RSS

Prinsip, Fungsi, Teknik, Tujuan Supervisi

05 Jan

Prinsip Supervisi

► Prinsip-prinsip Supervisi
a. Mengutamakan prakarsa dan tanggung jawab kepala sekolah.
b. Mengutamakan hubungan kemitraan.
c. Demokratis
d. Berorientasi kebutuhan dan aspirasi kepala sekolah.
e. Saran-saran perbaikan segera diberikan
f. Bersifat bantuan untuk meningkatkan kemampuan manajerial kepala sekolah.
g. Bersifat terbuka dan adil dalam penilaian.
h. Dilakukan secara terus-menerus.

Contoh penerapan prinsip:

a. Mengutamakan prakarsa dan tanggung jawab kepala sekolah.

Pengawas  lebih mengutamakan inisiatif dan tugas pokok dan fungsi yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah.

b. Mengutamakan hubungan kemitraan

Antara pengawas dengan kepala sekolah dalam posisi setara, tidak atasan dan bawahan tetapi keduanya saling membutuhkan dan terjadi komunikasi timbal balik (interaktif) yang efektif.

c. Demokratis.

Pengawas tidak memaksakan kehendaknya sendiri tetapi bersama-sama kepala sekolah bebas berpendapat dan bertanggung jawab serta mengkaji pendapat untuk memperoleh kesepakatan.

d. Berorientasi kebutuhan dan aspirasi kepala sekolah.

Supervisi bukan untuk kepentingan pengawas tetapi untuk kebutuhan dan aspirasi kepala sekolah dalam meningkatkan mutu sekolahnya.

e. Saran-saran perbaikan segera diberikan.

Pengawas jangan menunda-nunda saran yang dapat dilakukan kepala sekolah.

f. Bersifat bantuan untuk meningkatkan kemampuan manajerial kepala sekolah.

Pengawas bersifat membantu kepala sekolah untuk meningkatkan kemampuan  manajerialnya bukan memerintah apalagi memaksa.

g. Bersifat terbuka dan adil dalam penilaian.

Pengawas bersifat transparan dan objektif dalam menlai keterampilan manajerial kepala sekolah.

h. Dilakukan secara terus-menerus.

Pengawasan dilakukan secara rutin, tidak bersifat insidentil.

[Sumber: http://ktiguru.blogspot.com]

► Prinsip-prinsip Supervisi menurut Moh. Badrus Sholeh, S.Pd.I

Secara sederhana prinsip-prinsip Supervisi adalah sebagai berikut :

1. Supervisi hendaknya memberikan rasa aman kepada pihak yang disupervisi.

2. Supervisi hendaknya bersifat Kontrukstif dan Kreatif

3. Supervisi hendaknya realistis didasarkan pada keadaan dan kenyataan sebenarnya.

4. Kegiatan supervisi hendaknya terlaksana dengan sederhana.

5. Dalam pelaksanaan supervisi hendaknya terjalin hubungan profesional, bukan didasarkan atas hubungan pribadi.

6. Supervisi hendaknya didasarkan pada kemampuan, kesanggupan, kondisi dan sikap pihak yang disupervisi.

7. Supervisi harus menolong guru agar senantiasa tumbuh sendiri tidak tergantung pada kepala sekolah

Prinsip-prinsip Supervisi

1. Supervisi bersifat memberikan bimbingan dan memberikan bantuan kepada guru dan staf sekolah lain untuk mengatasi masalah dan mengatasi kesulitan dan bukan mencari-cari kesalahan.

2. Pemberian bantuan dan bimbingan dilakukan secara langsung, artinya bahwa pihak yang mendapat bantuan dan bimbingan tersebut tanpa dipaksa atau dibukakan hatinya dapat merasa sendiri serta sepadan dengan kemampuan untuk dapat mengatasi sendiri.

3. Apabila supervisor merencanakan akan memberikan saran atau umpan balik, sebaiknya disampaikan sesegera mungkin agar tidak lupa. Sebaiknya supervisor memberikan kesempatan kepada pihak yang disupervisi untuk mengajukan pertanyaan atau tanggapan.

4. Kegiatan supervisi sebaiknya dilakukan secara berkala misalnya 3 bulan sekali, bukan menurut minat dan kesempatan yang dimiliki oleh supervisor.

5. Suasana yang terjadi selama supervisi berlangsung hendaknya mencerminkan adanya hubungan yang baik antara supervisor dan yang disupervisi tercipta suasana kemitraan   yang akrab. Hal ini bertujuan agar pihak yang disupervisi tidak akan segan-segan mengemukakan pendapat tentang kesulitan yang dihadapi atau kekurangan yang dimiliki.

6. Untuk menjaga agar apa yang dilakukan dan yang ditemukan tidak hilang atau terlupakan, sebaiknya supervisor membuat catatan singkat, berisi hal-hal penting yang diperlukan untuk membuat laporan.

► Prinsip-prinsip Supervisi menurut Tahalele dan Indrafachrudi (1975)

Prinsip-prinsip supervisi sebagai beriku:

a. Supervisi harus dilaksanakan secara demokratis dan kooperatif.

b. Supervisi harus kreatif dan konstruktif.

c. Supervisi harus ”scientific” dan efektif.

d. Supervisi harus dapat memberi perasaan aman pada guru-guru.

e. Supervisi harus berdasarkan kenyataan.

f. Supervisi harus memberi kesempatan kepada supervisor dan guru-guru untuk mengadakan “self evaluation” .

► Prinsip pengawasan

Prinsip-prinsip dasar berikut ini sama untuk semua bentuk pengawasan.

  • Jelas tentang mengapa ada kebutuhan untuk pengawasan dan yang telah meminta untuk itu.
  • Tetapkan kerangka waktu untuk sesi pengawasan; bahkan beberapa menit dari waktu terfokus dapat bermanfaat.
  • Melindungi ruang dan waktu di mana mungkin dan sesuai; mencoba untuk memastikan tidak akan ada interupsi dan bahwa ada privasi.
  • Pastikan bahwa ada kerahasiaan; ini berarti bekerja di tempat di mana pengawasan tidak dapat mendengar, dan berbagi informasi pribadi diidentifikasi hanya pasien dengan orang-orang yang benar-benar perlu tahu.
  • Pikirkan tentang pengaturan tempat duduk; bagaimana kursi disusun, yang duduk di mana dan pada jenis kursi menyampaikan pesan mengenai status dan kekuasaan.
  • Transparan tentang sejauh mana pengawasan adalah mengenai pembangunan atau kinerja; ini mungkin perlu dinegosiasi ulang atau dinyatakan selama sesi.

[Sumber: http://www.faculty.londondeanery.ac.uk%5D

► PRINSIP SUPERVISI Pendidikan

1. Prinsip Ilmiah, dengan ciri-ciri :

  • Kegiatan supervisi dilaksanakan berdasarkan data yang objektif yang diperoleh dalam kenyataan proses pelaksanaan PBM (Proses Belajar Mengajar).
  • Untuk memperoleh data diperlukan alat perekam data (angket, observasi, percakapan pribadi, dan lain-lain).
  • Setiap kegiatan supervisi dilaksanakan secara sistematis, terencana dan kontinu.

2. Prinsip Demokratis

Yakni dilaksanakan berdasarkan hubungan kemanusiaan yang akrab sehingga guru merasa perlu untuk mengembangkan tugasnya. Demokratis mengandung makna menjunjung tinggi harga diri dan martabat guru.

  • Prinsip Kerja Sama

Yakni mengembangkan usaha bersama atau “sharing of idea, sharing of experience” serta memberi support, dorongan dan menstimulasi guru sehingga mereka merasa tumbuh bersama.

  • Prinsip Demokratis dan Kreatif

Setiap guru akan merasa termotivasi dalam mengembangkan potensi kreativitasnya jika supervisi mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, bukan menakutkan.

 [Sumber: http://meetabied.wordpress.com]

Fungsi Supervisi 

Fungsi Supervisi menurut Moh. Badrus Sholeh, S.Pd.I

  1. Fungsi Meningkatkan Mutu PembelajaranRuang lingkupnya sempit, hanya tertuju pada aspek akademik, khususnya yang terjadi di ruang kelas ketika guru sedang memberikan bantuan dan arahan kepada siswa.
  2. Fungsi Memicu Unsur yang Terkait dengan PembelajaranLebih dikenal dengan nama Supervisi Administrasi
  3. Fungsi Membina dan Memimpin.

► FUNGSI SUPERVISI PENDIDIKAN

Fungsi supervisi pendidikan dapat diperinci sebagai berikut :

1. Mengadakan penilaian terhadap pelaksanaan kurikulum dengan segala sarana dan prasarana.

2.  Membantu serta membina guru dengan cara memberikan petunjuk sehingga keterampilan dan kemampuannya meningkat.

3.   Membantu kepala sekolah/ guru untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah.

 [Sumber: http://meetabied.wordpress.com]

► Fungsi Supervisi.

Secara umum fungsi supervisi adalah perbaikan pengajaran. Berikut ini berbagai pendapat para tentang fungsi supervisi, di antaranya adalah:

• Ayer, Fred E, menganggap fungsi supervisi untuk memelihara program pengajaran yang ada sebaik-baiknya sehingga ada perbaikan.

• Franseth Jane, menyatakan bahwa fungsi supervisi memberi bantuan terhadap program pendidikan melalui bermacam-macam cara sehingga kualitas kehidupan akan diperbaiki.

• W.H. Burton dan Leo J. Bruckner menjelaskan bahwa fungsi utama dari supervisi modern ialah menilai dan memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi hal belajar.

• Kimball Wiles, mengatakan bahwa fungsi supervisi ialah memperbaiki situasi belajar anak-anak.

[Sumber: http://www.slideshare.net%5D

► Dalam suatu analisa fungsi supervisi yang diberikan oleh swearingen, terdapat 8 fungsi supervisi, yakni:

1. Mengkoordinasi Semua Usaha Sekolah.

Koordinasi yang baik diperlukan terhadap semua usaha sekolah untuk mengikuti perkembangan sekolah yang makin bertambah luas dan usaha-usaha sekolah yang makin menyebar, diantaranya: Usaha tiap guru, Usaha-usaha sekolah, Usaha-usaha pertumbuhan jabatan.

2. Memperlengkapi Kepemimpinan Sekolah.

Yakni, melatih dan memperlengkapi guru-guru agar mereka memiliki ketrampilan dan kepemimpinan dalam kepemimpinan sekolah.

3. Memperluas Pengalaman.

Yakni, memberi pengalaman-pengalaman baru kepada anggota-anggota staff sekolah, sehingga selalu anggota staff makin hari makin bertambah pengalaman dalam hal mengajarnya.

4. Menstimulasi Usaha-Usaha yang Kreatif.

Yakni, kemampuan untuk menstimulir segala daya kreasi baik bagi anak-anak, orang yang dipimpinnya dan bagi dirinya sendiri.

5. Memberikan Fasilitas dan Penilaian yang Kontinyu.

Penilaian terhadap setiap usaha dan program sekolah misalnya, memiliki bahan-bahan pengajaran, buku-buku pengajaran, perpustakaan, cara mengajar, kemajuan murid-   muridnya harus bersifat menyeluruh dan kontinyu.

6. Menganalisa Situasi Belajar

Situasi belajar merupakan situasi dimana semua faktor yang memberi kemungkinan bagi guru dalam memberi pengalaman belajar kepada murid untuk mencapai tujuan pendidikan.

7. Memberi Pengetahuan dan Ketrampilan pada Setiap Anggota Staf.

Supervisi berfungsi memberi stimulus dan membantu guru agar mereka memperkembangkan pengetahuan dan ketrampilan dalam belajar.

8. Mengintegrasikan Tujuan dan Pembentukan Kemampuan.

Fungsi supervisi di sini adalah membantu setiap individu, maupun kelompok agar sadar akan nilai-nilai yang akan dicapai itu, memungkinkan penyadaran akan kemampuan diri     sendiri.

[Sumber: http://www.dhanay.co.cc%5D

► Fungsi Supervisi pendidikan

  1. Penelitian (research) → untuk memperoleh gambaran yang jelas dan objektif tentang suatu  situasi pendidikan.
  2. Penilaian (evaluation) → lebih menekankan pada aspek positif daripada negatif.
  3. Perbaikan (improvement) → dapat mengetahui bagaimana situasi pendidikan/pengajaran pada umumnya dan situasi belajar mengajarnya.
  4. Pembinaan → berupa bimbingan (guidance) kearah pembinaan diri yang disupervisi.
  • Perumusan topik
  • Pengumpulan data
  • Pengolahan data
  • Konklusi hasil penelitian

[Sumber: http://www.scribd.com/doc/9599712/Arti-Supervisi-Pendidikan]

Teknik Supervisi

► Teknik Supervisi

Gwyn dalam Sahertian dan Mataheru (1986) menyebutkan teknik supervisi terdiri dari individual deviation (bersifat individual) dan group devices (bersifat kelompok). Teknik supervisi yang bersifat individual antara lain; kunjungan kelas, observasi kelas, percakapan pribadi, saling mengunjungi kelas, dan menilai diri sendiri. Sedangkan teknik yang bersifat kelompok diantara adalah; panel of forum discussion, curriculum laboratry, directed reading, demonstration teachingprofessional libraries, supervisory bulletin, teacher meeting, professional oraganization, workshop of group work.

Evan dan Neagly (1980) menyebutkan teknik supervisi terdiri dari; individual techniques (teknik perorangan) dan group techniques (teknik kelompok). Individual techniques terdiri atas; assignment of teachers, classroom visitation and observation, classroom experimentation, colleges course, conference (individual), demonstration teaching, evaluation, proffesional reading, professional writing, supervisory bulletins, informal contacts. Sedangkan yang termasuk teknik kelompok (group techniques) diantaranya adalah; orientation of new teacher, development of professional libraries, visiting other teachers, coordinating of student teacing.

A. Teknik perseorangan

1. Mengadakan kunjungan kelas (Classroom visitation) Yang dimaksud adalah kunjungan yang dilakukan untuk melihat guru yang sedang mengajar atau ketika kelas sedang kosong.

2.  Mengadakan observasi kelas (Classroom Observation) Kunjungan ke sebuah kelas untuk mencermati      situasi/peristiwa yang sedang berlangsung di dalam kelas.

3. Mengadakan wawancara :  dilakukan apabila supervisor menghendaki jawaban dari individu tertentu.

B. Teknik kelompok

1. Mengadakan pertemuan/rapat (meeting) Dalam kegiatan ini Supervisor dapat memberikan pengarahan (directing), pengkoordinasian (coordinating) dan mengkomunikasikan (comunicating ) segala informasi kepada guru/staf .

2. Mengadakan diskusi kelompok ( group discusion )

3. Mengadakan penataran (in service training)

4. Seminar

[Sumber: Moh. Badrus Sholeh, S.Pd.I]

► TEKNIK SUPERVISI PENDIDIKAN

Menurut Ary Gunawan, ada 2 jenis teknik supervisi pendidikan yaitu:

1. Teknik Kelompok (Group Technique)

Jika menurut supervisor permasalahannya sejenis, maka penyelesaiannya dapat dilakukan dengan “teknik kelompok”.

2. Teknik Individual (Individual Technique) Bila masalah yang dihadapi bersifat pribadi, maka teknik yang digunakan adalah teknik individual sehingga dijamin kerahasiaannya.

Menurut John Minor Gwin (dalam Sahertian, 2000) bahwa teknik individual itu seperti :

1. Kunjungan kelas

2. Observasi kelas

3. Percakapan pribadi

4. Intervisitasi

5. Menyeleksi berbagai materi untuk mengajar

[Sumber: http://meetabied.wordpress.com%5D

► Teknik Supervisi menurut Gwyn, bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu. teknik supervisi individual, danteknik supervisi kelompok.

1. Teknik Supervisi Individual

Teknik supervisi individual di sini adalah pelaksanaan supervisi yang diberikan kepada guru tertentu yang mempunyai masalah khusus dan bersifat perorangan. Supervisor di sini hanya berhadapan dengan seorang guru yang dipandang memiliki persoalan tertentu. Teknik-teknik supervisi yang dikelompokkan sebagai teknik individual meliputi: kunjungan kelas, observasi kelas, pertemuan individual, kunjungan antarkelas, dan menilai diri sendiri. Berikut ini dijelaskan pengertian-pengertian dasarnya secara singkat satu persatu.

a.Kunjungan Kelas.

Kunjungan kelas adalah teknik pembinaan guru oleh kepala sekolah, pengawas, dan pembina lainnya dalam rangka mengamati pelaksanaan proses belajar mengajar sehingga memperoleh data yang diperlukan dalam rangka pembinaan guru. Tujuan kunjungan ini adalah semata-mata untuk menolong guru dalam mengatasi kesulitan atau masalah mereka di dalam kelas. Melalui kunjungan kelas, guru-guru dibantu melihat dengan jelas masalah-masalah yang mereka alami. Menganalisisnya secara kritis dan mendorong mereka untuk menemukan alternatif pemecahannya. Kunjungan kelas ini bisa dilaksanakan dengan pemberitahuan atau tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, dan bisa juga atas dasar undangan dari guru itu sendiri. Ada empat tahap kunjungan kelas. Pertama, tahap persiapan. Pada tahap ini, supervisor merencanakan waktu, sasaran, dan cara mengobservasi selama kunjungan kelas. Kedua, tahap pengamatan selama kunjungan. Pada tahap ini, supervisor mengamati jalannya proses pembelajaran berlangsung. Ketiga,tahap akhir kunjungan. Pada tahap ini, supervisor bersama guru mengadakan perjanjian untuk membicarakan hasil-hasil observasi, sedangkan tahap terakhir adalah tahap tindak lanjut. Ada beberapa kriteria kunjungan kelas yang baik, yaitu: (1) memiliki tujuan-tujuan tertentu; (2) mengungkapkan aspek aspek yang dapat memperbaiki kemampuan guru; (3) menggunakan instrumen observasi tertentu untuk mendapatkan daya yang obyektif; (4) terjadi interaksi antara pembina dan yang dibina sehingga menimbulkan sikap saling pengertian; (5) pelaksanaan kunjungan kelas tidak menganggu proses belajar mengajar; (6) pelaksanaannya diikuti dengan program tindak lanjut.

b. Observasi Kelas.

Observasi kelas secara sederhana bisa diartikan melihat dan memperhatikan secara teliti terhadap gejala yang nampak. Observasi kelas adalah teknik observasi yang dilakukan oleh supervisor terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Tujuannya adalah untuk memperoleh data seobyektif mungkin mengenai aspek-aspek dalam situasi belajar mengajar, kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam usaha memperbaiki proses belajar mengajar. Secara umum, aspek-aspek yang diamati selama proses pembelajaran yang sedang berlangsung adalah:

1) usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam proses pembelajaran

2) cara penggunaan media pengajaran

3) reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar

4) keadaan media pengajaran yang dipakai dari segi materialnya.

Pelaksanaan observasi kelas ini melalui beberapa tahap, yaitu: (1) persiapan observasi kelas; (2) pelaksanaan observasi kelas; (3) penutupan pelaksanaan observasi kelas; (4) penilaian hasil observasi; dan (5) tindak lanjut. Dalam melaksanakan observasi kelas ini, sebaiknya supervisor menggunakan instrumen observasi tertentu, antara lain berupa evaluative check-list, activity check-list.

c. Pertemuan Individual

Pertemuan individual adalah satu pertemuan, percakapan, dialog, dan tukar pikiran antara pembina atau supervisor guru, guru dengan guru, mengenai usaha meningkatkan kemampuan profesional guru. Tujuannya adalah: (1) memberikan kemungkinan pertumbuhan jabatan guru melalui pemecahan kesulitan yang dihadapi; (2) mengembangkan hal mengajar yang lebih baik; (3) memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri guru; dan (4) menghilangkan atau menghindari segala prasangka yang bukan-bukan. Swearingen (1961) mengklasifikasi jenis percakapan individual ini menjadi empat macam sebagai berikut

□ classroom-conference, yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di dalam kelas ketika murid-murid sedang meninggalkan kelas (istirahat).

□ office-conference. Yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah atau ruang guru, di mana sudah dilengkapi dengan alat-alat bantu yang dapat digunakan untuk memberikan penjelasan pada guru.

□ causal-conference. Yaitu percakapan individual yang bersifat informal, yang dilaksanakan secara kebetulan bertemu dengan guru.

□ observational visitation. Yaitu percakapan individual yang dilaksanakan setelah supervisor melakukan kunjungan kelas atau observasi kelas.

Dalam percakapan individual ini supervisor harus berusaha mengembangkan segi-segi positif guru, mendorong guru mengatasi kesulitankesulitannya, dan memberikan pengarahan, hal-hal yang masih meragukan sehingga terjadi kesepakatan konsep tentang situasi pembelajaran yang sedang dihadapi.

d, Kunjungan Antar Kelas

Kunjungan antarkelas dapat juga digolongkan sebagai teknik supervisi secara perorangan. Guru dari yang satu berkunjung ke kelas yang lain dalam lingkungan sekolah itu sendiri. Dengan adanya kunjungan antarkelas ini, guru akan memperoleh pengalaman baru dari teman sejawatnya mengenai pelaksanaan proses pembelajaran pengelolaan kelas, dan sebagainya. Agar kunjungan antarkelas ini betul-betul bermanfaat bagi pengembangan kemampuan guru, maka sebelumnya harus direncanakan dengan sebaik-baiknya. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh supervisor apabila menggunakan teknik ini dalam melaksanakan supervisi bagi guruguru.

□ Guru-guru yang akan dikunjungi harus diseleksi dengan sebaikbaiknya. Upayakan mencari guru yang memang mampu memberikan pengalaman baru bagi guru-guru yang akan mengunjungi.

□  Tentukan guru-guru yang akan mengunjungi.

□  Sediakan segala fasilitas yang diperlukan dalam kunjungan kelas.

□ Supervisor hendaknya mengikuti acara ini dengan cermat. Amatilah apa-apa yang ditampilkan secara cermat, dan mencatatnya pada format-format tertentu.

□ Adakah tindak lanjut setelah kunjungan antarkelas selesai. Misalnya dalam bentuk percakapan pribadi, penegasan, dan pemberian tugas-tugas tertentu.

□ Segera aplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan, dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi.

□  Adakan perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar kelas berikutnya.

e. Menilai Diri Sendiri

Menilai diri sendiri merupakan satu teknik individual dalam supervisi pendidikan. Penilaian diri sendiri merupakan satu teknik pengembangan profesional guru (Sutton, 1989). Penilaian diri sendiri memberikan informasi secara obyektif kepada guru tentang peranannya di kelas dan memberikan kesempatan kepada guru mempelajari metoda pengajarannya dalam

mempengaruhi murid (House, 1973). Semua ini akan mendorong guru untuk mengembangkan kemampuan profesionalnya (DeRoche, 1985; Daresh, 1989; Synder & Anderson, 1986). Nilai diri sendiri merupakan tugas yang tidak mudah bagi guru. Untuk mengukur kemampuan mengajarnya, di samping menilai murid-muridnya, juga menilai dirinya sendiri. Ada beberapa cara atau alat yang dapat digunakan untuk menilai diri sendiri, antara lain sebagai berikut.

□ Suatu daftar pandangan atau pendapat yang disampaikan kepada murid-murid untuk     menilai pekerjaan atau suatu aktivitas. Biasanya disusun dalam bentuk pertanyaan baik      secara tertutup maupun terbuka, dengan tidak perlu menyebut nama.

□   Menganalisa tes-tes terhadap unit kerja.

□ Mencatat aktivitas murid-murid dalam suatu catatan, baik mereka bekerja secara             perorangan maupun secara kelompok.

2. Teknik Supervisi Kelompok

Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Guru-guru yang diduga, sesuai dengan analisis

kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu/bersama-sama. Kemudian kepada mereka diberikan layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhan yang mereka hadapi. Menurut Gwynn, ada tiga belas teknik supervisi kelompok, sebagai berikut:

a) Kepanitiaan-kepanitiaan

b) Kerja kelompok

c) Laboratorium kurikulum

d) Baca terpimpin

e) Demonstrasi pembelajaran

f) Darmawisata

g) Kuliah/studi

h) Diskusi panel

i) Perpustakaan jabatan

j) Organisasi profesional

k) Buletin supervisi

l) Pertemuan guru

m) Lokakarya atau konferensi kelompok

Teknik supervisi kelompok ini tidak akan dibahas satu persatu, karena sudah banyak buku yang secara khusus membahasnya. Satu hal yang perlu ditekankan di sini bahwa tidak ada satupun di antara teknik-teknik supervisi kelompok di atas yang cocok atau bisa diterapkan untuk semua pembinaan dan guru di sekolah. Artinya, akan ditemui oleh kepala sekolah adanya satu teknik tertentu yang cocok diterapkan untuk membina seorang guru tetapi tidak cocok diterapkan pada guru lain. Oleh sebab itu, seorang kepala sekolah harus mampu menetapkan teknik-teknik mana yang sekiranya mampu membina keterampilan pembelajaran seorang guru. Menetapkan teknik-teknik supervisi akademik yang tepat tidaklah mudah. Seorang pengawas , selain harus mengetahui aspek atau bidang keterampilan yang akan dibina, juga harus mengetahui karakteristik setiap teknik di atas dan sifat atau kepribadian guru, sehingga teknik yang digunakan betul-betul sesuai dengan guru yang sedang dibina melalui supervisi akademik. Sehubungan dengan kepribadian guru, Lucio dan

McNeil (1979) menyarankan agar kepala sekolah mempertimbangkan enam faktor kepribadian guru, yaitu kebutuhan guru, minat guru, bakat guru, temperamen guru, sikap guru, dan sifat-sifat somatic guru.

[Sumber: http://lpmpjogja.diknas.go.id]

►  Teknik Supervisi

Perlu digunakan beberapa teknik supervise untuk mencapai tujuan supervise antara lainnya :

a.   Kunjungan dan observasi kelas.

Melaliu teknik ini kelebihan dan kekurangan proses pembelajaran dapat diamati langsung, seperti langkah-langkah, penanaman kosep, penggunaan alat pelajaran atau alat peraga, metode, teknik, dll.

b.   Pembicaraan individual

Teknik ini dapat merupakan tindak lanjut dari hasil kunjungan dan observasi kelas

c.   Diskusi kelompok

Dalam teknik ini setiap anggota membarikan sumbangan pemikiran untuk mengatasi masalah pendidikan yang dihadapi.

Sumber:

SUPERVISI AKADEMIK DALAM MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

March 30, 2009 By: 10arofah Category: Uncategorized

► TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI

Banyak ahli menyebut tehnik-tehnik supervise pendidikan secara agak berbeda berdasarkan titik tolak pandang yang dianutnya. Chart berikut mencoba membeberkan beberapa tehnik yang dikemukakan para penulis ada persamaan dan perbedaannya. Adapun tehnik-tehnik supervisi pendidikan sebagai berikut:

A. Tehnik Yang Bersifat Individual

Tehnik yang bersifat individual antara lain:

1. Perkunjungan Kelas ( Classroom Visitation )

a. Pengertian.

Yaitu seorang pembina atau kepala sekolah datang ke kelas dimana guru sedang mengajar. Ia mengadakan peninjauan terhadap suasana belajar dikelas itu.

b. Tujuan

Ialah menolong guru-guru dalam hal pemecahan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi. Dalam perkunjungan kelas yang diutamakan ialah memepelajari sifat dan kualitas cara belajar anak dan bagaimana guru membimbing siswa.

c. Fungsi

Sebagai alat untuk memajukan cara mengajar dan cara belajar dan mengajar yang baru. Perkunjungan juga membantu pertumbuhan profesional baik guru maupun supervisor karena memberi kesempatan untuk meneliti prinsip dan hal belajar mengajar.

d. Jenis

1) Perkunjungan tanpa diberitahukan sebelumnya

2) Perkunjungan dengan memberitahukan

3) Perkunjungan atas dasar undangan guru

2. Observasi Kelas

Dalam melaksanakan perkunjungan supervisor mengadakan observasi, maksudnya meneliti suasana kelas selama pelajaran berlangsung.

a. Jenis Observasi Kelas

□       Observasi langsung, yaitu seorang guru yang sedang mengajar diobservasi langsung oleh supervisor. Ia berada diantara dan bersama-sama dalam kelas

□       Observasi tidak langsung, yaitu orang yang mengobservasi dibatasi oleh ruang kaca dimana siswa tidak mengetahuinya.

b. Tujuan Observasi Kelas

Untuk memperoleh data yang seobjektif mungkin sehingga bahan yang diperoleh dapat digunakan untuk menganalisa kesulitan-kesuliatan yang dihadapi guru-guru dalam usaha memperbaiki hal belajar mengajar.

B. Tehnik Yang Bersifat Kelompok

Yang dimaksud dengan teknik-teknik yang bersifat kelompok ialah teknik-teknik yang digunakan itu dilaksanakan bersama-samaoleh supervisor dengan sejumlah guru dalam satu kelompok. Teknik-teknik itu antara lain :

1. Rapat Guru

Rapat guru merupakan salah satu teknik supervisi untuk memperbaiki situasi belajar dan mengajar.

Macam-macam rapat guru antara lain :

a. Menurut Tingkatannya

1)      Staff – Meeting Yaitu rapat guru-guru dalam satu sekolah yang dihadiri oleh seluruh atau sebagian guru di sekolah tersebut.

2)      Rapat guru-guru bersama dengan orang tua murid dan murid-murid/ wakil-wakilnya.

3)      Rapat guru es-kota, se-wilayah, se-rayon, dari sekolah yang sejenis dan setingkat.

4)      Rapat guru-guru dari beberapa sekolah yang bertetangga.

5)      Rapat kepala-kepala sekolah.

b. Menurut Waktunya

1)      Rapat permulaan dan akhir tahun

2)      Rapat periodik

3)      Rapat-rapat yang bersifat insidental

c. Tujuan-tujuan Umum Rapat Guru

1)      Menyatukan pandangan-pandangan guru tentang konsep umum, makna pendidikan dan fungsi sekolah dalam pencapaian tujuan pendidikan itu dimana mereka bertanggung jawab bersama-sama.

2)      Mendorong guru untuk menerima dan melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik dan mendorong pertumbuhan mereka.

3)      Menyatukan pendapat tentang metode kerja yang akan membawa mereka bersama ke arah pencapaian tujuan pengajaran yang maksimal di sekolah tersebut.

2. Studi Kelompok Antar Guru

Guru-guru dalam mata pelajaran sejenis berkumpul bersama untuk mempelajari suatu masalah atau sejumlah pelajaran. Pokok bahasan telah ditentukan dan diperinci dalam garis-garis besar atau dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan pokok yang telah disusun secara teratur. Untuk mempelajari bahan-bahan dapat dipergunakan bermacam-macam teknik berkomunikasi. Misalnya seorang yang mengemukakan sesuatu masalah dan dibahas bersama. Sebaiknya bahan-bahan itu telah dipelajari lebih dahulu. Untuk dapat memperkaya pembahasan diperlukan cukup banyak sumber-sumber buku.

[Sumber:

Purwanto, Ngalim, Administrasi dan Supervisi Pendidikan,

Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1987.]

Tujuan Supervisi

► TUJUAN SUPERVISI Pendidikan

Adapun tujuan supervisi pendidikan dapat dirinci sebagai berikut :

  1. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar mengajar.
  2. Mengendalikan penyelenggaraan bidang teknis edukatif di sekolah sesuai dengan ketentuan  dan kebijakan yang telah ditetapkan.
  3. Menjamin agar kegiatan sekolah berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sehingga berjalan lancar dan berhasil secara optimal.
  4. Menilai keberhasilan sekolah dalam pelaksanaan tugasnya.
  5. Memberikan bimbingan langsung untuk memperbaiki kesalahan dan kekurangan, serta membantu memecahkan masalah yang dihadapi sekolah sehingga dapat dicegah kesalahan yang lebih jauh.

Dalam buku Pedoman Pelaksanaan Supervisi Pendidikan Agama dijelaskan bahwa kegiatan supervisi pada dasarnya akan diarahkan pada hal-hal sebagai berikut :

  • Membangkitkan dan merangsang semangat guru dan pegawai sekolah.
  • Mengembangkan dan mencari metode-metode belajar mengajar yang baru yang lebih sesuai dan lebih baik.
  • Mengembangkan kerjasama yang baik dan harmonis antara guru dan siswa, serta guru dengan seluruh tenaga pengajar yang lain, kepala sekolah dan seluruh staf yang berada dalam sekolah yang bersangkutan.
  • Berusaha meningkatkan kualitas wawasan dan pengetahuan guru dan pegawai dengan cara melakukan pembinaan secara berkala.

Selain itu, ada 2 sasaran pokok dalam supervisi, yaitu :

  • Supervisi terhadap kegiatan yang bersifat teknis edukatif, yang meliputi kurikulum, PBM dan evaluasi.
  • Supervisi teknis administratif, meliputi administrasi personal, material, keuangan serta administrasi sarana dan prasarana pendidikan.

[Sumber: http://meetabied.wordpress.com]

► Tujuan Supervisi

Secara operasional supervisi pendidikan bertujuan untuk memberikan bantuan kepada guru guna peningkatan kemampuan mereka dalam rangka mewujudkan proses pembelajaran yang lebih baik yaitu, mampu menumbuhkembangkan potensi para siswa, potensi intelektual, emosional, social, keagamaan, maupun jasmaniahnya.

Mulyasa (2002) merumuskan tujuan supervise sebagai bantuan dan kemudahan yang diberikan pada guru untuk belajar bagaimana meningkatkan kemampuan mereka guna mewujudka tujuan belajar.Dengan supervise diharapkan kegiatan belajar mengajar jadi lebih baik.

Sahertian (1981) mengemukakan tujuan saupervisi adalah :

  1. membantu guru melihat dengan jelas tujuan pendidikan
  2. membantu guru dalam membimbing pengalaman belajar murid
  3. membantu guru dalam menggunakan sumber pengalaman belajar murid
  4. membantu guru dalam menggunakan metode dan alat pelajaran modern
  5. membantu guru dalam memenuhi kebutuhan murid
  6. membantu guru dalam menilai kemajuan murid dan hasil pekerjaan guru itu sendiri
  7. membantu guru dalam membina reaksi mental atau moral kerja guru dalam rangka pertumbuhan pribadi dan jabatan mereka
  8. membantu guru di sekolah sehingga mereka merasa gembira dengan tugas yang diperolehnya
  9. membantu guru agar lebih mudah mengadakan penyesuaian terhadap, masyaraka dan cara cara menggunakan sumbermasyarakat dan seterusnya
  10. membantu guru agar waktu dan tenaga guru tercurahkan sepenuhnya dalam pembinaan sekolah.

[Sumber:

SUPERVISI AKADEMIK DALAM MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

March 30, 2009 By: 10arofah Category: Uncategorized]

► Beberapa tujuan supervisi pendidikan jika dijabarkan :

  1. membina guru-guru untuk lebih memahami tujuan umum pendidikan.
  2. membina guru-guru guna mengatasi poroblem-problem siswa demi kemajuan prestasi belajarnya.
  3. membina guru-guru dalam mempersiapkan siswa-siswanya untuk menjadi anggota masyarakat yang produktif, kreatif, etis, dan religius
  4. membina guru-guru dalam mengevaluasi, mendiagnosa kesulitan belajar dan seterusnya.
  5. membina guru-guru dalam memperbesar kesadaran tentang tata kerja yang demokratis, kooperatif serta kegotong royongan.
  6. memperbesar ambisi guru-guru dan karyawan dalam meningkatkan mutu profesinya.
  7. membaantu guru-guru dan karyawan meningkatkan popularitas Madrasahnya.
  8. melindungi guru-guru dan karyawan pendidikan terhadap tuntutan serta kritik-krtik tak wajar dari masyarakat.
  9. mengembangkan sikap kesetiakawanan dan keteman sejawatan dari seluruh tenaga pendidikan.

[Sumber: http://pendis.depag.go.id/madrasah/ebook/00003/Bab_8.pdf]

► Tujuan umum supervisi

adalah memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada guru (dan staf sekolah yang lain) agar personil tersebut mampu meningkatkan kualitas kinerjanya, terutama dalam melaksanakan tugas, yaitu melaksanakan proses pembelajaran. Selanjutnya apabila kualitas kinerja guru dan staf sudah meningkat, demikian pula mutu pembelajarannya, maka diharapkan prestasi belajar siswa juga akan meningkat. Pemberian bantuan pembinaan dan pembimbing tersebut dapat bersifat langsung ataupun tiadak langsung kepada guru yang bersangkutan, (Arikunto, 2004: 40).

Bertitik tolak dari komponen-komponen sistem pembelajaran atau faktor-faktor penentu keberhasilan belajar maka tujuan khusus supervisi akademik menurut Arikunto (2004: 41) adalah:

  1. Meningkatkan kinerja siswa sekolah dalam perannya sebagai peserta didik yang belajar dengan semangat tinggi, agar dapat mencapai prestasi belajar secara optimal;
  2. Meningkatkan mutu kinerja guru di sehingga berhasil membantu dan membimbing siswa mencapai prestasi belajar clan pribadi sebagaimana diharapkan;
  3. Meningkatkan keefektifan kurikulum sehingga berdaya guna dan terlaksana dengan baik di dalam proses pembelajaran di sekolah serta mendukung dimilikinya kemampuan pada diri lulusan sesuai dengan tujuan lembaga;
  4. Meningkatkan keefektifan dan keefisiensian sarana dan prasarana yang ada untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu mengopimalkan keberhasilan belajar siswa;
  5. Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah, khususnya dalam mendukung terciptanya suasana kerja yang optimal, yang selanjutnya siswa dapat mencapai prestasi belajar sebagaimana diharapkan. Dalam mensupervisi pengelolaan ini supervisor harus mengarahkan walinya dalam mengelola sekolah, meliputi aspek-aspek yang ada kaitannya dengan faktor penentu keberhasilan sekolah;
  6. Meningkatkan koalitas situasi umum sekolah sekolah sedemikian rupa sehingga tercipta situasi yang tenang dan tantram serta kondusif bagi kehidupan sekolah pada umumnya, khususnya pada kualitas pembelaiaran yang menunjukkan keberhasilan lulusan.

[Sumber: http://metrosis.blogspot.com/2009/11/kepala-sekolah-sebagai-supervisor.html]

► Secara umum tujuan supervisi klinis untuk :

  • Menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawabnya terhadap pelaksanaan kualitas proses pembelajaran.
  • Membantu guru untuk senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
  • Membantu guru untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang muncul dalam proses pembelajaran.
  • Membantu guru untuk dapat menemukan cara pemecahan maslah yang ditemukan dalam proses pembelajaran.
  • Membantu guru untuk mengembangkan sikap positif dalam mengembangkan diri secara berkelanjutan.

[Sumber :

Iim Waliman, dkk. 2001. Supervisi Klinis (Modul Manajemen Berbasis Sekolah).

Bandung : Dinas Pendidikan Prov. Jawa Barat.]

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 5 Januari 2012 in Education

 

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: