RSS

Ganjaran dalam Organisasi dan Kepuasan Kerja

06 Jan

I. Pengertian Ganjaran

Seperti yang telah kita ketahui pengertian ganjaran ialah imbalan. Segala sesuatu yang telah kita lakukan pada akhirnya pasti akan menghasilkan sebuah ganjaran yang baik maupun buruk sesuai dengan apa yang telah dilakukan. Sehingga ganjaran dalam organisasi merupakan suatu imbalan yang diberikan oleh organisasi kepada pekerja karena sudah bekerja atau menyumbangkan tenaganya kepada suatu organisasi. Dan juga merupakan sesuatu yang dikehendaki dan dihargai oleh pekerja karena ia merupakan satu pengakuan.

II. Faktor-faktor yang mempengaruhi Nilai/Besarnya Ganjaran

Berikut ini adalah beberapa faktor yang mempengaruhi ganjaran:

  1. Besar kecilnya ganjaran atau gaji yang diberikan.
  2. Prestasi, dimana apabila pegawai atau anggota suatu organisasi mempunyai prestasi yang bagus maka ganjaran yang diberikan akan lebih baik.
  3. Pengalaman, apabila pegawai atau anggota organisasi mempunyai pengalaman kerja ataupun berpengalaman dalam berorganisasi maka ganjaran pun akan lebih baik.
  4. Potensi yang dimiliki oleh pegawai ataupun anggota organisasi, potensi bisa mempengaruhi cara pegawai yang bergabung dalam suatu organisasi dalam bekerja ataupun menyelesaikan tugasnya serta dalam memecahkan suatu masalah, sehingga tujuan organisasi bisa tercapai dengan baik.
  5. Suasana kerja, hal ini bisa dikaitkan dengan iklim organisasi dimana bila suasana kerja tidak nyaman maka pegawai tidak akan tenang dan tidak dapat berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Ini menyebabkan kinerja yang dilakukan akan kurang efektif, sehingga akan berdampak pada ganjaran yang akan diberikan.

III. Tujuan Ganjaran

Tujuan ganjaran itu sendiri dalam suatu organisasi ialah untuk memberikan motivasi pada setiap pekerja yang bergabung atau bekerja pada suatu organisasi ataupun suatu perusahaan. Para pekerja dapat lebih termotivasi untuk melakukan tugas-tugasnya dengan lebih baik dan efisien demi mendapatkan ganjaran yang setimpal atas segala jerih payah yang mereka lakukan. Sehingga tujuan suatu organisasi dapat tercapai dengan efektif dan efisien.

Suatu organisasi yang akan mencapai misi dan tujuan-tujuannya harus memperoleh dan mendapatkan pegawai yang biasa-biasa saja namun bermotivasi untuk berusaha mencapai tujuan-tujuan organisasi tersebut. Semua tugas-tugas dalam suatu organisasi itu perlu adanya suatu bagian sumber daya manusia yang merupakan bagian penting dalam suatu sistem ganjaran organisasi. Ganjaran organisasi dapat mempengaruhi sikap dan kepuasan serta prestasi kerja.

Pada dasarnya kompensasi atau ganjaran dalam suatu organisasi bertujuan untuk:

  1. Membantu organisasi memperoleh pekerja yang baik dalam menyelesaikan tugas pekerjaannya.
  2. Mendorong pekerja berusaha mencapai prestasi kerja yang diinginkan.
  3. Mempertahankan pekerja dalam organisasi.

IV. Ganjaran dengan Kinerja

Satu cara terbaik untuk memprediksi perilaku dalam beberapa kelompok adalah dengan melihat apa perilaku yang benar-benar diberi ganjaran. Orang-orang cenderung melakukan apa yang membuat mereka diberi ganjaran. Ini menjadi agak rumit karena organisasi tidak selalu benar-benar mengganjar apa yang mereka inginkan, bawahan tidak selalu secara benar menginterprestasikan apa yang akan diganjar, dan kelompok kadang-kadang menolak untuk menghargai genjaran organisasi.

Namun demikian, sangat bermanfaat untuk mengidentifikasikan sistem ganjaran formal dan informal dalam organisasi ketika mencoba memahami perilaku kelompok. Karena teknologi seringkali ditentukan dari anggota kelompok khusus, sistem ganjaran organisasi formal kemungkinan dibangun sebelum kelompok ada, sistem ganjaran informal seringkali tidak eksplisit. Pimpinan khusus, supervisor atau manajer dari sebuah kelompok mungkin mempunyai ide sendiri tentang apa perilaku yang harus diberi ganjaran.

Kombinasi dari ganjaran organisasi formal dan informal adalah faktor latar belakang yang mempengaruhi apakah yang dibutuhkan dan apa yang muncul, sebagaimana halnya apakah pegawai merespon secara penuh ataukah tidak terhadap ganjaran dan hukuman yang ditawarkan. Penting untuk mengingat bahwa kadang-kadang sistem yang muncul akan bertentangan dengan sistem ganjaran organisasi, atau setidaknya tidak secara penuh konsisten satu sama lain.

Dalam menelusuri perilaku yang muncul pada sistem ganjaran, anda dapay bertanya bagaimana bayaran ditentukan dan apakah efeknya terhadap perilaku, apakah sistem bayaran mendorong persaingan ataukah kerjasama di antara anggota, apakah ganjaran yang tersedia di samping bayaran, apakah kinerja yang baik dapat diukur dengan mudah atau kinerja buruk diukur dan dihukum.

V. Kesimpulan Ganjaran dalam Organisasi

            Setiap orang yang bekerja pasti menginginkan imbalan dan ganjaran yang setimpal atau lebih dari apa yang diberikan. Setiap atasan bukan hanya menginginkan seorang pekerja yang bisa melakukan apapun yang diperintahkan, akan tetapi seorang pekerja yang berkompetensi dalam bidangnya dan dapat memajukan perusahaannya. Dalam suatu penerapan perilaku organisasi, pembahasan tentang ganjaran dalam organisasi memang sangat penting dalam kajian perilaku organisasi. Karena orang bekerja tentu ingin mendapatkan suatu ganjaran atau balasan atas apa yang telah ia sumbangkan untuk suatu organisasi itu, jadi ganjaran sangat berpengaruh pada kinerja setiap pegawai atau personil organisasi. Dan kita bisa lebih memahami bagaimana keterkaitan ganjaran dengan moral kerja organisasi. Sehingga apabila ganjaran yang diberikan bisa membuat pegawai merasa puas maka kinerja pegawai pun akan meningkat, dan ini akan membantu proses berjalannya suatu organisasi yang baik.

VI. Pengertian Kepuasan Kerja

Definisi kepuasan kerja menurut T. Hani Handoko (Hal 193;1993) menyatakan bahwa: “Kepuasan kerja adalah keadaan emosionalyang menyenangkan atau tidak menyenangkan dengan mana para karyawan memandang pekerjaan mereka”. Sedangkan menurut Drs. H. Malayu S. P. Hasibuan, (Hal 199;2001) menyatakan bahwa :
“Kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya”.
Dalam kutipan Moh. As’ad yang terdapat pada buku “Psikologi Industri”(2000:104), Joseph Tiffin mendefinisikan kepuasan kerja adalah “sikap karyawan terhadap pekerjaan, situasi kerja, kerjasama diantara pimpinan dan sesama karyawan”. Dan pendapat M.L Blum yang dikutip oleh Moh. As’ad dalam buku “Psikologi lndustri”(2000:102) mendefinisikan kepuasan kerja adalah “suatu sikap yang umum sebagai hasil dari berbagai sifat khusus individu terhadap faktor kerja, karakteristik individu dan hubungan sosial individu di luar pekerjaan itu sendiri”.

Serta ada juga pendapat dari Susilo Martoyo dalam bukunya “Manajemen Sumber Daya Manusia” (1990: 123-124), kepuasan kerja, merupakan :

“Keadaan emosional karyawan dimana terjadi atau tidak terjadi titik temu antara nilai balas jasa kerja karyawan dari perusahaan atau organisasi dengan tingkat nilai balas jasa yang memang diinginkan untuk karyawan yang bersangkutan”.

Dari beberapa definisi di atas umumnya menyatakan bahwa kepuasan kerja merupakan bentuk perasaan seseorang terhadap pekerjaannya, situasi kerja dan rekan sekerja. Dengan demikian kepuasan kerja merupakan sesuatu yang lebih penting untuk dimiliki oleh seorang karyawan, dimana mereka dapat berinteraksi dengan lingkungan kerjanya. Untuk selanjutnya mereka akan bekerja sebaik mungkin sehingga tujuan perusahaan akan tercapai.

VII. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kepuasan Kerja

Kepuasan kerja merupakan sikap positif yang menyangkut penyesuaian karyawan terhadap faktor-faktor yang, mempengaruhinya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kerja, meliputi :

  • Faktor Kepuasan Finansial, yaitu terpenuhinya keinginan karyawan terhadap kebutuhan finansial yang diterimanya untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari sehingga kepuasan kerja bagi karyawan dapat terpenuhi. Hal ini meliputi; system dan besarnya gaji, jaminan sosial, macam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan serta promosi (Moh. As’ad,1987: 118).
  • Faktor Kepuasan Fisik, yaitu faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan. Hal ini meliputi; jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja dan istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruangan/suhu, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan dan umur (Moh. As’ad,1987:117).
  • Faktor Kepuasan Sosial, yaitu faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial baik antara sesama karyawan, dengan atasannya maupun karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya. Hal ini meliputi; rekan kerja yang kompak, pimpinan yang adil dan bijaksana, serta pengarahan dan perintah yang wajar (Drs.Heidjrachman dan Drs. Suad Husnan.1986: 194-195).
  • Faktor Kepuasan Psikologi, yaitu faktor yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan. Hal ini meliputi; minat, ketentraman dalam bekerja, sikap terhadap kerja, bakat dan keterampilan (Moh.As’ad,1987: 11.7).

Dari definisi faktor-faktor diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa faktor-faktor tersebut mempengaruhi kepuasan kerja yang memiliki peran yang penting bagi perusahaan dalam memilih dan menempatkan karyawan dalam pekerjaannya dan sebagai partner usahanya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atau sepantasnya dilakukan.

Ada pendapat lain dari Gilmer (1966) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja sebagai berikut:

  1. Kesempatan untuk maju. Dalam hal ini ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan peningkatan kemampuan selama kerja.
  2. Keamanan kerja. Faktor ini sering disebut sebagai penunjang kepuasan kerja, baik bagi karyawan pria maupun wanita. Keadaan yang aman sangat mempengaruhi perasaan karyawan selama kerja.
  3. Gaji. Gaji lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan, dan jarang orang mengekspresikan kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang yang diperolehnya.
  4. Perusahaan dan manajemen. Perusahaan dan manajemen yang baik adalah yang mampu memberikan situasi dan kondisi kerja yang stabil. Faktor ini yang menentukan kepuasan kerja karyawan.
  5. Pengawasan (Supervise). Bagi karyawan, supervisor dianggap sebagai figur ayah dan sekaligus atasannya. Supervisi yang buruk dapat berakibat absensi dan turn over.
  6. Faktor intrinsik dari pekerjaan. Atribut yang ada pada pekerjaan mensyaratkan ketrampilan tertentu. Sukar dan mudahnya serta kebanggaan akan tugas akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan.
  7. Kondisi kerja. Termasuk di sini adalah kondisi tempat, ventilasi, penyinaran, kantin dan tempat parkir.
  8. Aspek sosial dalam pekerjaan. Merupakan salah satu sikap yang sulit digambarkan tetapi dipandang sebagai faktor yang menunjang puas atau tidak puas dalam kerja.
  9. Komunikasi. Komunikasi yang lancar antar karyawan dengan pihak manajemen banyak dipakai alasan untuk menyukai jabatannya. Dalam hal ini adanya kesediaan pihak atasan untuk mau mendengar, memahami dan mengakui pendapat ataupun prestasi karyawannya sangat berperan dalam menimbulkan rasa puas terhadap kerja.
  10. Fasilitas. Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan menimbulkan rasa puas.

As’ad (2004,p. 115)

Penelitian yang dilakukan oleh Caugemi dan Claypool (1978) menemukan bahwa hal-hal yang menyebabkan rasa puas adalah:

1. Prestasi

2. Penghargaan

3. Kenaikan jabatan

4. Pujian.

Sedangkan faktor-faktor yang menyebabkan ketidakpuasan adalah:

1. Kebijaksanaan perusahaan

2. Supervisor

3. Kondisi kerja

4. Gaji

VIII. Profil Kepuasan Kerja Individu dalam Organisasi

Ghiselli dan Brown, mengemukakan adanya lima faktor yang menimbulkan kepuasan kerja individual, yaitu:

1. Kedudukan (posisi)

Umumnya manusia beranggapan bahwa seseorang yang bekerja pada pekerjaan yang lebih tinggi akan merasa lebih puas daripada karyawan yang bekerja pada pekerjaan yang lebih rendah. Pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa hal tersebut tidak selalu benar, tetapi justru perubahan dalam tingkat pekerjaanlah yang mempengaruhi kepuasan

kerja.

2. Pangkat (golongan)

Pada pekerjaan yang mendasarkan perbedaan tingkat (golongan), sehingga pekerjaan tersebut memberikan kedudukan tertentu pada orang yang melakukannya. Apabila ada kenaikan upah, maka sedikit banyaknya akan dianggap sebagai kenaikan pangkat, dan kebanggaan terhadap kedudukan yang baru itu akan merubah perilaku dan perasaannya.

3. Umur

Dinyatakan bahwa ada hubungan antara kepuasan kerja dengan umur karyawan. Umur di antara 25 tahun sampai 34 tahun dan umur 40 sampai 45 tahun adalah merupakan umur-umur yang bisa menimbulkan perasaan kurang puas terhadap pekerjaan.

4. Jaminan finansial dan jaminan sosial

Masalah finansial dan jaminan sosial kebanyakan berpengaruh terhadap kepuasan kerja.

5. Mutu pengawasan

Hubungan antara karyawan dengan pihak pimpinan sangat penting artinya dalam menaikkan produktifitas kerja. Kepuasan karyawan dapat ditingkatkan melalui perhatian dan hubungan yang baik dari pimpinan kepada bawahan, sehingga karyawan akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian yang penting dari organisasi kerja (sense of belonging). As’ad (2004, p. 112).

IX. Kepuasan dan Kinerja

Pernyataan Vroom mengandung petunjuk mengapa kepuasan kerja dan kinerja saling berkaitan meskipun kenyataan bahwa keduanya disebabkan oleh hal yang berbeda. Bahkan Robbins (2007) menyatakan bahwa hubungan antara keduanya lebih tepat disebut ”mitos manajemen” dan sulit untuk menetapkan ke arah mana hubungan sebab akibat di antara keduanya. Namun dari berbagai penelitian ditemukan bukti bahwa organisasi yang memiliki karyawan yang lebih puas cenderung lebih efektif dibandingkan organisasi yang memiliki karyawan yang kurang puas.

Teori pengharapan Vroom mengasumsikan bahwa reward menyebabkan kepuasan dan bahwa dalam beberapa hal kinerja menghasilkan reward, maka kemungkinan yang terjadi di antara kepuasan dan kinerja adalah melalui variabel ketiga yaitu reward. Secara sederhana digambarkan bahwa kinerja yang baik akan menghasilkan reward, yang pada gilirannya akan mengarahkan kepada kepuasan, rumusan ini menyatakan bahwa kinerja menyebabkan kepuasan melalui variabel perantara yaitu reward atau ganjaran.

X. Kesimpulan Kepuasan Kerja 

Kepuasan kerja merupakan bentuk perasaan seseorang terhadap pekerjaannya, situasi kerja dan rekan sekerja. Dengan demikian kepuasan kerja merupakan sesuatu yang lebih penting untuk dimiliki oleh seorang karyawan, dimana mereka dapat berinteraksi dengan lingkungan kerjanya. Untuk selanjutnya mereka akan bekerja sebaik mungkin sehingga tujuan perusahaan akan tercapai. Pengertian kepuasan kerja tidak saja bermanfaat bagi perusahaan dalam usaha meningkatkan produktivitas kerja, tetapi juga dirasakan manfaatnya oleh karyawan sebagai salah satu upaya dari perusahaan untuk meningkatkan kehidupannya. Kemudian dari upaya yang dilakukan karyawan dan perusahaan terhadap perbaikan setiap karyawan terhadap pekerjaan maka masyarakat dapat menikmati hasil yang maksimal.

Dalam suatu penerapan perilaku organisasi, pembahasan tentang kepuasan kerja memang sangat penting dalam kajian perilaku organisasi. Kinerja seorang pegawai itu tergantung pada kepuasan kerja di perusahaan, maka perusahaan harus dapat menciptakan lingkungan yang nyaman karena setiap individu adalah sebagai sumber daya. Manusia dalam suatu organisasi/perusahaan memiliki nilai-nilai kerja, yaitu suatu keyakinan pribadi seorang pekerja tentang hasil yang diperkirakan dari pekerjaannya dan bagaimana seharusnya berperilaku dalam bekerja.

Referensi:

Danfar.(2009).DEFINISI/PENGERTIAN KEPUASAN KERJA [online].Tersedia: http://dansite. wordpress.com/2009/04/10/definisipengertian-kepuasan-kerja.html (di akses tanggal 02 November 2010)

Danfar.(2009).Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja [online].Tersedia: http://dansite.w ordpress.com/2009/04/10/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-kepuasan-kerja.html (di akses tanggal 02 November 2010)

Imas, Eneng.(2008).Penerapan Perilaku Organisasi Dalam Suatu Organisasi. Bandung:Noname.

Ryan.(2010).Pengertian dan definisi Kepuasan Kerja [online].Tersedia: http://www.galeriman gboyan.co.cc/2010/01/pengertian-dan-definisi-kepuasan-kerja.html (di akses tanggal 02 November 2010)

Teorionline.(2010).Definisi Kepuasan Kerja [online].Tersedia: http://teorionline.wordpress.co m/2010/01/25/definisi-kepuasan-kerja/.html (di akses tanggal 02 November 2010)

Teorionline.(2010).Hubungan Kepuasan Kerja dengan Kinerja [online].Tersedia: http://teori online.wordpress.com/2010/01/27/hubungan-kepuasan-kerja-dengan-kinerja.html (di akses tanggal 02 November 2010)

________.(2009).Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja [online].Tersedia: http: //jurnal-sdm.blogspot.com/2009/04/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html (di akses tanggal 02 November 2010)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Januari 2012 in Education

 

Tag: , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: