RSS

MULTIPLE INTELLIGENCE, SOCIAL INTELLIGENCE, ESQ

06 Jan

I. Multiple Intelligence (Kecerdasan Majemuk/Ganda)

Kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan suatu masalah; kemampuan untuk menciptakan masalah baru untuk dipecahkan; kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan suatu pelayanan yang berharga dalam suatu kebudayaan masyarakat (Howard Gardner). Prof. Howard Gardener seorang ahli riset dari Amerika mengembangkan model kecerdasan “multiple intelligence”. Multiple intelligence artinya bermacam-macam kecerdasan. Ia mangatakan bahwa setiap orang memilki bermacam-macam kecerdasan, tetapi dengan kadar pengembangan yang berbeda. Yang di maksud kecerdasan dalam arti sempit menurut Gardener adalah suatu kumpulan kemampuan atau keterampilan yang dapat ditumbuhkembangkan.

Menurut Howard Gardener dalam setiap diri manusia ada 8 macam kecerdasan, yaitu:

1. Kecerdasan linguistik

adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Kecerdasan ini mencakup kepekaan terhadap arti kata, urutan kata, suara, ritme dan intonasi dari kata yang di ucapkan. Termasuk kemampuan untuk mengerti kekuatan kata dalam mengubah kondisi pikiran dan menyampaikan informasi.

Profesi: pustakawan, editor, penerjemah, jurnalis, tenaga bantuan hukum, pengacara, sekretaris, guru bahasa, orator, pembawa acara di radio / TV, dan sebagainya.

2. Kecerdasan logik matematik

ialah kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah. Ia mampu memikirkan dan menyusun solusi (jalan keluar) dengan urutan yang logis (masuk akal). Ia suka angka, urutan, logika dan keteraturan. Ia mengerti pola hubungan, ia mampu melakukan proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir deduktif artinya cara berpikir dari hal-hal yang besar kepada hal-hal yang kecil. Proses berpikir induktif artinya cara berpikir dari hal-hal yang kecil kepada hal-hal yang besar.

Profesi: auditor, akuntan, ilmuwan, ahli statistik, analisis / programer komputer, ahli ekonomi, teknisi, guru IPA / Fisika, dan sebagainya.

3. Kecerdasan visual dan spasial

adalah kemampuan untuk melihat dan mengamati dunia visual dan spasial secara akurat (cermat). Visual artinya gambar, spasial yaitu hal-hal yang berkenaan dengan ruang atau tempat. Kecerdasan ini melibatkan kesadaran akan warna, garis, bentuk, ruang, ukuran dan juga hubungan di antara elemen-elemen tersebut. Kecerdasan ini juga melibatkan kemampuan untuk melihat obyek dari berbagai sudut pandang.

Profesi: insinyur, surveyor, arsitek, perencana kota, seniman grafis, desainer interior, fotografer, guru kesenian, pilot, pematung, dan sebagainya.

4. Kecerdasan musik

adalah kemampuan untuk menikmati, mengamati, membedakan, mengarang, membentuk dan mengekspresikan bentuk-bentuk musik. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap ritme, melodi dan timbre dari musik yang didengar. Musik mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap  perkembangan kemampuan matematika dan ilmu sains dalam diri seseorang.

Profesi: DJ, musikus, pembuat instrumen, tukang stem piano, ahli terapi musik, penulis lagu, insinyur studio musik, dirigen orkestra, penyanyi, guru musik, penulis lirik lagu, dan sebagainya.

5. Kecerdasan interpersonal

ialah kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan perasaan orang lain. Peka pada ekpresi wajah, suara dan gerakan tubuh orang lain dan ia mampu memberikan respon secara efektif dalam berkomunikasi. Kecerdasan ini juga mampu untuk masuk ke dalam diri orang lain, mengerti dunia orang lain, mengerti pandangan, sikap orang lain dan umumnya dapat memimpin kelompok.

Profesi: administrator, manager, kepala sekolah, pekerja bagian personalia / humas, penengah, ahli sosiologi, ahli antropologi, ahli psikologi, tenaga penjualan, direktur sosial, CEO, dan sebagainya.

6. Kecerdasan intrapersonal

adalah kemampuan yang berhubungan dengan kesadaran dan pengetahuan tentang diri sendiri. Dapat memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Mampu memotivasi dirinya sendiri dan melakukan disiplin diri. Orang yang memilki kecerdasan ini sangat menghargai nilai (aturan-aturan) etika (sopan santun) dan moral.

Profesi: ahli psikologi, ulama, ahli terapi, konselor, ahli teknologi, perencana program, pengusaha, dan sebagainya.

7. Kecerdasan kinestetik

ialah kemampuan dalam menggunakan tubuh kita secara terampil untuk mengungkapkan ide, pemikiran dan perasaan. Kecerdasan ini juga meliputi keterampilan fisik dalam bidang koordinasi, keseimbangan, daya tahan, kekuatan, kelenturan dan kecepatan.

Profesi: ahli terapi fisik, ahli bedah, penari, aktor, model, ahli mekanik / montir, tukang bangunan, pengrajin, penjahit, penata tari, atlet profesional, dan sebagainya.

8. Kecerdasan naturalis

adalah kemampuan untuk mengenali, membedakan, mengungkapkan dan membuat kategori terhadap apa yang di jumpai di alam maupun lingkungan. Intinya adalah kemampuan manusia untuk mengenali tanaman, hewan dan bagian lain dari alam semesta.

Profesi: dokter hewan, ahli botani, ahli biologi, pendaki gunung, pengurus organisasi lingkungan hidup, kolektor fauna / flora, penjaga museum zoologi / botani dan kebun binatang, dan sebagainya.

Selain kedelapan jenis kecerdasan diatas, ternyata masih ada bentuk kecerdasan lain yaitu:

Kecerdasan Eksistensial

yaitu kemampuan untuk menikmati pemikiran-pemikiran dan ingin tau mengenai kehidupan, kematian, dan realita yang ada. Anak-anak dengan tingkat kecerdasan eksistensial yang tinggi mungkin akan menunjukkan keingintahuan mengenai bagaimana bumi bertahun-tahun yang lalu, mengapa kita ada di bumi, kemana makhluk hidup setelah mati, dan lain-lain

II. Social Intelligence (Kecerdasan Sosial)

Social intelligence adalah ukuran kemampuan diri dalam pergaulan di masyarakat dan kemampuan berinteraksi sosial dengan orang-orang di sekeliling kita. Fokusnya menjelajahi wilayah kehidupan manusia yang sama dari sudut pandang yang berbeda, yakni pada momen-momen amat singkat yang terjadi ketika berinteraksi, karena momen itu memiliki konsekuensi mendalam, yakni bagaimana kita menciptakan satu momen ke momen lain, melalui jumlah seluruh momen ini.

Kecerdasan sosial atau dikenal juga dengan istilah Social Intelligence adalah kemampuan untuk memahami, mengelola dan bertindak bijaksana terhadap orang lain. Tidak semua manusia mempunyai kecerdasan sosial yang sempurna. Dalam kecerdasan sosial ada yang dikenal dengan “Tiga Sekawan Kelam” yaitu mereka yang bermasalah dengan Social Intelligence. Tiga Sekawan Kelam itu adalah :

1. Narsis

Mereka yang dikategorikan sebagai Narsis memiliki ciri-ciri : berprinsip “Dunia ada untuk memujaku”. Mereka ini biasanya bersifat tidak peduli dengan orang lain, merasa kebutuhan dirinya adalah yang terpenting dan egois.  Ciri lain dari Narsis ini  memiliki ilusi diri dimana ia merasa orang lain menyukai dirinya, padahal tidak demikian kenyataannya. Narsis tidak selalu berkonotasi negatif. Ada hal baik yang bisa dilihat dari seorang  Narsis. Salah satunya ialah mereka senang dengan pekerjaan tantangan tinggi, walaupun demi mendapatkan kepuasan dengan menerima pujian atau tepuk tangan dari orang lain. Jika kita perhatikan, kebanyakan orang yang sukses adalah mereka yang tergolong Narsis.

Strategi yang bisa digunakan untuk menghadapi orang yang memiliki karakter Narsis adalah dengan masuk dahulu ke dunianya dengan cara memujinya, lalu arahkan perlahan ke dunia kita.

2. Machiavelli

Ciri – ciri Machiaveli adalah berprinsip “Dunia ada sebagai alatku”.  Mereka tidak selalu ingin popular, tetapi agenda dirinya menjadi yang utama. Mereka mungkin mau peduli dan mendengarkan orang lain, tetapi tetap dengan tujuan, agar goalnya tercapai. Kemudian mereka mempunyai empati visi-terowongan, dimana dia bisa berempati dan memusatkan perhatian, jika ada tujuan yang ingin dicapainya melalui orang  itu.

Strategi yang bisa digunakan untuk Machiaveli adalah selalu waspada dan berhati-hati. Boleh saja untuk menentang konsepnya, tetapi jangan sampai membuatnya emosional.

3. Sosiopath

Mereka memiliki prinsip “ Dunia ada untuk dipermainkan, dikelabui, digunakan ataupun dibuang”. Sifat mereka suka akan perbedaan, senang membuat sekelilingnya merasa menderita, sulit berempati, dan parahnya mereka semakin bersemangat ketika orang lain sedang kesakitan dan menderita. Tetapi orang dengan karakter Sosiopath ini juga berani menerima  hukuman. Namun demikian mereka akan tetap merasa dirinya benar.

Strategi menghadapi Sosiopath adalah berusaha untuk membongkar pola, saat ia menggunakan pola penyiksaan.

Dari semua strategi yang disampaikan untuk menghadapi Tiga Sekawan Kelam itu, yang terpenting ialah memberikan cinta dan perhatian. Cinta dan perhatian diharapkan dapat merubah mereka. Syaratnya tentulah dengan kesabaran, ikuti “permainannya” namun jangan terjebak. Tetap waspada. Pelan-pelan mereka akan menyadari bahwa ada cara lain yang lebih nyaman untuk dinikmati tanpa membuat orang lain  menderita.

Hal yang menyebabkan kecerdasan sosial tumpul dilatarbelakangi oleh  proses pendidikan di keluarga maupun masyarakat mengalami salah arah. Penanaman nilai-nilai pendidikan di keluarga, acapkali hanya mengejar status dan materi. Orang tua mengajarkan pada anaknya bahwa keberhasilan seseorang itu ditentukan oleh pangkat atau kekayaaan yang dimilikinya. Masyarakat juga begitu, mendidik orang semata mengejar tahta dan harta.  Proses ini tampak pada masyarakat yang lebih menghargai orang dari  jabatan dan kekayaan yang digenggamnya. Kondisi ini membuat orang terobsesi untuk memperoleh kedudukan tinggi dan kekayaan yang berbuncah-buncah agar terpandang di masyarakat. Untuk mengejar ambisi tersebut orang kadang meninggalkan etika dan moral, bahwa cara yang ditempuh untuk mewujudkan impiannya itu bisa menyengsarakan orang lain.

Akibat yang ditimbulkan dari kecerdasan sosial yang tidak terasah  pada individu adalah memberi kontribusi pada perilaku anarkis. Hal ini dikarenakan individu yang kecerdasan sosialnya rendah tidak akan mampu berbagi dengan orang lain dan ingin menang sendiri. Kalau dia gagal akan melakukan apa saja,  asal   tujuannya bisa tercapai, tak peduli tindakannya merusak lingkungan, dan tidak merasa yang dikerjakannya menginjak harkat dan martabat kemanusiaan. Sehingga diskripsi kepribadian seperti ini, berpotensi melakukan perilaku anarkis, ketika hasrat pribadinya tidak tercapai atau sedang menghadapi masalah dengan orang atau kelompok lain.

Kecerdasan sosial menjadi solusi efektif meredam anarkis, karena orang yang memiliki kecerdasan sosial tinggi, mempunyai seperangkat keterampilan psikologis untuk memecahkan masalah dengan santun dan damai. Sikap tersebut adalah

  • tumbuh social awareness (kesadaran situasional atau sosial) adalah kemampuan individu dalam mengobservasi, melihat, dan mengetahui suatu konteks situasi sosial,  sehingga mampu mengelola orang-orang atau peristiwa.
  • punya kemampuan charity. Yaitu kecakapan ide, efektivitas, dan pengaruh kuat dalam melakukan komunikasi dengan orang atau kelompok  lain.
  • berkembang empathy. Kemampuan individu melakukan hubungan dengan orang lain pada pada tingkat yang lebih personal.
  • terampil interaction  style. Individu memiliki banyak skenario saat berhubungan dengan orang lain, luwes, dan adaptif memasuki situasi berbeda-beda.

Langkah kongkret yang dilakukan untuk memahamkan, membudayakan dan  mengimplementasikan kecerdasan sosial  melalui pemberdayan masyarakat. Kelompok masyarakat yang menjadi sasaran pemberdayaan, diantaranya organisasi-organisasi ditingkat lokal, seperti takmir masjid, karang taruna, rukun tetangga, dasa wisma, arisan, paguyuban keluarga (trah) dan lain-lain. Model pemberdayaan menggunakan edutainment show. Agenda kegiatan yang bisa dikerjakan di lapangan adalah mengemas training, live musik, pemutaran film, ceramah ahli, dan menghadirkan tokoh yang disuguhkan dengan gaya entertainment.

Model pemberdayaan seperti itu merupakan cara efektif karena tidak terkesan menggurui, sebagai proses pembelajaran yang menggugah kesadaran dan menanamkan nilai-nilai  mengenai arti pentingnya kecerdasan sosial.

III. ESQ (Emotional and Spiritual Quotient)

Dalam ESQ, kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna spiritual terhadap pemikiran, perilaku dan kegiatan, serta mampu menyinergikan IQ, EQ, dan SQ secara komperhensif. Spiritual Intelligence (SI) adalah kemampuan dan kesadaran untuk menggunakan informasi spiritual dalam rangka menyelesaikan permasalahan sehari-hari dan dalam rangka untuk mencapai tujuan. Sedangkan Spiritual Quotient (SQ) adalah ukuran yang digunakan untuk mengetahui tingkatan Spiritual Intelligence (SI) kita.

Setiap manusia memiliki tiga jenis kecerdasan. Ada kecerdasan intelektual atau Intellectual Quotient (IQ), ada kecerdasan emosi atau Emotional Quotient (EQ), dan ada pula kecerdasan spiritual atau Spiritual Quotient (SQ). IQ dan EQ sudah dikenal umum oleh masyarakat. Bahkan, banyak pula orang yang berpendapat bahwa kedua jenis kecerdasan inilah yang menjadi faktor penentu kesuksesan seseorang. Mereka tidak menyadari tanpa adanya SQ segala kebaikan dan kelebihan dari IQ dan EQ tidak akan membawa hasil yang optimal dalam kehidupan. Menurut Ary Ginanjar Agustian dalam bukunya yang berjudul ESQ Power: Sebuah Inner Journey Melalui Al-Ihsan, SQ sangat penting untuk mengajarkan nilai-nilai kebenaran yang mencegah lahirnya hitler-hitler baru atau firaun-firaun kecil di muka bumi. Banyak yang menyangka bahwa makna kehidupan bisa diraih melalui materi. Tapi sebenarnya, makna yang paling tinggi dan paling bernilai, saat manusia merasa bahagia, justru terletak pada aspek spiritualnya. Ketiga jenis kecerdasan ini harus berintegrasi menjadi satu kesatuan. Hubungan di antara ketiganya bisa diibaratkan seperti sebuah telur ayam. IQ merupakan kulit luar, EQ merupakan putih telur, sedangkan SQ merupakan kuning telur dan menjadi inti. Kecerdasan-kecerdasan itu dapat disinergikan melalui Emotional Spiritual Quotient (ESQ). ESQ adalah model mekanisme sistematis untuk me-‘manage’ ketiga dimensi manusia, yaitu body, mind, dan soul. IQ diukur melalui kecerdasan, EQ diukur melalui interaksi sesama manusia, sedangkan SQ diukur melalui sifat-sifat baik dari Tuhan YME yang dipahami dan diterapkan. Intinya, jika manusia mengenal diri sendiri secara spiritual, maka ia juga akan mengenal Tuhannya. Pada saat itulah terjadi perubahan energi spiritual, juga perubahan cara pandang dan cara berpikir kita sebagai manusia. Hal ini tentunya akan mempengaruhi ketenangan dan keselarasan hidup manusia.

Selama ini masyarakat hanya terpaku pada dua kecerdasan yakni IQ (Intellectual Quotient) dan EQ (Emotional Quotient) . Hal ini memang tidaklah salah, karena IQ dan EQ selama ini dipakai sebagai tolok ukur kecerdasan seseorang. Tetapi, jika hanya dua kecerdasan tersebut (IQ dan EQ) tentunya masih ada sesuatu yang kurang. Sebab IQ dan EQ hanya berorientasi pada materi semata, padahal manusia juga memerlukan sisi spiritualitas di dalam hidupnya, maka muncullah istilah SQ. Istilah kecerdasan spiritual (SQ) berawal dari penelitian VS Ramachandran dan timnya dari California University pada tahun 1997. penelitian tersebut menemukan eksistensi God Spot dalam otak manusia sebagai pusat spiritual (spiritual center) yang terletak antara jaringan saraf dan otak. Ketiga kecerdasan ini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri tetapi harus berkesinambungan. Dari sanalah dimunculkan teori ESQ yang bisa menggabungkan ketiganya.

Pada dasarnya konsep ESQ sama dengan konsep yang diajarkan secara tradisonal tetapi yang membedakannya adalah ESQ memperkenalkan konsep “revolusi budaya” dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana nilai-nilai ketuhanan dalam Asmaul Husna dibawa dalam perilaku sehari-hari (value of life) seperti kejujuran, integritas, tanggung jawab, kebijaksanaan, inspirasi, dan semangat kerja. Nilai-nilai inilah yang kemudian dikenal dengan nilai ilahiah yang ada dalam diri manusia. Konsep ketuhanan tidak hanya menjadi nilai filosofis, tetapi juga harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, shalat harus dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar, puasa harus dapat mengendalikan perbuatan orang yang manjalankannya, zakat harus menjadikan manusia lebih peduli terhadap sesama, dan sehingga pada akhirnya ibadah dapat melahirkan value of life untuk tiap individu dan good culture dalam masyarakat.

Revolusi budaya yang dilakukan oleh ESQ adalah mengkombinasikan kekuatan intelektualitas (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) dan melandasinya dengan keikhlasan spritualitas. Revolusi budaya tersebut dapat membuat masyarakat dari berbagai kalangan usia mengalami perubahan setelah mengikuti training ESQ. Hal ini dikarenakan kecerdasan manusia terletak pada hasratnya untuk berubah menjadi lebih baik. Pelatihan ESQ akan membina mental para manusia agar selalu sejalan dengan ajaran agamanya masing-masing.

Referensi:

D35117T4.(2010).Emotional Spiritual Quotient [online].Tersedia:http://id.shvoong.com/book s/guidance-self-improvement/1970724-emotional-spiritual-quotient.html (di akses tanggal 06 Oktober 2010)

Mahardhika, Lambang.(2009).Emotional and Spiritual Quotient (ESQ) [online].Tersedia: http://islamabangan.wordpress.com/2009/09/07/emotional-and-spiritual-quotient-esq.html (di akses tanggal 06 Oktober 2010)

Priatna, Charlotte.(2007).Multiple Intelligence [online].Tersedia:http://www.gepembri.org/cg i-bin/show.cgi?file=dm/070217a.id (di akses tanggal 06 Oktober 2010)

Shofyan, Mohamad.(2010). ESQ (EMOTIONAL SPIRITUAL QUOTIENT) [online].Tersedia: http://forum.upi.edu/v3/index.php?topic=15698.html (di akses tanggal 06 Oktober 2010)

Suyono, Hadi.(2009).Mengembangkan Kecerdasan Sosial [online].Tersedia:http://www.uad. ac.id/in/component/content/article/98-mengembangkan-kecerdasan-sosial.html (di akses tanggal 06 Oktober 2010)

Zhaahir, Riyadi Mandola.(2007).Multiple Intelligence [online].Tersedia:http://www.wikimu. com/News/DisplayNews.aspx?id=2108.html (di akses tanggal 06 Oketober 2010)

________.(2010).Social Intelligence II [online].Tersedia:http://www.smartfm.co.id/motivasi on/46-smart-emotion/198-social-intelligence-ii.html (di akses tanggal 06 Oktober 2010)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Januari 2012 in Education

 

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: