RSS

Arsip Tag: logika matematik

Kebenaran Logik dan Empirik

Kebenaran logik, yaitu kebenaran yang ditarik dari penalaran. Dalam logika itupun titik tolaknya bisa bertumpu pada rasionalitas atau empirik.

Teori muncul dan berkembang adalah karena telah melampaui pemikiran logis. Karena dengan logika,  orang diajak untuk bisa berfikir  benar.

Berfikir benar secara deduktif atau secara induktif. Berfikir secara deduktif artinya berfikir dengan menggunakan proses penarikan kesimpulan berdasarkan pada pengajuan premis mayor dan premis minornya. Premis mayor artinya pernyataan umum, sementara premis minor artinya pernyataan khusus. Proses itu dikenal dengan istilah silogisme. Misalnya,  “Semua orang akhirnya akan mati” (premis mayor). Hasan adalah orang (premis minor). Oleh karena itu, “Hasan akhirnya juga akan mati” (kesimpulan). Jadi, berfikir deduktif adalah berpikir dari yang  umum ke yang khusus. Dari yang abstrak ke yang konkrit. Dari teori ke fakta-fakta.  Sebaliknya adalah berfikir induktif. Berfikir induktif adalah berfikir dari yang khusus ke yang umum. Berfikir induktif adalah berfikir berdasarkan pada pengajuan fakta-fakta dahulu. Fakta-fakta itu bisa berupa serangkaian gejala-gejala, peristiwa-peristiwa, atau kasus-kasus. Dari pengajuan fakta-fakta itulah kemudian ditarik kesimpulan umum. Kenyataan  logis adalah   kenyataan  kebenaran  yang  didasarkan  pada   logika  (penalaran).

Contoh-Contoh Kebenaran Logik 

◙ Misalnya kalau kita mengatakan bahwa 2 + 2 =  4. Pernyataan  4  adalah benar menurut kenyataan  logika matematik.  Tetapi kalau  kita mengatakan bahwa “jika mahasiswa diberi  fasilitas belajar  yang cukup, maka akan semakin berhasil baik”,  adalah  kenyataan yang diramalkan. Kebenaran logika ini bersifat sementara. Benar atau salah ramalan itu, perlu diuji di lapangan. Sebelum melangkah mencari data dengan  baik dan menemukan jawabannya, maka ramalan itu baru benar  sebagai hipotesis (simpulan sementara). Hipotesis  itu, belum memenuhi  persyaratan  untuk disebut  sebagai kebenaran, karena masih berada  pada  tingkat  common sense (akal sehat) atau harapan saja.

◙ Semua manusia akan mati. Dian adalah manusia. Jadi, Dian akan mati. (Ada tiga pernyataan: dua pertama adalah premis, satu terkahir adalah kesimpulan)

◙ Contoh mathematic, karena sudah diinstal di alam bawah sadar kita maka 1+1=2 menjadi tampak logic, tapi kalau ditanyakan kepada tarzan yang belum pernah diinstal mathematic maka 1+1 juga menjadi tidak pasti.

EMPIRIK

Kebenaran empiris adalah kebenaran atau sesuatu pernyataan dianggap benar kalau apa yang dinyatakannnya itu sesuai dengan apa yang dilihatnya. Lingkup kebenaran empiris ini tidak boleh melampui kewenangan pengukuran dan penilaian.  Apalagi kalau pengukuran dan penilaian yang digunakan hanya pada soal cita rasa dan akal-akalan.

Kenyataan empiris (kenyataan pertama), yaitu  kenyataan yang  dapat  ditangkap dari pengamatan kemudian direkonstruksi oleh peneliti ke dalam bentuk kata-kata atau gambar. Itu pula sebabnya, kenyataan sosial yang dituturkan oleh peneliti merupakan “realitas yang dikonstruksi” (reconstruction reality).

Contoh-Contoh kebenaran Empirik

Ada seorang laki-laki minta bisa diantar ke tempat tujuan, lalu menawar: “Bang, berapa ongkos menuju ke Kabupaten Bangkalan?”. Abang becak tadi lantas mengatakan: “Lima ribu rupiah”. Karena dianggap ongkos itu terlalu mahal, lantas ditawar sambil dibujuk: “Itu kantor kabupatennya kelihatan dari sini. Dekat bang. Masak mahal amat?”. Maka apa jawab abang becak asal Madura tadi? “Pak, bulan juga dapat dilihat dari sini, tapi jauh Pak!”.

◙ Kedipan mata yang dilakukan oleh seseorang  misalnya, bisa mengandung bermacam-macam makna. Bisa berarti kedua orang itu menggunakan bahasa-bahasa isyarat untuk melakukan kongkalikong. Bisa pula kedipan mata itu terjadi karena orang tersebut  memang mata sebelahnya  cacat sehingga selalu berkedip. Mungkin juga orang tersebut sedang mengejek orang yang kedipannya tidak baik, atau dia sedang bermain peran. Kalau semua peristiwa (mengedip-ngedipkan mata) difoto atau difilmkan mungkin tidak ada perbedaan, namun maknanya pastilah berbeda-beda.

◙ Kata-kata yang sama yang diucapkan oleh orang yang sama, bisa berarti saling berbeda maknanya karena konteksnya berbeda. Ucapan  “mamma” yang dilakukan oleh seorang bayi misalnya, bisa berarti ibu, bisa juga berarti keluhan sakit.

◙ Seorang juragan yang jengkel kepada pembantunya, bisa mengekspresikan rasa sebalnya dengan mengucapkan “dasar setan! Kerjanya Cuma bisa mengganggu, bukan membantu”. Tetapi ketika seorang perjaka terbuai oleh kelihaian berkata-kata dari gadis kekasihnya, bisa saja perjaka tadi lantas secara spontan mencubit hidung gadis itu dan berucap secara pelan: “kamu memang  setan” sambil tersenyum nakal. Tentu kedua peristiwa itu menunjukkan makna setan secara berbeda. Yang pertama, setan bermakna menyebalkan dan menjengkelkan sehingga kata “setan” merupakan representasi dari “kemarahan”, sementara yang kedua, kata “setan” berasosiasi kepada makna-makna cerdik, menggemaskan, dan menimbulkan gairah-gairah tertentu.

 


 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Januari 2012 in Education

 

Tag: , , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.