RSS

Contoh Proposal Penelitian

21 Des

A. Judul

“PENGARUH MANAJEMEN HUBUNGAN MASYARAKAT TERHADAP  PARTISIPASI  MASYARAKAT  DI  SMK NEGERI 1 BANDUNG”

B. Latar Belakang Masalah

Era globalisasi yang ditandai dengan persaingan yang sangat ketat dalam semua aspek kehidupan, memberi warna/pengaruh terhadap tuntutan akan kualitas sumber daya manusia, termasuk sekolah yang merupakan salah satu sarana tepat dalam pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas. Banyaknya sekolah yang tersebar diberbagai wilayah menumbuhkan persaingan dalam menarik minat peserta didik. Kondisi tersebut mewajibkan sekolah untuk memiliki kualitas yang andal, khususnya pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) karena peserta didik cenderung lebih banyak memilih Sekolah Menengah Atas (SMA). Dari kondisi tersebut peneliti lebih mengkhususkan manajemen hubungan masyarakat pada jenjang SMK untuk mengetahui apa permasalahan yang menyebabkan peserta didik cenderung lebih banyak memilih melanjutkan pendidikan ke SMA.

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang melaksanakan pendidikan kejuruan dalam jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama setara dengan SMP/MTs. SMK sering disebut juga sebagai STM (Sekolah Teknik Menengah). SMK sebagai bentuk satuan pendidikan kejuruan, sebagaimana ditegaskan dalam penjelasan pasal 15 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, “Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus”, merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Adapun tujuan institusional dari SMK adalah :

  1. Menyiapkan peserta didik agar menjadi manusia produktif, mampu bekerja mandiri, mengisi lowongan pekerjaan yang ada sesuai dengan kompetensi dalam program keahlian yang dipilihnya.
  2. Menyiapkan peserta didik agar mampu memilih karier, ulet dan gigih dalam berkompetensi, beradaptasi di lingkungan kerja, dan mengembangkan sikap profesional dalam bidang keahlian yang diminatinya.
  3. Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, agar mampu mengembangkan diri di kemudian hari baik secara mandiri maupun melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
  4. Membekali peserta didik dengan kompetensi-kompetensi yang sesuai dengan program keahlian yang dipilih.

Tujuan tersebut akan tercapai apabila ada kerjasama antar komponen sekolah yang meliputi peserta didik, tenaga pendidik dan kependidikan, sarana dan prasarana, kurikulum, keuangan, pelayanan dan hubungan dengan masyarakat bisa terjalin menjadi sebuah teamwork yang solid. Dari komponen-komponen tersebut terdapat satu komponen yang tidak kalah penting dalam pencapaian tujuan institusional sebuah sekolah yaitu hubungan dengan masyarakat karena besar kecilnya ketercapaian tujuan tersebut tentunya membutuhkan kerja sama dari masyarakat atau stakeholders lainnya. Oleh karena itu, untuk membina hubungan yang baik antara sekolah dengan masyarakat maka disetiap sekolah diharuskan memiliki bidang kehumasan atau hubungan masyarakat. Partisipasi masyarakat harus selalu di tampung oleh sekolah dan humas sekolah selaku penghubung antara sekolah dan masyarakat, harus selalu memberikan informasi mengenai sekolah dengan cara melakukan komunikasi yang berkelanjutan mengenai masalah-masalah yang dihadapi sekolah sehingga sekolah dan masyarakat bisa mencari cara dalam memecahkan masalah-masalah tersebut.

Dengan sifat sekolah yang memiliki sistem terbuka seharusnya tidaklah sulit untuk menggalang partisipasi masyarakat yang besar. Dalam kenyataannya, banyak sekolah yang tidak memiliki nama baik dan lambat laun akan mati (entrophy) karena sekolah tersebut tidak memiliki hubungan yang baik dan harmonis dengan masyarakat. Karena itulah sejak lama Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan itu berlangsung pada tiga lingkungan yaitu Lingkungan Keluarga, Sekolah dan Masyarakat. Artinya pendidikan tidak akan berhasil jika ketiga komponen itu tidak saling bekerjasama secara harmonis. Dari uraian diatas jelas sudah jika sekolah bukanlah lembaga yang yang berdiri sendiri dalam membina pertumbuhan dan perkembangan putra-putra bangsa melainkan ia merupakan bagian dari masyarakat secara luas, dan bersama masyarakat membangun dan meningkatkan segala upaya untuk memajukan sekolah. Hal ini dapat tercipta apabila sekolah mau membuka diri dan menjelaskan tentang apa dan bagaimana masyarakat dapat berperan dalam upaya membantu sekolah dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan. Seharusnya setiap aktivitas pendidikan dapat dikomunikasikan kepada masyarakat agar mereka dapat mengerti mengapa sekolah harus melakukan aktivitas itu dan pada sisi mana mereka bisa membantu sekolah dalam melaksanakan program itu.

Dengan demikian humas dituntut untuk selalu memberikan informasi-informasi mengenai pentingnya masyarakat bagi sekolah agar tercipta kesepemahaman dari kedua belah pihak. Berawal dari kesepemahaman itulah maka masyarakat akan tertarik untuk ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Untuk itu peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “PENGARUH MANAJEMEN HUBUNGAN MASYARAKAT TERHADAP PARTISIPASI MASYARAKAT DI SMK NEGERI 1 BANDUNG”.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka peneliti membatasi permasalahan pada rumusan masalah di bawah ini :

  1. Bagaimana gambaran Manajemen Hubungan Masyarakat di SMK Negeri 1 Bandung?
  2. Bagaimana gambaran Partisipasi Masyarakat di SMK Negeri 1 Bandung?
  3. Seberapa Besar Pengaruh Manajemen Hubungan Masyarakat Terhadap Partisipasi Masyarakat  di SMK Negeri 1 Bandung?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami Pengaruh Manajemen Hubungan Masyarakat Terhadap Partisipasi Masyarakat di SMK Negeri 1 Bandung. Namun secara spesifik tujuan penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi dan kejelasan tentang:

  1. Manajemen Hubungan Masyarakat di SMK Negeri 1 Bandung.
  2. Partisipasi Masyarakat di SMK Negeri 1 Bandung.
  3. Seberapa Besar Pengaruh Manajemen Hubungan Masyarakat Terhadap Partisipasi Masyarakat di SMK Negeri 1 Bandung.

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini dapat peneliti rangkum kedalalam 2 bagian yaitu:

1. Manfaat Praktis

  • Memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka pengembangan ilmu pendidikan terutama dikaitkan dengan aspek-aspek manajemen hubungan masyarakat.
  • Hasil penelitian dapat digunakan sebagai sumbangan pemikiran dalam rangka penyempurnaan konsep maupun implementasi praktik pendidikan sebagai upaya yang strategis dalam pengembangan kualitas sekolah.

2. Manfaat Teoritis

  • Hasil penelitian ini diharapkan yang bermanfaat bagi staf bagian humas sekolah sebagai bahan evaluasi sekaligus sebagai masukan dalam meningkatkan kualitas manajemen humas yang dapat mempengaruhi secara positif dalam usaha sekolah untuk membangun partisipasi masyarakat.

F. Landasan Teori

1.  Manajemen Hubungan Masyarakat

a. Pengertian Manajemen Hubungan Masyarakat

Hubungan Masyarakat, atau sering disingkat humas (bahasa Inggris: public relation) adalah seni menciptakan pengertian publik yang lebih baik, sehingga dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap suatu individu atau  organisasi. Menurut kamus Fund and Wagnel Pengertian Humas adalah segenap kegiatan dan teknik/kiat yang digunakan organisasi atau individu untuk menciptakan atau memelihara suatu sikap dan tanggapan yang baik dari pihak luar terhadap keberadaan dan aktivitasnya. Sedangkan pengertian Humas dalam Pendidikan adalah Rangkaian pengelolaan yang berkaitan dengan kegiatan hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat (orang tua murid) yang dimaksudkan untuk menunjang proses belajar mengajar di lembaga pendidikan bersangkutan (Anggoro, 2001).

Berdasarkan definisi diatas pegertian humas secara umum adalah fungsi yang khas antara organisasi dengan publiknya, atau dengan kata lain antara lembaga pendidikan dengan warga di dalam (guru, karyawan, siswa) dan warga dari luar (wali siswa, masyarakat, institusi luar, patner sekolah). Dalam konteks ini jelas bahwa humas atau public relation (PR) adalah termasuk salah satu elemen yang penting dalam suatu organisasi kelompok ataupun secara individu. Adapun pengertian manajemen humas adalah suatu proses dalam menangani perencanaan, pengorganisasian, mengkomunikasikan serta pengkoordinasian yang secara serius dan rasional dalam upaya pencapaian tujuan bersama dari organisasi atau lembaga yang diwakilinya. Dan untuk merealisasikan itu semua banyak hal yang harus dilakukan oleh humas dalam suatu lembaga pendidikan (Nasution, 2006).

b. Tugas-tugas Pokok atau Beban Kerja Humas

Tugas pokok hubungan sekolah dengan masyarakat dalam pendidikan antara lain:

  • Memberikan informasi dan menyampaikan ide atau gagasan kepada masyarakat atau pihak-pihak lain yang membutuhkannya.
  • Membantu pemimpin yang karena tugas-tugasnya tidak dapat langsung memberikan informasi kepada masyarakat atau pihak-pihak yang memerlukannya.
  • Membantu pemimpin mempersiapkan bahan-bahan tentang permasalahan dan informasi yang akan disampaikan atau yang menarik perhatian masyarakat pada saat tertentu.
  • Melaporkan tentang pikiran-pikiran yang berkembang dalam masyarakat tentang masalah pendidikan.
  • Membantu kepala sekolah bagaimana usaha untuk memperoleh bantuan dan kerja sama.
  • Menyusun rencana bagaimana cara-cara memperoleh bantuan untuk kemajuan pelaksanaan pendidikan.

c. Tujuan Hubungan Sekolah dan Masyarakat (orang tua murid)

Tujuan organisasi perkumpulan antara guru dan masyarakat (orang tua murid), adalah sebagai berikut:

  • Mengembangkan pengertian masyarakat (orang tua murid) tentang tujuan dan kegiatan pendidikan di sekolah.
  • Memperlihatkan bahwa rumah dan sekolah bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan pendidikan anak disekolah.
  • Memberi fasilitas pertukaran informasi antara orang tua dan guru yang kemudian mempunyai dampak terhadap pemecahan pendidikan anak.
  • Perolehan opini masyarakat tentang sekolah dijadikan perencanaan untuk pertemuan dengan orang tua dalam rangka untuk kebutuhan murid-murid.
  • Membantu pertumbuhan dan perkembangan pribadi anak.
  • Memajukan kualitas pembelajaran dan pertumbuhan peserta didik.
  • Memperkokoh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat.
  • Menggairahkan masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah.

d. Tehnik-tehnik Hubungan Sekolah dengan Masyarakat (orang tua murid)

Ada sejumlah tehnik yang kiranya dapat diterapkan lembaga pendidikan, tehnik-tehnik tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu tehnik tertulis, tehnik lisan, dan tehnik peragaan, tehnik elektronik.

1) Tehnik Tertulis

Hubungan antara sekolah dan masyarakat dapat dilakukan secara tertulis, cara tertulis yang dapat digunakan meliputi:

  • Buku kecil pada permulaan tahun ajaran, isinya dijelaskan tentang tata tertib, syarat-syarat masuk, hari-hari libur, hari-hari efektif.
  • Pamflet, selebaran yang biasanya berisi tentang sejarah lembaga pendidikan tersebut, staf pengajar, fasilitas yang tersedia, dan kegiatan belajar. Pamflet ini selain di bagikan ke wali murid juga bias di sebarkan ke masyarakat umum, selain untuk menumbuhkan pengertian masyarakat juga sekaligus untuk promosi lembaga.
  • Berita kegiatan murid, selebaran kertas yang berisi informasi singkat tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sekolah. Dengan membacanya orang tua murid mengetahui apa yang terjadi di lembaga pendidikan tersebut, khususnya kegiatan yang dilakukan murid.
  • Catatan berita gembira, tehnik ini sebenarnya mirip dengan berita kegiatan murid, keduanya sama-sama ditulis dan disebarkan ke orang tua. Hanya saja catatan berita gembira ini berisi tentang keberhasilan seoran murid. Berita tersebut ditulis di selebaran kertas dan disampaikan kepada wali murid atau bahkan disebarkan ke masyarakat.

2) Tehnik Lisan

Hubungan sekolah dengan masyarakat dapat juga lisan, yaitu:

  • Kunjungan rumah, dalam rangka mengadakan hubungan dengan masyarakat, pihak sekolah dapat mengadakan kunjungan ke rumah wali murid, warga atupun tokoh masyarakat. Melalui kunjungan rumah ini guru akan mengetahui masalah anak dirumahnya. Apabila setiap anak diketahui problemnya secara totalitas, maka program pendidikan akan lebih mudah direncanakan untuk disesuaikan dengan minatnya. Hal ini akan memperlancar mancapai tujuan program pendidikan sekolah tersebut.
  • Panggilan orang tua, pihak sekolah sesekali juga memanggil orang tua murid datang ke sekolah. Setelah datang, mereka diberi penjelasan tentang perkembangan pendidikan di lembaga tersebut. Mereka juga perlu diberi penjelasan khusus tentang perkembangan pendidikan anaknya.
  • Pertemuan, sekolah mengundang masyarakat dalam acara pertemuan khusus untuk membicarakan masalah atau hambatan yang dihadapi sekolah. Pertemuan ini sebaiknya diadakan pada waktu tertentu yang dapat dihadiri oleh semua pihak yang diundang. Sebelum pertemuan dimulai acaranya disusun terlebih dahulu. Oleh karena itu, dalam setiap akan mengadakan pertemuan sebaiknya dibentuk panitia penyelenggara.

3) Tehnik Peragaan

Hubungan sekolah dengan masyarakat dapat dilakukan dengan cara mengundang masyarakat melihat peragaan yang diselenggarakan sekolah. Peragaan yang diselenggarakan biasanya berupa pameran keberhasilan murid. Pada kesempatan itu kepala sekolah atau guru dapat menyampaikan program-program peningkatan mutu pendidikan dan juga masalah atau hambatan yang dihadapi dalam merealisasikan program-program itu.

4) Tehnik Elektronik

Seiring dengan perkembangan teknologi elektronik maka dalam mengakrabkan sekolah dengan orang tua murid dan masyarakat pihak sekolah dapat menggunakan sarana elektronik, misalkan dengan telpon, televisi, ataupun radio, sekaligus sebagai sarana untuk promosi pendidikan.

2.  Partisipasi Masyarakat

a. Pengertian Partisipasi Masyarakat

Partisipasi masyarakat menurut Isbandi (2007: 27) adalah keikutsertaan masyarakat dalam proses pengidentifikasian masalah dan potensi yang ada di masyarakat, pemilihan dan pengambilan keputusan tentang alternatif solusi untuk menangani masalah, pelaksanaan upaya mengatasi masalah, dan keterlibatan masyarakat dalam proses mengevaluasi perubahan yang terjadi. Menurut Ach. Wazir Ws., et al. (1999: 29) partisipasi bisa diartikan sebagai keterlibatan seseorang secara sadar ke dalam interaksi sosial dalam situasi tertentu.

Pentingnya partisipasi dikemukakan oleh Conyers (1991: 154-155) sebagai berikut: pertama, partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap masyarakat setempat,  yang tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek-proyek akan gagal; kedua, bahwa masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena mereka akan lebih mengetahui seluk-beluk proyek tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap proyek tersebut; ketiga, bahwa merupakan suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat mereka sendiri.

Dari tiga pakar yang mengungkapkan definisi partisipasi di atas, dapat dibuat kesimpulan bahwa partisipasi masyarakat adalah keterlibatan aktif dari seseorang, atau sekelompok orang (masyarakat) secara sadar untuk berkontribusi secara sukarela dalam program pembangunan dan terlibat mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring sampai pada tahap evaluasi.

b. Bentuk-bentuk Partisipasi Masyarakat

Adapun bentuk-bentuk Partisipasi Masyarakat menurut Hamijoyo (2007: 21), Chapin (2002: 43) & Holil (1980: 81) sebagai berikut :

1) Partisipasi Buah Pikiran

      Partisipasi buah pikiran lebih merupakan partisipasi berupa sumbangan ide, pendapat atau buah pikiran konstruktif, baik untuk menyusun program maupun untuk memperlancar pelaksanaan program dan juga untuk mewujudkannya dengan memberikan pengalaman dan pengetahuan guna mengembangkan kegiatan yang diikutinya.

2) Partisipasi Tenaga

      Partisipasi yang diberikan dalam bentuk tenaga untuk pelaksanaan usaha-usaha yang dapat menunjang keberhasilan suatu program.

3)  Partisipasi Harta Benda

       Partisipasi dalam bentuk menyumbang harta benda, biasanya berupa alat-alat kerja  atau perkakas.

4)  Partisipasi Keterampilan

       Memberikan dorongan melalui keterampilan yang dimilikinya kepada anggota masyarakat lain yang membutuhkannya.

5)  Partisipasi Sosial

     Partisipasi sosial diberikan oleh partisipan sebagai tanda paguyuban. Misalnya arisan, menghadiri kematian, dan lainnya dan dapat juga sumbangan perhatian atau tanda kedekatan dalam rangka memotivasi orang lain untuk berpartisipasi.

c. Tipe-tipe Partisipasi Masyarakat

1)  Partisipasi pasif/ manipulative

  • Masyarakat berpartisipasi dengan cara diberitahu apa yang sedang atau telah terjadi.
  • Pengumuman sepihak oleh manajemen atau pelaksana proyek tanpa memperhatikan tanggapan masyarakat.
  • Informasi yang dipertukarkan terbatas pada kalangan profesional di luar kelompok sasaran.

2)  Partisipasi dengan cara memberikan informasi

  • Masyarakat berpartisipasi dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian seperti dalam kuesioner atau sejenisnya.
  • Masyarakat tidak punya kesempatan untuk terlibat dan mempengaruhi proses penyelesaian.
  • Akurasi hasil penelitian tidak dibahas bersama masyarakat.

3) Partisipasi melalui konsultasi

  • Masyarakat berpartisipasi dengan cara berkonsultasi.
  • Orang luar mendengarkan dan membangun pandangan-pandangannya sendiri untuk kemudian mendefinisikan permasalahan dan pemecahannya, dengan memodifikasi tanggapan-tanggapan masyarakat.
  • Tidak ada peluang bagi pembuat keputusan bersama.
  • Para profesional tidak berkewajiban mengajukan pandangan-pandangan masyarakat (sebagai masukan) untuk ditindaklanjuti.

4)  Partisipasi untuk insentif materil

  • Masyarakat berpartisipasi dengan cara menyediakan sumber daya seperti tenaga kerja, demi mendapatkan makanan, upah, ganti rugi, dan sebagainya.
  • Masyarakat tidak dilibatkan dalam eksperimen atau proses pembelajarannya.
  • Masyarakat tidak mempunyai andil untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada saat insentif yang disediakan/diterima habis.

5)  Partisipasi fungsional

  • Masyarakat berpartisipasi dengan membentuk kelompok untuk mencapai tujuan yang berhubungan dengan proyek.
  • Pembentukan kelompok (biasanya) setelah ada keputusan-keputusan utama yang disepakati.
  • Pada awalnya, kelompok masyarakat ini bergantung pada pihak luar (fasilitator, dll) tetapi pada saatnya mampu mandiri.

6) Partisipasi interaktif

  • Masyarakat berpartisipasi dalam analisis bersama yang mengarah pada perencanaan kegiatan dan pembentukan lembaga sosial baru atau penguatan kelembagaan yang telah ada.
  • Partisipasi ini cenderung melibatkan metode inter-disiplin yang mencari keragaman perspektif dalam proses belajar yang terstruktur dan sistematik.
  • Kelompok-kelompok masyarakat mempunyai peran kontrol atas keputusan-keputusan mereka, sehingga mereka mempunyai andil dalam seluruh penyelenggaraan kegiatan.

7) Self mobilization

  • Masyarakat berpartisipasi dengan mengambil inisiatif secara bebas (tidak dipengaruhi/ditekan pihak luar) untuk mengubah sistem-sistem atau nilai-nilai yang mereka miliki.
  • Masyarakat mengembangkan kontak dengan lembaga-lembaga lain untuk mendapatkan bantuan-bantuan teknis dan sumberdaya yang dibutuhkan.
  • Masyarakat memegang kendali atas pemanfaatan sumberdaya yang ada.

G. Rencana Kerja Pengumpulan Data

1.  Metode dan Pendekatan

Metode penelitian yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian secara efektif dan efisien, sebagaimana yang dikemukakan oleh Arief Fucham (1992: 5), bahwa “Metode penelitian merupakan strategi umum yang dianut untuk mengunpulkan dan menganalisis data yang digunakan untuk menjawab permasalahan yang dihadapi”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu perolehan informasi atau data yang relevan dengan masalah yang diteliti melalui penelaahan berbagai konsep atau teori yang dikemukakan oleh para ahli.

 Sebagaimana yang dijelaskan oleh Muhamad Ali (1993: 12), yaitu:

“Metode penelitian deskriptif digunakan untuk berupaya memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Dilakukan dengan langkah-langkah pengumpulan, klasifikasi, dan analisis atau pengolahan data serta membuat kesimpulan dan laporan dengan tujuan utama untuk membuat penggambaran tentang suatu keadaan yang objektif dalam suatu deskripsi situasi.” Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, yaitu pendekatan yang dimungkinkan dilakukannya pencatatan dan penganalisaan data hasil penelitian secara eksak dengan menggunakan perhitungan statistik.

2.   Teknik Pengumpulan Data

Menentukan sampel dan populasi dengan menggunakan Tehnik Sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Menggunakan Probility Sampling ialah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi sampel. Peneliti menggunakan Teknik Simple Random sampling. Dikatakan sederhana karena pengambilan sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperlihatkan strata yang ada dalam populasi itu. Skala Pengukuran menggunakan skala Likert. Sekala litkert digunakan untuk menggunakan sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Skala Litkert dengan menggunakan Bentuk Pilihan ganda. Membuat instrument penelitian, dengan membuat kisi-kisi instrumen. Teknik Pengumpulan data dengan menggunakan Kuesioner (angket) merupakan teknik pengumpulan data yang di lekukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk menjawab pertanyaan.

3.  Populasi Penelitian

Data dan informasi dari sumber data yang kebenarannya dapat dipercaya sangat diperlukan dalam setiap penelitian. Data digunakan untuk menjawab masalah diteliti untuk menguji hipotesis. Semua sumber data ini disebut populasi, sebagimana dikemukakan Kartini Kartono (1996 : 116) bahwa: “Populasi merupakan semua jumlah individu yang akan dijadikan sebagai subjek penelitian”.

Berdasarkan konsep tersebut, maka populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat (orang tua/wali murid) yang dapat dihitung dari jumlah total siswa di SMK Negeri 1 Bandung sebanyak 1564 siswa, tersebar di kelas X sebanyak 538 siswa, kelas  XI sebanyak 558 siswa, kelas XII sebanyak 468 siswa.

4.   Sampel Penelitian

Pengambilan sampel dalam suatu penelitian dilakukan sedemikian rupa, sehingga diperoleh sampel yang benar-benar berfungsi sebagai contoh dan bersifat representative, artinya dapat mewakili karakteristik dari populasi penelitian secara keseluruhan, atau dapat menggambarkan keadaan yang sebenarnya, sebagaimana dikemukakan Winarto Surakhmad (1992:93) Bahwa: “karena tidak memungkinkannya penyelidikan selalu langsung menyelidiki segenap populasi,  maka sering kali penyelidik terpaksa menggunakan sebagaian saja dari populasi, yakni sebuah sampel yang dapat dipandang representative terhadap populasi itu. Oleh karena itu lah, maka penarikan atau pembuatan sampel (yakni penarikan sebagian dari populasi untuk mewakili seluruh populasi) adalah penting. Batas minimal untuk responden adalah 30 orang, sebagaimana dikemukakan oleh Suharsini Arikunto (1998:107) Bahwa:

Untuk sekedar ancer-ancer, maka apabila subjeknya kurang dari seratus orang lebih baik diambil semua, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah subjek besar dapat diambil 10-15% atau 20-25% dengan minimal 30 orang.

Berdasarkan konsep tersebut, maka selanjutnya sampel yang akan dipergunakan dalam penelitian ini 10% dari jumlah total siswa yaitu 1564 siswa, dengan demikian jumlah sampel sebanyak 156 siswa. Secara rinci dapat disajikan sebagai berikut:

Sampel Penelitian

No

Siswa

Jumlah

1

2

3

Kelas X

Kelas XI

Kelas XII

46 siswa

60 siswa

50 siswa

Jumlah

156 siswa

 

H. Rencana Kerja Pengolahan Data

1. Definisi Konseptual dan Operasional

a. Definisi konseptual

Manajemen humas adalah suatu proses dalam menangani perencanaan, pengorganisasian, mengkomunikasikan serta pengkoordinasian yang secara serius dan rasional dalam upaya pencapaian tujuan bersama dari organisasi atau lembaga yang diwakilinya. Dan untuk merealisasikan itu semua banyak hal yang harus dilakukan oleh humas dalam suatu lembaga pendidikan (Nasution, 2006).

Partisipasi masyarakat menurut Isbandi (2007:27) adalah keikutsertaan masyarakat dalam proses pengidentifikasian masalah dan potensi yang ada di masyarakat, pemilihan dan pengambilan keputusan tentang alternatif solusi untuk menangani masalah, pelaksanaan upaya mengatasi masalah, dan keterlibatan masyarakat dalam proses mengevaluasi perubahan yang terjadi.

b. Definisi Operasional

Penelitian ini mengkaji dua variabel, yaitu variabel Manajemen Hubungan Masyarakat sebagai variabel independen atau bebas (X), dan variabel Partisipasi Masyarakat sebagai variabel dependen atau terikat (Y).

Manajemen humas merupakan suatu proses dari perencanaan hingga pengevaluasian yang bertujuan untuk menanamkan kesepahaman dan ketertarikan masyarakat untuk berperan dalam kemajuan sekolah.

Partisipasi masyarakat adalah keikutsertaan masyarakat baik berbentuk buah pikiran, tenaga, uang, keterampilan ataupun sosial dalam sebuah program atau kegiatan atas dasar kemauan dan kesadaran akan pentingnya program atau kegiatan tersebut.

2. Prosedur Pengolahan Data

  • Seleksi data, yaitu dengan memeriksa jawaban responden berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
  • Penentuan bobot nilai untuk setiap kemungkinan jawaban pada setiap item dengan skala 5, yaitu 5,4,3,2,1.
  • Menghitung Wheight Mean Score (WMS) presentase skor rata-rata variabel X (Manajemen Humas) dan variabel Y (Partisipasi Masyarakat) untuk mengetahui kecenderungan jawaban responden terhadap variabel penelitian tersebut.
  • Menghitung skor mentah menjadi skor baku.
  • Uji Normalitas Distribusi.
  • Analisis Korelasi meliputi : Korelasi product moment, Uji Signifikansi dan koefisien determinasi.
  • Uji Intensitas regresi untuk mencapai hubungan fungsional antara variabel X (Manajemen Humas) dengan variabel Y (Partisipasi Masyarakat).

I. Jadwal Waktu

            Rencana dan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan penelitian ini selama 4 bulan. Penelitian ini bertempat di SMK Negeri 1 Bandung. Dengan rincian sebagai berikut:

Untitled1

J. Referensi

Indrafachrudi, Soekarto.(1994).Bagaimana Mengakrabkan Sekolah dengan Orang tua Murid dan Masyarakat. Malang: IKIP.

Isbandi Rukminto Adi.(2007).Perencanaan Partisipatoris Berbasis Aset Komunitas: dari Pemikiran Menuju Penerapan. Depok: FISIP UI Press.

Mikkelsen, Britha.(1999).Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-upaya Pemberdayaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Mulyasa, Endang.(2007). Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Purwanto, Ngalim. Drs, M.P.(2008).Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya.

Suryosubroto, Drs.(2004).Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Syaiful Sagala, DR, M. Pd.(2009).Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta.

Basuki, Markus.(2010). MANAJEMEN HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT [online]. Tersedia: http://cor-amorem.blogspot.com/2010/01/manajemen-humas.html (29 Desember 2011)

Khoiri, Nur.(2011). Manajemen Partisipasi Masyarakat dalam Pendidikan [online]. Tersedia: http://nurkhoirionline.blogspot.com/2011/07/manajemen-partisipasi-masyarakat-dalam.html (29 Desember 2011)

____________.(2009).Manajemen Humas Di Sekolah [online]. Tersedia: http://alone-education.blogspot.com/2009/07/manajemen-humas-di-sekolah.html (29 Desember 2011)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Desember 2013 in Education

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: