RSS

Makna Hari Raya Idul Adha

05 Jan

Kemarin, Jumat, 27 November 2009, lantunan takbir diiringi tabuhan bedug menggema menambah semaraknya hari raya. Suara takbir bersahut-sahutan mengajak kita untuk sejenak melakukan refleksi bahwa tidak ada yang agung, tidak ada yang layak untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam. Pada hari itu, kaum muslimin selain dianjurkan melakukan shalat sunnah dua rekaat, juga dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban bagi yang mampu. Anjuran berkurban ini bermula dari kisah penyembelihan Nabi Ibrahim kepada putra terkasihnya yakni Nabi Ismail.

Peristiwa ini memberikan kesan yang mendalam bagi kita. Betapa tidak. Nabi Ibrahim yang telah menunggu kehadiran buah hati selama bertahun-tahun ternyata diuji Tuhan untuk menyembelih putranya sendiri. Nabi Ibrahim dituntut untuk memilih antara melaksanakan perintah Tuhan atau mempertahankan buah hati dengan konsekuensi tidak mengindahkan perintahNya. Sebuah pilihan yang cukup dilematis. Namun karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Tuhanpun dilaksanakan. Dan pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih dengan digantikan seekor domba.

Kisah tersebut merupakan potret puncak kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah melebihi segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri. Kecintaan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayangannya tidak menghalangi ketaatan kepada Tuhan. Model ketakwaan Nabi Ibrahim ini patut untuk kita teladani.

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah hewan. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. Pemberian nikmat oleh Allah kepada manusia tak terhingga. Kesehatan dan kesempatan juga nikmat yang sangat penting.

Manusia juga diberi nikmat pangkat, kedudukan, jabatan, dan kekuasaan. Segala yang dimiliki manusia adalah nikmat dari Allah baik berupamateri maupun non materi. Namun  bersamaan itu pula semua nikmat tersebut sekaligus menjadi cobaan atau ujian. Meskipun Allah memberikan nikmat-Nya yang tak terhingga kepada manusia, tetapi dalam kenyataan Allah melebihkanapa yang diberikan kepada seseorang dari pada  yang lain.

Sehingga ada yang kaya raya, cukup kaya, miskin, bahkan ada yang menjadi seorang gelandangan berteduh di kolong jembatan. Demikianjuga ada yang menjadi penguasa,  ada yang rakyat jelata. Ada pimpinan, kepala, bawahan,dan anak buah. Ini semua juga dalam rangka cobaan bagi siapa yang benar-benar mukmin dan siapa yang hanya mukmin di bibir saja.

Salah satu bukti seorang mukmin telah lulus cobaan dalam nikmat harta kekayaan adalah ia dengan ikhlas menggunakannya untuk ibadah haji. Sehingga bagi orang demikian akan memperoleh haji yang mabrur. Sedang haji mabrur pahalanya hanyalah surga. Betapa gembira dan bahagianya orang kaya yang dapat mencapai haji mabrur demikian.

Belum lagi jika ia sempat shalat berjamaah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi maka tiada terkira lagi pahalanya.Namun ini konteksnya adalah orang yang kaya. Sedang  orang yang tidak mampu / miskin tidak perlu berkecil hati. Bagi kita yang tidak mampumaka konteksnya  terkandung dalam hadis Nabi SAW berikut ini: “Hajinya orang yang tidak mampu adalah berpuasa pada hari Arafah”.

Itulah maka sangat disayangkan bila di antara kita ada yang menyia-nyiakan kesempatan dari Allah yakni tidak mau berpuasa pada tanggal 9 Zul Hijjah yang disebut  puasa Arafah itu. Cobaan tentang harta kekayaan juga berkaitan dengan pelaksanaan ibadah udhiyah yakni menyembelih hewan yang kita kenal dengan hewan kurban di hari raya Adha.

Karena pada hari tersebut Allah mensyariatkan untuk berkurban, maka salah satu bukti  lagi bahwa seseorang lulus dari cobaan harta adalah ia dengan ikhlas mau mengunakannyauntuk berkurban baik itu berupa sapi,  kerbau maupun kambing. Ini tergantung pada kemampuan masing-masing. Seekor kambing boleh digunakan untuk satu orang beserta keluarga seisi rumahnya.

Sedang sapi, kerbau, boleh untuk tujuh orang beserta keluarga seisi rumah mereka masing-masing. Daging sembelihan ini termasuk syiar agama yakni untuk dimakan menjamu tamu diberikan kepada yang meminta atau yg tidak meminta {orang mampu}. Sementara itu cobaan besar terhadap sesuatu yang dimiliki manusia pernah dialami Abul Anbiya Ibrahim AS.

Mari kita menyadari bahwa segala nikmat yang diberikan Allah pada hakikatnya adalah sebagai cobaan atau ujian.Apabila nikmat itu diminta kembali oleh yang memberi maka  manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Hari ini jadi konglomerat,esok bisa jadi melarat  dengan utang bertumpuk.

Sekarang berkuasa, lusa bisa jadi hina, tersia-sia oleh massa. Kemarin jadi kepala kantor dengan mobil Innova, entah kapan mungkin bisa jadi bahan humor karena naik sepeda butut, Sedang nikmat yang berupa harta hendaknyakita ikhlas untuk berinfak di  jalan Allah seperti untuk berkurban. Percayalah dalam hal harta apabila kita ikhlas di jalan Allah niscaya Allah akan membalasnya dengan berlipat ganda. Tetapi jika kita justru kikir, pelit, tamak,bahkan rakus, tunggulah kekurangan kemiskinan dan kegelisahan hati selalu menghimpitnya.

Makna dari Idul adha perlu menjadi teladan bagi umat Islam sekarang karena ada unsur keihlasan dan kesabaran yang dapat dijadikan sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan yang penuh gangguan dan tantangan.Dalam kehidupan masa kini, memperingati Idul adha perlu dijadikan sebagai wahana intropeksi dan refleksi diri umat Islam.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Januari 2012 in Education

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: