari masing-masing unsur sikap dan perilaku kepemimpinan adalah sebagai berikut :

a)      Disiplin

Disiplin adalah ketaatan dan kepatuhan peserta terhadap seluruh ketentuan yang telah ditetapkan penyelenggara. Indikator mengenai hal ini diperoleh dari :

  • kerapian berpakaian,
  • ketepatan hadir dalam setiap kegiatan
  • kesungguhan mengikuti setiap kegiatan, serta
  • kejujuran dan kesungguhan dalam melaksanakan tugas.

b)     Kerjasama

Kerjasama adalah kemampuan untuk berkoordinasi dalam menyelesaikan tugas secara tim, serta mampu meyakinkan dan mempertemukan gagasan. Indikator kerjasama adalah :

  • kontribusi dalam menyelesaikan tugas bersama
  • membina keutuhan dan kekompakan kelompok
  • tidak mendikte atau mendominasi kelompok, serta
  • mau menerima pendapat orang lain.

c)         Prakarsa

Prakarsa adalah kemampuan untuk mengajukan gagasan yang bermanfaat bagi kepentingan kelompok atau kepentingan yang lebih luas. Indikator prakarsa adalah:

  • membantu menciptakan iklim yang menggairahkan
  • mampu mengajukan saran untuk kelancaran diklat
  • aktif mengajukan pertanyaan yang relevan, serta
  • mampu mengendalikan diri, waktu, situasi, dan lingkungan.

d)     Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah kemampuan bersikap taat asas, bertanggung jawab, memiliki visi ke depan, serta mampu memperdayakan tim secara demokratis. Indikator kepemimpinan adalah:

  • konsisten dan bertanggung jawab
  • visioner
  • memberdayakan, serta
  • demokratis.

Penilaian terhadap sikap dan perilaku kepemimpinan peserta dilakukan berdasarkan pengamatan yang cermat oleh widyaiswara, penyelenggara, pembimbing, pendamping, pengamat dan lain-lain pihak yang secara fungsional bertanggung jawab dalam proses belajar-mengajar selama diklat berlangsung baik kegiatan di dalam maupun diluar kelas.

2. Penilaian Aspek Akademis/Penguasaan Materi

Unsur yang dinilai mengenai aspek penguasaan materi dan bobotnya adalah sebagai berikut :

  • Hasil ujian akhir                          : 20 %
  • Kertas Kerja Perseorangan     : 15 %
  • Kertas Kerja Kelompok             : 10 %
  • Observasi lapangan                  : 10 %

                                   Jumlah                         : 55 %

Nilai aspek akademis/penguasaan materi merupakan penjumlahan Nilai bobot ujian akhir, Kertas Kerja Perseorangan (KKP), Kertas Kerja Kelompok (KKK), dan Observasi Lapangan (OL) dengan ketentuan:

a)      Ujian Akhir

Ujian akhir terutama difokuskan pada aspek kemampuan kognitif dan bersifat komprehensif, dilakukan setelah seluruh mata diklat dalam kurikulum Diklatpim Tingkat III diberikan. Penyiapan soal ujian akhir, penyelenggaraan ujian, serta koreksi dan penilaiannya dilakukan bersama Lembaga Administrasi Negara (LAN).

b)     Penilaian terhadap kualitas dan penguasaan KKP

KKP adalah karya tulis yang disusun oleh setiap peserta berupa rencana kerja peningkatan kinerja yang akan dicapai setelah peserta kembali ke unit kerjanya masing-masing dan diseminarkan. Nilai KKP diberikan oleh Widyaiswara dan atau  pembimbing pada saat pendalaman dan penyajian dalam seminar, yang meliputi indikator sebagai berikut:

  1. Kualitas KKP, terdiri atas :

  • Identifikasi masalah
  • Analisis masalah
  • Pemecahan masalah
  • Sistematika penulisan

  1. Kualitas presentasi, terdiri dari :

  • Efektifitas teknik presentasi
  • Penguasaan materi.

c)      Penilaian terhadap penguasaan KKK

KKK adalah kertas kerja yang disusun oleh kelompok-kelompok peserta diklat dengan fokus bahasan sesuai dengan tema Diklatpim Tk. III. Nilai KKK diberikan oleh Widyaiswara pemandu diskusi, penilai atau nara sumber pada saat diskusi penyusunan dan seminar KKK yang meliputi indikator sebagai berikut:

  • Kesungguhan dalam partisipasi
  • Kualitas hasil pemikiran
  • Keefektifan menyampaikan pertanyaan, jawaban dan tanggapan.

d)     Penilaian terhadap penguasaan materi Observasi Lapangan (OL).

Observasi lapangan adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan kemampuan untuk melakukan pengumpulan data yang berhubungan dengan praktek pelayanan publik untuk memperkaya penulisan KKK dan KKP. Penilaian terhadap Observasi lapangan meliputi kegiatan-kegiatan dengan indikator sebagai berikut:

  1. Pelaksanaan OL

  • Kemampuan mengidentifikasi masalah
  • Kemampuan menempatkan diri sebagai peserta diklat.

  1. Pra seminar

  • Kualitas hasil pemikiran
  • Teknik menyampaikan pertanyaan jawaban
  • Kemampuan mengakomodasi.

  1. Seminar
  • Presentasi Kertas Kerja Observasi Lapangan (KKOL)
  • Menerima masukan nara sumber.

Penilaian terhadap peserta dalam aspek akademis/penguasaan materi dilakukan berdasarkan pemeriksaan yang cermat terhadap hasil ujian akhir, kualitas kertas kerja, penyajian dan penguasaan KKP, partisipasi dan kualitas pemikiran, pembahasan dan tanggapan dalam penyusunan KKK, kemampuan melakukan OL dan partisipasi dalam seminar. Penilaian aspek akademis/penguasaan materi ini dilakukan oleh penyelenggara, widyaiswara, pembimbing, nara sumber, dan moderator seminar.

3. Hasil Akhir Kelulusan Peserta

Evaluasi akhir dilakukan untuk menentukan kualifikasi kelulusan peserta, oleh suatu tim yang terdiri dari :

  • Kapusdiklat ( selaku ketua tim rapat evaluasi akhir)
  • Kepala Biro Kepegawaian Kemendiknas
  • Pejabat dari LAN
  • Kabid Program dan Evaluasi (penanggung jawab evaluasi program diklat)
  • Para ketua penyelenggara, sekretaris, koordinator widyaiswara.

Evaluasi ditetapkan berdasarkan informasi yang dihimpun oleh petugas berikut :

  • Fasilitator mata diklat
  • Petugas pengamat dari masing-masing Satgas
  • Pemandu pada waktu diskusi dan seminar
  • Pemeriksa KKP dan KKK
  • Pemeriksa ujian dari LAN
  • Pimpinan dan pendamping kegiatan Observasi Lapangan.

Rapat pengambilan keputusan juga dapat menggunakan masukan dari para peserta dalam menentukan peringkat kelulusan.

4. Kualifikasi Kelulusan

Kualifikasi kelulusan peserta ditetapkan sebagai berikut :

  • Sangat Memuaskan (skor : 92,5 – 100);
  • Memuaskan (skor : 85 – 92,4)
  • Baik Sekali (skor : 77,5 – 84,99)
  • Baik (70 – 77,4); serta
  • Tidak Lulus (skor dibawah 70).

Apabila nilai rata-rata akhir yang dicapai peserta kurang dari 70 dinyatakan tidak lulus. Ketidak hadiran peserta melebihi 5% dari keseluruhan jumlah jam pelajaran (sejak pembukaan sampai dengan penutupan) dinyatakan gugur.

5. Sertifikasi

Kepada peserta diklat yang telah menyelesaikan seluruh program dengan baik dan dinyatakan lulus, diberikan Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan (STTPP).

Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan

Penilaian kinerja penyelenggaraan adalah upaya untuk menentukan tingkat kinerja penyelenggara. Aspek yang dinilai terhadap kinerja penyelenggara adalah sebagai berikut :

  1. Efektifitas penyelenggaraan.
  2. Kesiapan dan ketersediaan sarana diklat.
  3. Kesesuaian pelaksanaan program dengan rencana.
  4. Kebersihan kelas, asrama, kafetaria, dan toilet.
  5. Ketersediaan dan kelengkapan bahan diklat.
  6. Ketersediaan fasilitas olahraga, kesehatan, dan ibadah.
  7. Pelayanan terhadap peserta dan fasilitator.
  8. Administrasi diklat peserta meliputi :
  • Sejauhmana penatausahaan Diklat telah dilaksanakan dengan baik;
  • Tersusunnya seluruh dokumen dan bahan-bahan diklat dalam suatu file.

Hasil diolah dan disimpulkan oleh penyelenggara sebagai bahan masukan untuk penyempurnaan program diklat yang akan datang dan bahan akreditasi Lembaga Diklat.

Evaluasi Terhadap Widyaiswara

Aspek yang dinilai dari widyaiswara adalah sebagai berikut :

  1. Pencapaian tujuan instruksional.
  2. Sistematika penyajian.
  3. Kemampuan menyajikan/memfasilitasi sesuai program diklat.
  4. Ketepatan waktu kehadiran dalam penyajian.
  5. Penggunaan metode diklat.
  6. Penggunaan sarana diklat.
  7. Perilaku dalam memfasilitasi pembelajaran.
  8. Cara menjawab pertanyaan peserta.
  9. Penggunaan bahasa.
  10. Pembinaaan motifasi kepada peserta
  11. Penguasaan materi
  12. Kerapian berpakaian
  13. Kerjasama di antara para widyaiswara/fasilitator (dalam tim)

Penilaian terhadap widyaiswara dilakukan oleh peserta dan penyelenggara diklat. Hasilnya diolah dan disampaikan oleh penyelenggara kepada setiap widyaiswara pada masa yang akan datang.

Pelaporan

Setelah selesai pelaksanaan Diklat Kepemimpinan Tingkat III, Ketua Penyelenggara menyampaikan laporan tertulis hasil pelaksanaan diklat kepada Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Kemendiknas, tembusan kepada Kepala Bidang Penyelenggaraan, Bidang Program dan Evaluasi, dan sumber dana (Rutin). Adapun tujuan pembuatan laporan adalah :

  1. Sebagai pertanggungjawaban panitia atau satgas dalam penyelenggaraan diklat yang harus dipenuhi.
  2. Sebagai bahan evaluasi tingkat keberhasilan panitia atau satgas dalam penyelenggaraan diklat.
  3. Sebagai bahan informasi dalam pengambilan keputusan untuk penyelenggaraan diklat pada masa yang akan datang.
  4. Untuk perbaikan-perbaikan secara berkelanjutan.

 

Kesimpulan

Persiapan diklat melalui Bidang Program dan Evaluasi, khusus Diklatpim III menjabarkan struktur program dari Lembaga Administrasi Negara (LAN) menjadi jadwal operasional harian sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh LAN. Di samping itu melakukan proses persiapan-persiapan yang meliputi widyaiswara, modul, peserta yang berkaitan dengan Diklatpim. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pelaksanaan diklat, maka Bidang Program dan Evaluasi melakukan persiapan evaluasi terhadap seluruh jenis diklat dengan menggunakan format evaluasi yang telah ditetapkan dengan 3 kelompok evaluasi yaitu; evaluasi terhadap peserta, evaluasi terhadap penyelenggaraan, dan evaluasi terhadap widyaiswara.

Pelaksanaan diklat ditugaskan kepada Bidang Penyelenggaraan, setelah menerima program dan peserta dari Bidang Program dan Evaluasi. Bidang Penyelenggara melakukan persiapan-persiapan, antara lain; pemanggilan peserta, penerimaan, penyusunan jadwal, kelengkapan peserta, proses pembelajaran, observasi lapangan, seminar, verifikasi widyaiswara, penutupan, pengembalian peserta dan pelaporan penyelenggaraan diklat.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 April 2014 in Education

 

Tag: , , , , , , ,