RSS

Pendekatan Psychodynamic dalam Kepemimpinan

16 Des

Pendekatan psychodynamic dalam kepemimpinan punya 2 asumsi dasar. Pertama, karakteristik personal dari individu, telah tertanam jauh, dan sulit untuk diubah kendati lewat aneka cara. Kuncinya adalah menerima karakteristik seseorang, memahami dampaknya terhadap para pengikut, dan menerima keistimewaan dan faktor ideosinkretik dari pengikut. Kedua, orang punya motif dan perasaan yang ada di alam bawah sadarnya, dan tentu saja tidak disadarinya. Sebab itu, perilaku seseroang tidak hanya merupakan hasil dari tindakan dan respon yang bisa diamati, melainkan juga residu emosi dari pengalaman sebelumnya.

Pendekatan psikodinamik berakar dari karya Sigmund Freud tahun 1938 yaitu psikoanalisis. Freud berusaha memahami dan membantu para pasiennya yang punya masalah dan tidak bisa ditangani oleh metode-metode konvensional. Ia lalu menghipnotis pasien guna menyingkap alam bawah sadanya. Kajian Freud lalu dilanjutkan muridnya, Carl Gustave Jung. Kajian psikoanalitis Frued dan Jung inilah yang kemudian mendasari pendekatan psikodinamika dalam kepemimpinan.

Pendekatan psikodinamika dalam kepemimpinan awalnya dilansir oleh Abraham Zaleznik tahun 1977, seorang profesor manajemen di Harvard University. Kajian ini berhutang banyak pada para pemimpin karismatik. Dalam masa kontemporer, Michael Maccoby tahun 2003 mengembangkan pendekatan psikodinamik yang memadukan antara antropologi dengan pelatihan psikoanalitik, dan mengembangkan apa yang dikenal sebagai narsistik produktif selaku pemimpin yang visioner. Pendekatan psikodinamik ini juga menganggap bahwa gaya kepemimpinan seseorang dipengaruhi oleh latar belakang keluarga dan polesan-polesan psikologis.

Carl Gustav Jung kemudian mengembangkan alat ukur yang menjadi dasar pengukuran Kepemimpinan Psikodinamik. Alat ukur tersebut dikembangkan berdasarkan 4 dimensi. Pertama, menekankan pada dimana orang mencurahkan energinya (internal ataupun eksternal). Kedua, melibatkan cara orang mengumpulkan informasi (secara zakelijk ataupun lebih intuitif dan acak). Ketiga, cara orang membuat keputusan (apakah rasional-faktual ataukah subyektif-personal). Keempat, menekankan pada perbedaan antara orang yang terencana dengan yang spontan. Hasilnya, Jung membuat 4 klasifikasi dasar yaitu :

1) Ekstraversi versus introversi, yang meliputi apakah orang lebih sedia mencurahkan energi kepada aspek eksternal atau internalnya; (2) Sensing versus intuiting, yang meliputi apakah orang lebih suka mengumpulkan informasi secara tepat ataukah secara intuitif; (3) Thingking versus feeling, yang meliputi apakah orang lebih suka membuat keputusan rasional atau subyektif; (4) Judging versus perceiving, yang meliputi apakah orang lebih suka hidup teratur ataukah spontan. Berdasarkan 4 modelnya, Jung dapat membuat 16 kombinasi.

1. Ekstraversi dan Introversi.

 Ektraversi adalah kecenderungan mengumpulkan informasi, inspirasi, dan energi dari luar diri. Satu karakteristik ekstrovert adalah mereka bicara banyak hal. Orang seperti ini suka berhubungan dengan orang lain, dan menyukai tindakan. Mereka kerap dilihat bersemangat dan disukai dalam situasi sosial. Introversi menggunakan gagasan dan pemikirannya sendiri tanpa membutuhkan rangsangan eksternal. Orang seperti ini lebih suka mendengar ketimbang bicara. Mereka suka mengumpulkan informasi lewat membaca dan menonton televisi. Satu tanda dari introversi adalah hasrat untuk sendiri agar bisa berpikir dan memulihkan diri.

2. Sensing dan Intuition.

Dimensi sensing dan intuition terkait dengan bagaimana orang memperoleh informasi. Sensor mengumpulkan data lewat perasa (sensing), dan pemikiran mereka berkisar di sekitar masalah fakta dan praktek. Orang seperti ini suka pada rincian, dan suka berhubungan dengan dunia nyata. Mereka fokus pada apa yang bisa mereka lihat, dengar, sentuh, baui, dan rasakan. Ketepatan dan akurasi adalah favorit orang yang berdimensi sensing. Intuition adalah orang yang intuitif. Mereka cenderung lebih konseptual dan teoretis. Pengalaman sehari-hari membosankan mereka. Mereka lebih suka kreativitas, berfantasi tentang masa depan, dan melakukan hal-hal yang tidak umum saat menyelesaikan masalah. Dalam mengumpulkan informasi, intuition mencari kemungkinan dan keterhubungan; mereka menggunakan kerangka teoretis guna memperoleh dan memahami data. Kontras dengan sensing, intuitor lebih suka menggunakan “kira-kira” atau “sejauh yang saya tahu.”

3. Thinking dan Feeling.

Setelah informasi diperoleh, orang perlu membuat keputusan berdasarkan data yang mereka punya. Dua cara memutuskan adalah “thinking” dan “feeling.” Thinking menggunakan logika, ketat pada obyektivitas, dan analitis. Secara bersamaan, mereka kerap terpisah dan tidak terlibat dengan orang lain, lebih suka melakukan keputusan berdasarkan hasil yang terukur. Kebalikannya pada “perasa.” Mereka cenderung lebih subyektif, mencari harmoni dengan orang lain, dan memperhatikan perasaan orang lain. Orang-orang seperti ini lebih terlibat dengan orang lain di pekerjaan atau di manapun dan dipandang sebagai bijak dan manusiawi.

4. Judging dan Perceiving.

Judger lebih suka sesuatu yang terstruktur, terencana, terjadual, dan ada penyelesaian. Mereka lebih pasti dan step-by-step, serta yakin pada cara ia bertindak. Perceiver cenderung lebih fleksibel, adaptif, tentatif, dan terbuka. Mereka ini lebih spontan. Perceiver menghindari deadline yang serius dan bisa mengubah pikiran dan keputusannya tanpa kesulitan.

Tabel kelebihan dan kekurangan dari dimensi Jung sebagai berikut :

Untitled12

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Desember 2013 in Education

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: