RSS

PENALARAN DAN MEMBACA UNTUK MENULIS

05 Jan

Latar Belakang Masalah

          Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Pada hakikatnya pembelajaran bahasa. Khususnya bahasa Indonesia yaitu belajar berkomunikasi. Dalam upaya meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi secara penalaran dan membaca untuk menulis serta untuk mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa Indonesia dalam segala fungsinya yaitu sebagai sarana berpikir atau bernalar.
Di lembaga pendidikan yang bersifat formal seperti sekolah, keberhasilannya dapat dilihat dari hasil belajar siswa dalam prestasi belajarnya. Kualitas dan keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan ketepatan guru memilih serta menggunakan metode pengajaran.
Kenyataan di lapangan, khususnya dalam pembelajaran  bahasa Indonesia yang khususnya pada penalaran, membaca dan menulis kegiatan pembelajarannya masih dilakukan secara klasikal. Pembelajaran lebih ditekankan pada model yang banyak diwarnai dengan ceramah dan tanpa menggunakan media. Hal ini mengakibatkan kurang terlibatnya siswa dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan siswa hanya duduk, diam, dengar, dan catat serta hafal. Kegiatan ini mengakibatkan siswa kurang ikut berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran yang cenderung menjadikan mereka cepat bosan dan malas belajar. Hal ini mengakibatkan kurang terdorongnya motivasi ataupun kesadaran dalam kegiatan yang mengandalkan penalaran,
Melihat kondisi demikian, maka perlu adanya alternatif pembelajaran yang berorientasi pada bagaimana siswa belajar menemukan sendiri informasi, menghubungkan topik yang sudah dan yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat berinteraksi multi arah baik bersama guru maupun selama siswa dalam suasana yang menyenangkan.

Salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagaimana yang disarankan para ahli pendidikan adalah pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan dengan menggunakan naskah berita pada pokok bahasan mencatat isi berita TV.

Pembelajaran kooperatif merupakan sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan pada anak untuk bekerja sama dengan tugas-tugas terstruktur. Melalui pembelajaran ini siswa bersama kelompok secara gotong royong saling membantu antara teman yang satu dengan teman yang lain. Sehingga di dalam kerja sama tersebut yang cepat harus membantu yang lemah, oleh karena itu setiap anggota kelompok penilaian akhir ditentukan oleh keberhasilan kelompok. Kegagalan individu adalah kegagalan kelompok. Dan sebaliknya keberhasilan siswa individual adalah keberhasilan kelompok.
Sedangkan bercerita berpasangan merupakan salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif. Yang membedakan tipe bercerita berpasangan dengan lainnya adalah guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Dengan didukung penggunaan media naskah berita siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi.

Menulis

Menulis, yang merupakan kegiatan menumpahkan ide, gagasan, dan perasaan lewat tulisan; sudah barang tentu tidak bisa berlepas diri dari peran otak. Tulisan adalah sebuah ”permainan bebas” unsur-unsur bahasa dalam komunikasi. Ia juga sebuah proses perubahan makna secara terus-menerus. Untuk dapat menuangkan ide dan gagasan dalam ”permainan” tersebut diperlukan keahlian untuk menuangkannya secara tertib dan tertata. Dan yang bertanggung jawab dalam pengurutan dan keteraturan adalah otak belahan kiri. Sementara itu, otak belahan kanan bertugas mengatur imajinasi dan kreativitas. Apabila kedua belahan itu dapat bersinergi, tak khayal lagi otak akan berkembang secara seimbang. Menulis juga dapat mempercepat pematangan right hemisfer, dan dapat berpengaruh ke left hemisfer karena adanya cross-over dari kanan ke kiri dan sebaliknya yang sangat kompleks dari jaras-jaras neuronal di otak. Polarisasi keseimbangan otak tersebut adalah kemudahan dalam mengembangkan kecerdasan-kecerdasan yang lain, seperti kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Selain itu, informasi dapat diserap dan diproses dengan lebih efektif.
Kecerdasan yang sering diasumsikan sebagai kecerdasan intelektual belaka sebenarnya tidak cukup. Kecerdasan yang demikian sama halnya dengan mengembangkan satu belahan otak saja, yaitu otak kiri. Padahal, dalam hidupnya, manusia tidak hanya membutuhkan kecerdasan secara intelegensi tetapi juga kecerdasan secara emosional dan spiritual. Sementara itu, IQ hanya digunakan untuk melihat dan membayangkan ruang dan mencari hubungan logis antarperistiwa atau kasus. IQ tidak dapat digunakan untuk kreativitas, kemampuan sosialisasi, dan kearifan lainnya. Padahal, dalam kegiatan menulis seseorang dapat dengan bebas berimajinasi. Imajinasi berarti membiarkan otak mengembara mencari dimensi kebenaran alamiah, membayangkan bentuk, ruang, warna, waktu, dan beragam imajinasi lain. Namun, pengembaraan itu tetap dikontrol oleh belahan otak kiri dengan melakukan analisis, kritik, dan lain-lain. Oleh karenanya, dengan menulis seseorang tidak hanya diajak untuk mengembangkan belahan otak kiri tetapi juga otak belahan kanan. Dengan otak belahan kanan manusia diajarkan untuk cerdas secara emosional dan spiritual.

Untuk mengasah kecerdasan diperlukan upaya untuk memahami segala sesuatu, baik kejadian yang dialami, dibaca, maupun dilihat. Dalam pemahaman itulah terjalin suatu hubungan kerjasama otak antara penyusunan imaji dan perangkaiannya dalam suatu bentuk komunikasi, yang dalam hal ini adalah tulisan. Efek atau suasana perasaan dan emosi baik persepsi, ekspresi, maupun kesadaran pengalaman emosional, secara predominan diperantarai oleh right hemisfer. Artinya, hemisfer ini memainkan peran besar dalam perkembangan emosi, yang sangat penting bagi perkembangan sifat-sifat manusia yang manusiawi. Kehalusan dan kepekaan seseorang untuk dapat ikut merasakan perasaan orang lain, menghayati pengalaman kehidupan dengan “perasaan”, adalah fungsi otak kanan, sedang kemampuan mengerti perasaan orang lain, mengerti pengalaman dengan rasio adalah fungsi otak kiri. Kemampuan seseorang untuk dapat berkomunikasi dengan baik dan manusiawi dengan orang lain merupakan percampuran antara otak kanan dan kiri.
Menulis juga merupakan pengejawantahan  kegiatan membaca, baik yang berasal dari bacaan, pengalaman  maupun penafsiran. Kemampuan menulis yang tidak diimbangi dengan kemampuan membaca bagaikan sayur tanpa garam. Agar dapat melakukan analisis yang tajam, bukti dan data yang akurat dan terpercaya, seorang penulis dituntun untuk mampu membaca semua fenomena yang ada.
Dalam mengukur kemampuan berbahasa, refleksi merupakan kemampuan metabahasa yang menjadi indikator kecerdasan. Seseorang yang telah memiliki budaya menulis tidak saja dapat dipastikan cerdas secara linguistis tetapi juga cerdas secara intelektual, sebab ia membuktikan tidak saja mampu berbahasa tetapi juga mampu mengemukakan data, fakta, serta analisisnya dalam bentuk tulisan.

Budaya baca-tulis yang kuat ternyata dapat mempercepat proses terciptanya komunitas terdidik dengan kesempatan belajar yang tak terbatas, mempercepat penjalaran dan pembiakan pengetahuan serta mendorong terciptanya ruang-ruang kreativitas baru bagi masyarakat dalam menghadapi tantangan hidup sehingga terbentuk manusia-manusia yang cerdas hanya dengan melalui pengembangan budaya baca-tulis. Telaah lebih jauh memperlihatkan bahwa anak yang biasa atau gemar membaca  terbukti jauh lebih pandai, serta memiliki IQ dan EQ yang lebih tinggi daripada anak yang kurang banyak membaca. Anak yang senang membaca mempunyai penalaran dan tingkat kecerdasan yang jauh di atas rata-rata kelas, dan tingkat emosionalnya sangat seimbang. Bahkan dalam melakukan ”problem solving” rata-rata lebih logis pemikirannya, disertai dengan bahasa yang runtut dan santun.
Menulis sebagai salah satu bentuk komunikasi afektif dapat memberikan pengalaman emosional. Emosi, yang merupakan suatu pengalaman subjektif, dimiliki oleh setiap manusia. Kemampuan merasakan, menghayati, dan mengevaluasi makna dari interaksi dengan lingkungan, ternyata dapat dirangsang dan dioptimalkan melalui proses menulis sejak dini. Karena itu, menulislah, maka kau akan cerdas.

Mahasiswa di zaman sekarang ini lebih banyak melakukan aktivitas yang kurang bermanfaat. Contohnya, hura-hura dan banyak menghabiskan waktu di mall dan klub-klub malam. Pikiran bahwa, mahasiswa adalah golongan elit bangsa dijadikan alasan untuk bersenang-senang di masa muda.
Keadaan ini semakin diperparah oleh rendahnya budaya mengerjakan tugas kuliah. Jika, dalam sebuah mata kuliah ada tugas membuat makalah kelompok misalnya, kebanyakan mahasiswa saling melempar tugas. Kemudian mereka memberikan tugas kelompok ini kepada salah satu orang dalam kelompoknya, atau dengan pembagian tugas: A mencari buku dan bahan referensi; B mengerjakan bahan; C mengetik makalah; D memfoto copy; E menjadi moderator dalam presentasi makalah, dan seterusnya.
Dalam praktiknya mereka juga tidak menyediakan waktu untuk sekadar berdiskusi agar hasil makalahnya menjadi lebih baik. Mereka, sekali lagi, lebih banyak disibukkan oleh hal-hal yang kurang bermanfaat dan menyepelekan tugas-tugas kuliah tersebut.

Di samping itu, mahasiswa juga masih banyak yang binggung mengenai bagaimana membuat makalah yang baik. Hal ini diperparah oleh tenaga pengajar (dosen) yang acuh tak acuh. Dosen seringkali tidak memberikan pengarahan terlebih dahulu mengenai apa itu makalah, bagaimana cara membuatnya, apa fungsi footnote, bodynote, endnote dan seterusnya. Mahasiswa pun tidak punya banyak inisiatif untuk bertanya atau membaca buku mengenai hal tersebut.
Keadaaan yang demikian akan berpengaruh pada hasil akhir studi mahasiswa. Di awal studinya, mahasiswa sudah tidak paham tentang bagaimana membuat makalah, tidak banyak membaca buku, tidak banyak pergaulan dalam diskusi dan seterusnya. Pada akhir studi mereka mencari jalan pintas untuk menyelesaikan tugas akhirnya (skripsi) dengan mempergunakan jasa pembuatan skripsi.
Tidaklah aneh jika lulusan perguruan tinggi di Indonesia begitu memprihatinkan. Lulusan perguruan tinggi (S1) pada tahun 2005 sebanyak 385.418 menjadi pengangguran terbuka. Mungkin salah satu penyebabnya adalah hilangnya kemandirian mahasiswa untuk berkreativitas dengan banyak membaca dan menulis.
Guna menyelesaikan persoalan tersebut di atas, misalnya Yogyakarta, Malang, Surabaya, Jember, dan Bandung sebagai penyandang predikat kota pendidikan memprakarsai adanya budaya gemar membaca dan menulis. Budaya membaca dan menulis dapat disosialisasikan mulai dari lingkungan keluarga. Di setiap keluarga ada sebuah ruangan khusus yang menyediakan buku-buku dan koran yang diletakkan di sebuah tempat khusus pula, sehingga memudahkan untuk diambil dan dibaca.
Mengenalkan sejak dini budaya membaca ini tentunya akan merangsang anak untuk selalu menyimak dan mengikuti perkembangan berita dan pemikiran. Dengan demikian, ketika ia sudah masuk ke jenjang yang lebih tinggi tidak gagap lagi dengan perkembangan tehnologi informasi.

Sistem kerja otak

Otak adalah organ yang tetap hidup selama manusia masih menghembuskan nafas. Otaklah yang membuat kita bergerak mengambil air minum tatkala kita haus. Otak pulalah yang memerintahkan kita untuk makan, tidur, dan berlari menyelamatkan diri ketika situasi mengancam keselamatan hidup kita. Disebabkan kerja otaklah kita mampu bertahan ketika menghadapi kondisi alam yang ekstrem, seperti kepanasan atau kedinginan. Otak jugalah yang membuat manusia mampu menjelajahi ruang angkasa dan kedalaman samudera. Dengan kata lain, otak adalah modal utama manusia untuk bertahan hidup, menjadi lebih baik, dan membongkar rahasia alam semesta. Dan, otak juga yang membedakan kualitas manusia yang satu dengan yang lain sehingga yang satu layak dibayar lebih tinggi dibandingkan dengan lainnya. Satu yang harus selalu diingat adalah bahwa alat yang menakjubkan, yang kita sebut otak ini bisa berkarat dan tumpul jika tidak digunakan. Oleh karenanya, tidak heran jika harga otak yang terlatih dengan otak yang tidak terlatih memang berbeda.
Otak manusia terdiri atas 1000 juta sel. Setiap sel berhubungan dengan sekurang-kurangnya 10 sel yang berbeda untuk fungsi yang berbeda pula. Pada umumnya otak mempunyai lima bagian utama, yaitu: otak besar (serebrum), otak tengah (mesensefalon), otak kecil (serebelum), sumsum sambung (medulla oblongata), dan jembatan varol.  Otak besar mempunyai fungsi dalam pengaturan semua aktifitas mental, yaitu yang berkaitan dengan kepandaian (intelegensi), ingatan (memori), kesadaran, dan pertimbangan. Otak besar merupakan sumber dari semua kegiatan atau gerakan sadar atau sesuai dengan kehendak, walaupun ada juga beberapa gerakan refleks otak. Pada bagian korteks serebrum yang berwarna kelabu terdapat bagian penerima rangsang (area sensor) yang terletak di sebelah belakang area motor yang berfungsi mengatur gerakan sadar atau merespon rangsangan. Selain itu, terdapat area asosiasi yang menghubungkan area motor dan sensorik. Area ini berperan dalam proses belajar, menyimpan ingatan, menarik kesimpulan, dan belajar berbagai bahasa. Di sekitar kedua area tersebut terdapat bagian yang mengatur kegiatan psikologi yang lebih tinggi. Misalnya, bagian depan merupakan pusat proses berpikir (yaitu mengingat, menganalisis, berbicara, berkreasi) dan emosi. Pusat penglihatan terdapat di bagian belakang.

Otak tengah (mesensefalon), otak tengah terletak di depan otak kecil dan jembatan varol. Di depan otak tengah terdapat talamus dan kelenjar hipofisis yang mengatur kerja kelenjar-kelenjar endokrin. Bagian atas (dorsal) otak tengah merupakan lobus optikus yang mengatur refleks mata seperti penyempitan pupil mata, dan juga merupakan pusat pendengaran. Otak kecil (serebelum), mempunyai fungsi utama dalam koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar, keseimbangan, dan posisi tubuh. Bila ada rangsangan yang merugikan atau berbahaya, gerakan sadar yang normal tidak mungkin dilaksanakan.
Para linguis membagi otak manusia menjadi dua bagian, yaitu belahan otak kiri (left hemisphere) dan belahan otak kanan (right hemisphere). Otak belahan kiri berhubungan dengan logika, analisis, bahasa, rangkaian (sequence), dan matematika. Belahan otak kiri ini merespon masukan yang membutuhkan kemampuan mengupas/meninjau (critiquing), menyatakan (declying), menganalisis, menjelaskan, berdiskusi, dan memutuskan (jugdjing). Sementara itu, belahan otak kanan berkaitan dengan ritme, kreativitas, warna, imajinasi, dan dimensi. Oleh karenanya, belahan otak ini berfungsi kalau manusia beraktivitas, misalnya menggambar, menunjuk, memeragakan, bermain, berolahraga, bernyanyi, dan beraktivitas motorik lainnya, termasuk di dalamnya aktivitas menulis.

Perpustakaan Sekolah
Selanjutnya adalah lingkungan sekolah yang kondusif. Artinya, setiap anggota masyarakat sekolah hendaknya mengedepankan aspek atau budaya membaca di lingkungannya. Hal ini dapat dilakukan dengan menggairahkan kembali perpustakaan sebagai tempat yang nyaman untuk belajar di waktu istirahat.
Kebanyakan perpustakaan yang ada di sekolah, seringkali hanya dijadikan ajang atau tempat menghukum bagi peserta didik yang terlambat dan melanggar peraturan sekolah lainnya. Peserta didik yang terlambat dimasukkan ke ruang perpustakaan untuk dihukum dan diberi nasehat oleh guru bimbingan konseling (BK).
Parahnya, di sekolah-sekolah yang belum terkondisi budaya membacanya seringkali ditemui buku-buku yang mulai menguning, dimakan rayap, rusak dan tidak teratur. Tidak adanya penjaga perpustakaan menambah semakin tidak nyamannya kondisi perpustakaan.
Perpustakaan hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku paket yang dibagikan setiap tahun kepada peserta didik. Bahkan pintu perpustakaan seringkali tertutup rapat dan dikunci karena tidak ada pengunjung.
Guru-guru di sekolah hendaknya mengajarkan dan merangsang peserta didik untuk belajar membaca dan menulis. Hal yang dapat dilakukan adalah, guru memberi tugas kepada peserta didik untuk membaca sebuah buku dan merangkumnya atau menilai buku tersebut sesuai dengan kemampuan peserta didik. Dengan memberi tugas untuk mencari dan membaca buku-buku dan menuliskannya kembali akan dapat melatih peserta didik kreatif.
Hal ini terutama dapat dilakukan oleh guru Bahasa Indonesia. Sebagaimana diketahui, guru Bahasa Indonesia seringkali mengajarkan peserta didiknya hal-hal yang sebenarnya sudah dipahami oleh peserta didiknya. Tidak aneh jika banyak kritik yang dilayangkan kepada guru Bahasa Indonesia, bahwa ia hanya mengajarkan bahasa yang sehari-hari sudah dipelajari dari orangtuanya. Guru bahasa Indonesia miskin strategi pembelajaran, sehingga, peserta didik semakin tidak paham dan jauh dari karya sastra bahasa Indonesia.
Murid-murid SD-SMA sekarang sudah tidak lagi mengenai siapa Sutan Takdir Ali Syahbana, Hamka dan karya-karyanya. Mereka lebih mengenal tokoh-tokoh kartun seperti Sinchan, Conan dan tokoh komik lainnya. Karya sastra pujangga Indonesia hanya menjadi sekadar soal ujian yang dihafal tanpa dipelajari dan diambil pelajarannya (petuah bijaknya).
Berikutnya pihak yang harus mulai melakukan gerakan gemar membaca dan menulis adalah masyarakat. Di beberapa wilayah kota dan pelosok desa banyak ditemui papan koran umum dan mading (majalah dinding). Dengan bekal ini masyarakat bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Membaca koran harian dan mencoba menuliskannya kembali, kemudian ditempel di mading akan menjadi nilai tersendiri.
Ketika gerakan membaca dan menulis sudah terkondisi sedemikian rupa, maka plagiator dan atau jasa pembuatan skripsi yang membodohkan mahasiswa itu dapat dicegah sejak dini. Gerakan membaca dan menulis juga akan mendorong terciptanya masyarakat yang kritis dan terdidik.

Lebih dari itu, gerakan ini akan mendukung program pemerintah untuk membebaskan masyarakat Indonesia dari buta aksara sebelum tahun 2010, sehingga dapat memenuhi target Millenium Development Goals (MDGs) sebelum 2015.l
Penulis adalah Pendidik di Universitas Muhammadiyah Jember.

lawan katanya adalah buta huruf atau tuna aksara dimana ketidak mampuan membaca ini masih menjadi masalah terutama di negara-negara Asia Selatan, arab, dan Afrika utara (40% sampai 50%). Asia timur dan Amerika selatan memiliki tingkat buta huruf sekitar 10% sampai 15%. Biasanya, tingkat melek aksara dihitung dari persentase populasi dewasa yang bisa menulis dan membaca.

Melek aksara juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan bahasa dan menggunakannya untuk mengerti sebuah bacaan, mendengarkan perkataan, mengungkapkannya dalam bentuk tulisan, dan berbicara. Dalam perkembangan modern kata ini lalu diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis pada tingkat yang baik untuk berkomunikasi dengan orang lain, atau dalam taraf bahwa seseorang dapat menyampaikan idenya dalam masyarakat yang mampu baca-tulis, sehingga dapat menjadi bagian dari masyarakat tersebut.

Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) memiliki definisi sebagai berikut:

Melek aksara adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, mengerti, menerjemahkan, membuat, mengkomunikasikan dan mengolah isi dari rangkaian teks yang terdapat pada bahan-bahan cetak dan tulisan yang berkaitan dengan berbagai situasi.

Kemampuan baca-tulis dianggap penting karena melibatkan pembelajaran berkelanjutan oleh seseorang sehingga orang tersebut dapat mencapai tujuannya, dimana hal ini berkaitan langsung bagaimana seseorang mendapatkan pengetahuan, menggali potensinya, dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat yang lebih luas.

Banyak analis kebijakan menganggap angka melek aksara adalah tolak ukur penting dalam mempertimbangkan kemampuan sumber daya manusia di suatu daerah. Hal ini didasarkan pada pemikiran yang berdalih bahwa melatih orang yang mampu baca-tulis jauh lebih murah daripada melatih orang yang buta aksara, dan umumnya orang-orang yang mampu baca-tulis memiliki status sosial ekonomi, kesehatan, dan prospek meraih peluang kerja yang lebih baik. Argumentasi para analis kebijakan ini juga menganggap kemampuan baca-tulis juga berarti peningkatan peluang kerja dan akses yang lebih luas pada pendidikan yang lebih tinggi.

Sebagai contoh di Kerala, India, tingkat kematian wanita dan anak-anak menurun drastis pada tahun 1960an, saat anak-anak gadis terdidik disaat reformasi pendidikan setelah tahun 1948 mulai berkeluarga. Walaupun begitu riset terbaru beragumentasi bahwa hasil yang didapat diatas mungkin lebih banyak disumbangkan sebagai hasil dari disekolahkannya anak-anak tersebut dibandingkan dari kemampuan baca-tulisnya saja. Walaupun begitu, diseluruh dunia fokus dari sistem pendidikan tetap merupakan konsep-konsep yang meliputi komunikasi melalui teks dan media cetak, dan hal ini masih merupakan dasar dari definisi melek aksara.

 

 

Masalah Sosial

Pemahaman terhadap keringnya budaya menulis sebagai masalah sosial akan membawa kita pada kenyataan Indonesia di masa lalu yang penuh dengan praktik rezimentasi, pembentukan mental serdadu-penyeragaman, tidak hanya pada tataran fisik (seperti pakaian dan sepatu seragam), tapi juga juga penyeragaman terhadap pemikiran (isi otak). Kegiatan diskusi, menulis, dan membaca buku dilarang, sehingga potensi kreativitas yang dimiliki golongan muda tidak pernah kunjung aktua

Menulis sesungguhnya adalah kompleksitas berpikir yang terentang dalam tali otak kanan dan kiri. Bawah sadar dan sadar. Bahkan jika dicermati kecakapan berpikir bawah sadar lebih dominan daripada berpikir sadar. Hal ini, didasari fenomena bahwa proses kepenulisan seringkali berlangsung dalam wilayah bawah sadar. Dalam proses kreatif sering dipahami sebagai peristiwa mooding.

Menulis belum menjadi budaya masyarakat memang sangat menyedihkan. Menurut Muchtar Bucheri, kemampuan baca tulis masyarakat Indonesia (36%) berada di urutan kedua setelah Venezuela (33,9%), sedangkan rasio membaca Indonesia dan negara berkembang lainnya 1 buku untuk 4 orang; negara maju, 4 buku satu orang (Djojonegoro 1995). Sementara itu, data terbaru yang dilansir oleh Taufik Ismail menyebutkan bahwa perbandingan buku yang wajib dibaca dalam waktu tiga tahun di sekolah, di ruang perpustakaan menunjukkan bahwa di Thailand Selatan siswa membaca 5 judul, di Malaysia 6 judul, Rusia 12, Kanada 13 judul, di Jepang 15, di Swiss 15, dan Jerman 22, di Perancis 20 buku, Belanda 20 buku, di Amerika 30 judul buku, dan di Indonesia nol buku baik di desa muapun di kota sejak 1983-2006. (Republika, 20 Februari 2008).
Masyarakat Indonesia sebagian besar memang masih senang melanggengkan budaya oral. Sejak dulu masyarakat kita memang dikenal sebagai masyarakat pencerita. Hal ini dapat dilihat dari bukti sejarah bahwa dalam budaya kita dikenal adanya pencerita yaitu orang yang bercerita tentang tatanan kehidupan, nasihat dll, sehingga terbentuklah cerita rakyat (folklore). Di masa perjuangan lahirlah orator-orator ulung sekelas Bung Karno, atau Bung Tomo. Namun, tak tahukah Anda bahwa orang yang lidahnya tajam, berbeda dengan orang yang penanya tajam, setidaknya begitulah pendapat Qoris Tajudin, dalam talk show yang digelar oleh mahasiswa FISIP UI tersebut.
Sesungguhnya, tak kurang-kurang pemerhati budaya dan pendidikan mengembar-gemborkan budaya menulis dan membaca. Apabila dikaji lebih dalam, menulis ternyata menyimpan segudang kekuatan. Menulis, dalam hal ini tidak hanya menuangkan isi kepala ke dalam berlembar-lembar kertas. Menulis disinyalir dapat meningkatkan kecerdasan. Untuk dapat mengumpulkan dan menyusun kata-kata menjadi sebuah rangkaian kalimat dan paragraf, yang akhirnya menjadi tulisan yang padu; seseorang harus memiliki ilmu yang cukup. Namun, bagi pemula tidak perlu khawatir sebab menulis juga merupakan sebuah proses berpikir, dan mengasah otak pun memerlukan waktu, bukan sebuah pekerjaan instan. Aktivitas menulis, yang merangkaikan kalimat menjadi sebuah paragraf yang kohesif dan koheren, membutuhkan kerjasama otak yang harmonis. Aktivitas menulis membuat kita belajar untuk berpikir logis dan analitis.

Dalam sebuah proses penulisan akan ada perunutan masalah mengapa A bisa menjadi B, dan mengapa ketika A bertemu dengan B bisa menjadi C; sehingga dalam proses penulisan tersebut tidak ada lompatan logika. Lebih lanjut, Redaktur Koran Tempo tersebut menyebutkan bahwa tidak ada tulisan yang jelek, yang ada adalah tulisan yang tidak logis.

METODOLOGI PENULISAN

Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif, yaitu tidak menguji hipotesis melainkan hanya mendeskripsikan informasi apa adanya sesuai dengan variabel-variabel yang diteliti. Penulisan karya ini termasuk penelitian dengan pendekatan kualitatif yang datanya dinyatakan dalam keadaan sewajarnya atau apa adanya (naturalistik), tidak diubah dalam bentuk simbol-simbol atau bilangan dengan maksud untuk menemukan kebenaran dibalik data yang objektif dan cukup.
Penelitian ini lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif serta pada nalisis terhadap dinamika hubungan antar fenomena yang diamati dengan menggunakan logika ilmiah. Hal ini bukan berarti pendekatan kualitatif sama sekali tidak menggunakan dukungan data kuantitatif akan tetapi penekanannya tidak pada pengujian hipotesis melainkan pada usaha menjawab pertanyaan penelitian melalui cara-cara berpikir formal dan argumentatif. Banyak penelitian kualitatif merupakan penelitian sampel kecil.
Data atau informasi yang diajring penelitian kualitatif dapat terbentuk gejala yang sedang berlangsung, reproduksi ingatan, pendapat yang bersifat teoritis atau praktis dan lain-lainnya. Data tersebut baik berupa kata atau tindakan, oleh karena itu analisis isi lebih penting. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumenter. Istilah dokumenter atau dokumentasi berasal dari kata dokumen yang berarti barang-barang tertulis. Alat pengumpul datanya disebut form dokumen atau form pencatatan dokumen. Sedangkan sumber datanya berupa catatan atau dokumen. Metode dokumenter dengan demikian berarti upaya pengumpulan data dengan menyelidiki benda-benda tertulis. Benda tertulis tersebut dapat berupa catatan resmi seperti buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, dan lain-lainnya, atau catatan tidak resmi, berupa catatan ekspresif seperti catatan harian, bibliografi dan lain sebagainya.

Kesimpulan
Menulis, yang merupakan kegiatan menumpahkan ide, gagasan, dan perasaan lewat tulisan; sudah barang tentu tidak bisa berlepas diri dari peran otak. Tulisan adalah sebuah ”permainan bebas” unsur-unsur bahasa dalam komunikasi. Ia juga sebuah proses perubahan makna secara terus-menerus. Untuk dapat menuangkan ide dan gagasan dalam ”permainan” tersebut diperlukan keahlian untuk menuangkannya secara tertib dan tertata. Dan yang bertanggung jawab dalam pengurutan dan keteraturan adalah otak belahan kiri. Sementara itu, otak belahan kanan bertugas mengatur imajinasi dan kreativitas. Apabila kedua belahan itu dapat bersinergi, tak khayal lagi otak akan berkembang secara seimbang. Menulis juga dapat mempercepat pematangan right hemisfer, dan dapat berpengaruh ke left hemisfer karena adanya cross-over dari kanan ke kiri dan sebaliknya yang sangat kompleks dari jaras-jaras neuronal di otak. Polarisasi keseimbangan otak tersebut adalah kemudahan dalam mengembangkan kecerdasan-kecerdasan yang lain, seperti kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Selain itu, informasi dapat diserap dan diproses dengan lebih efektif.

Budaya baca-tulis yang kuat ternyata dapat mempercepat proses terciptanya komunitas terdidik dengan kesempatan belajar yang tak terbatas, mempercepat penjalaran dan pembiakan pengetahuan serta mendorong terciptanya ruang-ruang kreativitas baru bagi masyarakat dalam menghadapi tantangan hidup sehingga terbentuk manusia-manusia yang cerdas hanya dengan melalui pengembangan budaya baca-tulis. Telaah lebih jauh memperlihatkan bahwa anak yang biasa atau gemar membaca  terbukti jauh lebih pandai, serta memiliki IQ dan EQ yang lebih tinggi daripada anak yang kurang banyak membaca. Anak yang senang membaca mempunyai penalaran dan tingkat kecerdasan yang jauh di atas rata-rata kelas, dan tingkat emosionalnya sangat seimbang. Bahkan dalam melakukan ”problem solving” rata-rata lebih logis pemikirannya, disertai dengan bahasa yang runtut dan santun.

Dapat di simpulkan bahwa ada keterkaitan penting antara penalaran , membaca dan menulis dalam setiap kegiatan kita untuk berkomunikasi baik dalam bentuk lisan ataupun tulisan karena di setiap jenjang pendidikan yang di mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi dan dalam proses kita berkomunikasi semua itu jadi bagian paling penting yang dapat membantu dan mempermudah kita dalam berkomunikasi baik secara lisan ataupun tulisan.

Saran

Bertitik tolak dari hasil pembahasan, maka dapat dikemukan saran-saran yang kiranya dapat berguna:
1. menumbuhkan minat baca sehingga dapat merangsang otak untuk bekerja, berfikir dan dapat meningkatkan kecerdasan, karena din setiap buku ataupun tulisan yang kita baca terkandung ilmu dan informasi yang penting.

2. pemerintah harus menyediakan sarana dan prasarana yang memadai agar bisa membantu meningkatkan kreatifitas dan daya fikir dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Saifuddin. 2005. Metode Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Depdiknas. 2006. Kurikulum SD/MI Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta : Depdiknas.
Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning. Jakarta : Gramedia.
Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Rofi’uddin, Ahmad, dkk. 1999. Pendidikan Bahasa Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta : Depdikbud.
Rostiyah, N.K. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Wibowo, Teguh. 2004. Cinta Bahasa Kita 6. Jakarta : Ganeca Exact.
Edu-articles.com-Situs Pendidikan Indonesia’>>Berbagai jenis Media Pembelajaran-Edu-ar.

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Januari 2012 in Education

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: