RSS

Kandungan Ayat Al-An’am (Binatang Ternak)

05 Jan

Latar Belakang

Manusia sebagai ciptaan Allah SWT yang paling sempurna hendaknya mensyukuri nikmat yang telah diberikan. Namun berbagai godaan yang negatif senantiasa mengiringi umat manusia. Hal itu merupakan ciptaan Allah juga untuk menguji keimanan manusia sejauh mana manusia mampu bersyukur atas segala nikmat yang telah diterimanya. Manusia tidak  perlu khawatir pada apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan di dunia ini, karena Allah telah memberikan pedoman untuk membantu manusia agar dapat bahagia di dunia maupun di akhirat. Allah SWT telah memberi pedoman berupa kitab suci Al-Quran yang dapat menuntun umat manusia ke jalan yang lurus. Semua yang ada dan yang akan terjadi di kehidupan ini tertuang dalam ayat-ayat Al-Quran oleh karena itu manusia patut untuk mendalami makna-makna dari setiap ayat Al-Quran.

Manusia dalam menjalani kehidupan tidak terlepas dari masalah-masalah baik berupa jasmani maupun rohani. Khususnya dalam mencari ilmu atau mencari kebenaran dalam berpikir. Banyak ilmu yang berceceran namun semuanya tidak berdampak positif, manusia sebagai makhluk yang paling sempurna seharusnya dapat mengolah dan memilih ilmu yang menjadi pegangan hidupnya. Karena sikap seseorang ditentukan dari ilmu yang dipelajarinya. Nabi Muhammad saw dapat kita jadikan cerminan dalam menjalani hidup karena beliau sangat taat dan patuh pada semua perintah Allah SWT.

Kandungan Ayat dan Terjemahan

wa-idzaa ra-aytalladziina yakhuudhuuna fii aayaatinaa fa-a’ridh ‘anhum hattaa yakhuudhuu fii hadiitsin ghayrihi wa-immaa yunsiyannaka sysyaythaanu falaa taq’ud ba’da dzdzikraa ma’a lqawmi zhzhaalimiin

Terjemahan

68. Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).

Kandungan Ayat

1. Wajib menjauhkan diri dari orang-orang yang sedang memperolok-olokkan ayat-ayat Allah, atau orang-orang yang mentakwilkan ayat-ayat Allah semata-mata mengikuti keinginan hawa nafsunya, seandainya tidak sanggup menegur mereka agar menghentikan perbuatan itu.

2.   Boleh duduk bersama-sama membicarakan sesuatu yang bermanfaat dengan orang-orang kafir, selama mereka tidak memperolok-olokan agama Allah.

Tafsir

Ayat ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. jika ia duduk bersama-sama orang-orang kafir dan mereka memperolok-olokkan ayat-ayat dan agama Allah, hendaklah segera meninggalkan mereka kecuali jika mereka mengalihkan pembicaraan mereka kepada masalah yang lain. Tindakan yang demikian gunanya ialah agar orang-orang kafir itu sadar bahwa tindakan mereka yang demikian itu tidak disukai Allah dan kaum muslimin atau jika Nabi tetap duduk bersama mereka, berarti Nabi seakan-akan menyetujui tindakan mereka itu.
Dalam ayat ini yang diperintahkan meninggalkan orang-orang kafir itu ialah Nabi Muhammad saw dan sahabat-sahabat pengikutnya tetapi termasuk juga di dalamnya seluruh muslimin pada setiap masa. Yang diperintahkan ayat ini ialah meninggalkan orang-orang yang sedang memperolok-olokkan ayat-ayat Alquran. Tetapi termasuk juga di dalamnya segala macam tindakan yang tujuannya memperolok-olokkan agama Allah, menafsirkan dan menakwilkan ayat-ayat Alquran semata-mata mengikuti keinginan dan hawa nafsu saja.

Asbabun Nuzul

Diriwayatkan dari Said bin Jubair, Ibnu Juraij, Qatadah, Muqatil, As Suddy dan Mujahid bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan tindakan orang orang musyrik yang mendustakan serta memperolok-olok Alquran dan Nabi Muhammad saw. Berkata Ibnu Juraij, “Adalah orang-orang musyrik Arab, mereka datang dan duduk bersama Nabi, mereka ingin mendengarkan sesuatu dari padanya, setelah mereka mendengar ayat-ayat Alquran dari Nabi, mereka mendustakan dan memperolok-olokkannya. Maka turunlah ayat ini.
Menurut riwayat Ibnu `Abbas, Abu Jakfar dan Ibnu Sirin, bahwa ayat-ayat ini diturunkan berhubungan dengan tindakan orang-orang yang suka mengadakan bidah dan mengikuti hawa nafsunya di antara kaum Muslimin, serta orang orang yang suka mentakwilkan ayat semata-mata untuk mengalahkan lawan mereka dalam berdebat.

Jika ayat-ayat ini dihubungkan dengan ayat-ayat yang memerintahkan agar memerangi orang-orang yang menentang agama Islam, seakan-akan kedua ayat ayat ini berlawanan. Ayat ini seakan-akan menyuruh kaum Muslimin tetap bersabar walau apa tindakan orang-orang kafir terhadap mereka. Sedang ayat-ayat yang memerintahkan berperang nadanya agak keras dan memerintahkan agar membunuh orang-orang kafir di mana saja mereka ditemui.

Jawabannya ialah bahwa ayat-ayat ini diturunkan pada masa Nabi Muhammad saw. masih berada di Mekah, di saat kaum Muslimin masih lemah yang pada waktu itu tugas pokok Nabi ialah menyampaikan ajaran tauhid. Dalam pada itu, pada masa ini belum ada perintah berperang dan memang belum ada hikmah diperintahkan berperang pada masa ini. Setelah Nabi di Madinah dan keadaan kaum Muslimin telah kuat, serta telah ada perintah berperang, maka sikap membiarkan tindakan orang-orang yang memperolok-olokkan agama Allah adalah sikap yang tercela, bahkan diperintahkan agar kaum Muslimin mengambil tindakan terhadap mereka itu.

Kemudian Allah swt. memperingatkan Nabi Muhammad saw. bahwa jika ia dilupakan setan tentang larangan Allah duduk bersama-sama orang yang memperolok-olokkan agama itu, kemudian ingat maka segeralah berdiri meninggalkan mereka, janganlah duduk lagi bersama-sama mereka. Yang dimaksud dengan “Nabi lupa”, di sini ialah lupa terhadap hal-hal yang biasa sebagaimana manusia biasa juga lupa. Tetapi Nabi tidak pernah lupa terhadap hal-hal yang diperintahkan Allah menyampaikannya. Dalam pada itu Allah swt. menegaskan bahwa setan hanyalah dapat mempengaruhi orang-orang yang lemah imannya, sedang orang yang kuat imannya, setan tidak sanggup mempengaruhinya, termasuk melupakannya.

Berdasarkan keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa setan tidak sanggup menjadikan hamba yang beriman lupa terhadap sesuatu, apa lagi menjadikan Nabi lupa terhadap sesuatu karena ia tidak dapat menguasai hamba Allah yang beriman. Dalam ayat ini disebut setan melupakan Nabi saw. hanyalah merupakan kebiasaan-kebiasaan dalam bahasa bahwa segala macam perbuatan yang tidak baik adalah disebabkan perbuatan setan, sekalipun yang melakukannya bukan setan. Seandainya seorang hamba yang mukmin kuat imannya lupa, maka lupanya itu hanyalah karena pengaruh hati dan jiwanya bukan karena pengaruh atau gangguan setan.

Hadist yang Menunjang

Abu Hurairah Ra berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda ” Cukuplah bagi orang itu disebut pembohong jika dengan setiap apa yang ia dengar”  ( HR. Muslim )

Dari Abu Hurairah radhiallahunhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya . (Hadits Hasan riwayat Turmuzi dan lainnya)

Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan kesayangannya dia berkata : Saya menghafal dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam (sabdanya): Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu. (Riwayat Turmuzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shoheh)

Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Sakhr radhiallahuanhu dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Apa yang aku larang hendaklah kalian menghindarinya dan apa yang aku perintahkan maka hendaklah kalian laksanakan semampu kalian. Sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan mereka (yang tidak berguna) dan penentangan mereka terhadap nabi-nabi mereka. (Bukhori dan Muslim)

Kaitan dengan Ilmu Administrasi Pendidikan

Dalam ilmu administrasi pendidikan, kita diharuskan untuk menjalin hubungan kerjasama dengan orang lain. Banyak berkomunikasi dengan orang lain agar mendapat ide atau saran yang bersifat positif. Namun bila kita kaitkan dengan ayat ini, dalam menjalin hubungan dengan orang lain kita hendaknya berhati-hati dalam memilih teman atau rekan kerja dan jangan mudah percaya dengan omongan orang lain yang jelas-jelas salah. Karena dalam perbincangannya tidak selamanya kita satu paham atau satu aliran dengan mereka. Kita harus yakin terhadap hukum Allah dan apabila ada satu pihak yang menjelek-jelekkan atau memberi omongan yang negatif maka lebih baik kita jauhi atau tinggalkan. Ayat ini juga memberi peringatan kepada kita agar tidak mudah terpengaruh oleh ajakan atau pemahaman orang lain yang tentunya bersifat negatif.

Maka berhati-hatilah dalam bergaul dan bekerjasama oleh orang lain. Karena saat ini sudah banyak orang-orang yang memberi pengaruh negatif dan keluar dari prinsip atau nilai-nilai ajaran islam. Dan carilah ilmu yang diridhai Allah SWT dan jangan sampai terpengaruh oleh orang-orang yang berniat menghancurkan ajaran islam. Karena sesungguhnya Allah yang memiliki segalanya dan hanya Allah yang memberi jalan menuju kebenaran.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Januari 2012 in Education

 

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: